Lawang Sewu: Ketika Sejarah Berjumpa Teknologi Modern

Caitlyn Olivia Sjafei, kelahiran Bandung 2008. Siswi kelas X SMA Trinitas Bandung. Aktif sebagai jurnalis di SMA Trinitas
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Caitlyn Olivia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan


Lawang Sewu merupakan salah satu bangunan bersejarah paling ikonik di Semarang. Dibangun pada tahun 1904 oleh pemerintah kolonial Belanda sebagai kantor Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij (kantor pusat Perusahaan Kereta Api Hinda Belanda), bangunan ini terkenal dengan jumlah pintunya yang sangat banyak, sehingga disebut ‘Lawang Sewu’ atau dalam Bahasa Indonesia ‘Seribu pintu’. Pada masa pendudukan Jepang, gedung ini pernah digunakan sebagai markas militer, dan beberapa ruang bawah tanahnya menjadi saksi peristiwa Pertempura Lima Hari di Semarang. Setelah itu, Lawang Sewu sempat terbengkalai, namun akhirnya ditetapkan sebagai cagar budaya oleh pemerintah sebagai Warisan Budaya Nasional pada tahun 1992 yang menjadi simbol sejarah perkembangan perkeretaapian di Indonesia.
Setelah menjadi cagara budaya, Lawang Sewu menjadi tempat wisata yang selalu ramai dikunjungi. Selayaknya tempat wisata bersejarah lainnya, Lawang Sewu yang dikunjungi baik penduduk lokal maupun asing selalu menyediakan tour guide, maupun literatur deskriptif yang menceritakan sejarah Lawang Sewu. Hal menariknya kini, beradaptasi dengan perkembangan zaman, Lawang Sewu menghadirkan wahana magical immersive, yaitu pengisahan sejarah Lawang Sewu melalui video 360° di lantai bawah gedung Lawang Sewu. Melalui proyeksi, dan efek cahaya modern, pengunjung dapat merasakan kembali suasana masa zaman Belanda, aktivitas pekerja kereta api, dan berbagai kisah-kisah bersejarah lain yang pernah terjadi di gedung tersebut.
Inovasi wahana magical immersive ini menunjukkan bagaimana teknologi dapat berjalan berdampingan dengan pelestarian budaya tanpa merusak atau mengubah unsur asli Lawang Sewu. Teknologi ini digunakan sebagai penghubung untuk membantu generasi muda dan wisatawan memahami sejarah dengan cara yang lebih menarik, namun tetap menghormati bangunan tradisionalnya dengan tetap menjaga keaslian arsitekturnya. Kolaborasi ini menunjukkan bagaimana sejarah dapat dilestarikan dan diperkenalkan secara kreatif di era modern ini.
