Konten dari Pengguna

Hikmah Dibalik Anjloknya IHSG

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Luqman Nurhisam tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Market Crash/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Market Crash/Shutterstock

Jumat lalu, 16 Oktober 2026, pasar saham Indonesia mengalami salah satu hari terburuknya. IHSG ditutup anjlok 11,57 persen ke level 5.185, dengan 812 saham melemah dan hanya 11 yang menguat. Perdagangan sudah dihentikan sementara sejak pembukaan pasar. Banyak investor yang khawatir dan panic, apakah ini akan berlangsung lama atau nantinya akan reda dengan sendirinya. Meski IHSG sata ini berjalan menguat kembali, namun tak bisa dipungkiri persoalan ini akan terulang kembali jika tidak segera berbenah.

Pemicu dan Akar Persoalan

Pemicu langsungnya adalah MSCI. Penyedia indeks global itu mengumumkan akan membuka konsultasi pasar atas usulan menurunkan klasifikasi pasar modal Indonesia dari Emerging Market ke Standalone Market. Bagi investor awam, urusan klasifikasi ini terdengar teknis. Bagi dana global yang portofolionya mengacu pada indeks MSCI, perubahan klasifikasi menentukan apakah mereka wajib atau boleh memegang saham Indonesia. Pasar tidak menunggu hasil konsultasi. Ia menjual lebih dulu.

Persoalan ini sudah lama kita lihat. Pada Januari 2026, IHSG anjlok ketika MSCI mengumumkan hasil konsultasi soal free float saham Indonesia. Dalam dua hari perdagangan, indeks sempat jatuh hingga 16,7 persen. Kala itu MSCI membekukan sementara perubahan indeks untuk saham Indonesia, sehingga tidak ada penambahan saham maupun kenaikan bobot. Pasar juga dikejutkan oleh mundurnya pimpinan BEI dan OJK. Pada Juni, MSCI memang mempertahankan status emerging market, tetapi menegaskan bahwa status itu bergantung pada reformasi nyata soal aksesibilitas pasar dan transparansi kepemilikan.

Pesannya konsisten sejak awal. MSCI tidak mempersoalkan ukuran ekonomi Indonesia. Yang mereka pertanyakan adalah kualitas pasarnya: seberapa transparan struktur kepemilikan saham, seberapa besar porsi saham yang benar-benar beredar di publik, dan seberapa mudah investor global masuk dan keluar. Ini isu tata kelola, dan tata kelola tidak bisa diselesaikan dengan komunikasi yang menenangkan.

Pengaruh Faktor Eksternal

Tentu ada faktor di luar kendali, dan akan tidak jujur kalau semuanya ditimpakan ke dalam negeri. Sepanjang Oktober, pasar tertekan eskalasi konflik Timur Tengah dan kekhawatiran bahwa kenaikan harga minyak mendorong inflasi global serta menahan penurunan suku bunga. Pada 16 Oktober, inflasi Amerika Serikat dan konflik Yaman ikut membayangi.

Rupiah juga ikut tertekan. Mata uang kita dilaporkan menembus Rp18.052 per dolar AS. Rupiah yang lemah dan saham yang jatuh saling memperkuat. Investor asing menjual saham, permintaan dolar naik, rupiah melemah, dan pelemahan itu mendorong lebih banyak lagi aksi jual.

Tetapi faktor global menimpa banyak negara berkembang, sedangkan kejatuhan sedalam ini tidak. Tekanan eksternal menjelaskan mengapa pasar goyah. Persoalan MSCI menjelaskan mengapa pasar kita jatuh jauh lebih dalam.

Padahal jutaan investor ritel baru masuk pasar dalam beberapa tahun terakhir. Dana pensiun, asuransi, dan reksa dana memegang saham di dalamnya, sehingga penurunan tajam ikut menggerus nilai tabungan jangka panjang masyarakat. Pasar modal juga jalur pendanaan bagi perusahaan. Ketika kepercayaan runtuh, biaya modal naik, rencana ekspansi tertunda, dan ujungnya terasa di lapangan kerja. Jatuhnya nilai tukar membuat impor, termasuk bahan baku industri, makin mahal.

Apa yang Harus Dilakukan?

Pertama, terima bahwa kritik MSCI soal transparansi dan free float adalah masukan substantif, bukan serangan. Menyalahkan lembaga indeks asing hanya mengalihkan perhatian. Langkah perbaikan harus konkret dan bisa diverifikasi, termasuk keterbukaan data kepemilikan akhir dan aturan free float yang jelas.

Kedua, penegakan hukum harus konsisten dan terlihat. Laporan bahwa Kapolri mengerahkan Bareskrim untuk mengusut pelanggaran pasar modal dan desakan Ketua DPR agar BEI melakukan perbaikan dan mengakomodasi laporan MSCI adalah sinyal awal yang baik. Tetapi investor menilai hasil, bukan pernyataan. Kasus yang diusut harus tuntas, dan aturan harus berlaku sama bagi emiten kecil maupun grup konglomerasi besar.

Ketiga, koordinasi kebijakan antara OJK, BEI, Bank Indonesia, dan pemerintah harus jelas dan satu suara. Pasar yang panik paling cepat membaca ketidakselarasan antarlembaga.

Keempat, edukasi investor ritel. Mereka paling rentan menjual di titik terendah, dan komunikasi publik yang tenang, jujur, dan berbasis data jauh lebih berguna daripada imbauan “jangan panik” tanpa penjelasan.

Sebagian pelaku pasar menilai reaksi pasar berlebihan, karena konsultasi MSCI baru sebatas usulan dan proses reklasifikasi biasanya memakan waktu lama. Fundamental ekonomi Indonesia, seperti yang berulang kali disampaikan pemerintah, juga tidak runtuh dalam sehari. Penurunan 11,57 persen dalam satu hari mungkin mencerminkan sentimen dan likuiditas yang menipis lebih dari perubahan nilai riil perusahaan. Namun justru karena itulah pasar mudah jatuh: ia bergerak mengikuti ekspektasi, dan ekspektasi hanya bisa dipulihkan dengan bukti.

Tidak perlu saling menyalahkan antara pasar, regulator, dan lembaga asing. Pelajaran terpentingnya sederhana: modal global berpindah ke tempat yang aturannya jelas, datanya terbuka, dan penegakannya konsisten. Membangun reputasi itu butuh bertahun-tahun, sementara kehilangannya hanya butuh satu hari. Pilihannya ada pada kita, apakah kejatuhan ini dibaca sebagai alarm untuk reformasi sungguhan atau sekadar badai yang menunggu reda.