Ekonomi Tumbuh, Lapangan Kerja Terbatas: Ke Mana Arah Pembangunan Indonesia?

Mahasiswa Universitas Pamulang Prodi Pendidikan Ekonomi
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari LuluAtul Al Insani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pertumbuhan ekonomi sering dianggap sebagai tanda bahwa suatu negara sedang berkembang. Ketika produksi, investasi, dan aktivitas ekonomi meningkat, pertumbuhan ekonomi pun ikut naik. Namun, menurut saya, hal yang perlu diperhatikan adalah apakah pertumbuhan tersebut sudah mampu menciptakan pekerjaan yang cukup dan berkualitas bagi masyarakat.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa pada Februari 2026, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Indonesia berada di angka 4,68 persen, turun dari 4,76 persen pada Februari 2025. Jumlah penduduk yang bekerja juga mencapai 147,67 juta orang, meningkat sekitar 1,9 juta orang dibandingkan tahun sebelumnya.
Data tersebut menunjukkan bahwa penyerapan tenaga kerja mengalami perkembangan positif. Jadi, persoalannya bukan hanya apakah lapangan kerja bertambah atau berkurang, tetapi pekerjaan seperti apa yang tersedia dan apakah pekerjaan tersebut mampu memberikan kehidupan yang layak.
Memiliki pekerjaan belum tentu membuat seseorang berada dalam kondisi ekonomi yang baik. Pendapatan yang terbatas, jam kerja yang tidak menentu, dan minimnya kepastian kerja masih menjadi persoalan bagi sebagian pekerja. Karena itu, pembangunan ekonomi seharusnya tidak hanya mengejar jumlah orang yang bekerja, tetapi juga meningkatkan kualitas pekerjaan.
Persoalan ini juga penting bagi generasi muda. Banyak lulusan baru harus bersaing di tengah perubahan kebutuhan industri yang semakin cepat. Perkembangan teknologi dan digitalisasi memang membuka pekerjaan baru, tetapi juga membuat beberapa pekerjaan berubah dan membutuhkan keterampilan yang berbeda.
Menurut saya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa pembangunan ekonomi perlu berjalan bersama dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan lulusan, tetapi juga perlu membekali mereka dengan keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.
Hal ini berkaitan dengan bonus demografi Indonesia. Banyaknya penduduk usia produktif dapat menjadi peluang besar jika didukung pendidikan, keterampilan, dan kesempatan kerja yang memadai. Namun, jika kesempatan tersebut terbatas, bonus demografi justru dapat menjadi tantangan.
BPS juga mencatat bahwa sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menjadi sektor dengan jumlah tenaga kerja terbesar pada Februari 2026, yaitu sekitar 42,49 juta orang atau 28,78 persen dari penduduk bekerja. Hal ini menunjukkan bahwa sektor tersebut masih penting bagi perekonomian Indonesia. Di sisi lain, Indonesia juga perlu mengembangkan sektor dengan produktivitas dan nilai tambah yang lebih tinggi agar dapat menciptakan pekerjaan dengan prospek yang lebih baik.
Menurut saya, pemerintah, dunia pendidikan, dan dunia usaha perlu bekerja lebih erat. Pelatihan kerja harus disesuaikan dengan kebutuhan industri, pendidikan perlu mengikuti perkembangan keterampilan, dan UMKM juga perlu mendapat dukungan karena memiliki peran dalam menyediakan lapangan pekerjaan.
Pada akhirnya, pertumbuhan ekonomi dan lapangan kerja harus berjalan bersama. Keberhasilan pembangunan bukan hanya ketika angka pertumbuhan ekonomi meningkat, tetapi ketika pertumbuhan tersebut mampu menciptakan pekerjaan yang produktif, memberikan penghasilan yang layak, dan membuka kesempatan bagi masyarakat untuk memiliki kehidupan yang lebih baik.
