Konten dari Pengguna

Menakar Arah Harga Minyak di Tengah Eskalasi Konflik Timur Tengah

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Luqman Nurhisam tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

21 Oktober 2026, harga minyak melampaui 110 dolar per barel, didorong kekhawatiran pasokan dan turunnya persediaan di Amerika Serikat. Angka ini lazim dibaca sebagai reaksi pasar terhadap berita buruk. Yang kita saksikan adalah pergeseran rezim harga, konflik tidak lagi menjadi gangguan eksogen yang datang sesekali, melainkan variabel struktural dalam pembentukan harga. Selama belum ada penyelesaian politik yang kredibel, harga minyak akan bertahan tinggi dengan volatilitas besar, dan anggapan bahwa pasar akan menyesuaikan diri dengan sendirinya terlalu optimistis.

Ilustrasi Grafik Permintaan dan Penawaran Minyak Mentah (BRENT) Dunia/Gemini Google AI/Diolah Penulis
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Grafik Permintaan dan Penawaran Minyak Mentah (BRENT) Dunia/Gemini Google AI/Diolah Penulis

Dari Guncangan Transien ke Guncangan Persisten

Guncangan transien membuat harga kembali ke keseimbangan dalam waktu singkat. Guncangan persisten menggeser ekspektasi pelaku pasar tentang kondisi masa depan, sehingga harga dasar ikut bergeser. Data tahun ini condong ke jenis kedua.

Pada Maret, Brent melonjak 9,3 persen dalam sehari ke sekitar 100 dolar per barel ketika perang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Pada Juli, harga sempat tergelincir setelah melonjak lebih dari 25 persen, tetapi koreksi itu tidak pernah mengembalikannya ke level prakonflik. Awal Oktober menambah lapisan baru: Houthi meningkatkan serangan ke Arab Saudi dan dua tanker diserang dalam satu akhir pekan, mendorong Brent ke sekitar 105 dolar. Pola ini menunjukkan koreksi yang selalu parsial dan eskalasi yang selalu kembali.

Titik Sempit dan Risiko yang Tidak Linier

Hubungan antara konflik dan harga tidak linier. Risiko terkonsentrasi pada titik sempit (chokepoint) seperti Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb, yang dilintasi sekitar 12 persen perdagangan dunia. Pada titik semacam ini, kenaikan kecil dalam probabilitas gangguan besar menghasilkan lonjakan harga yang tidak proporsional. Fungsi harganya cembung (convex).

Pasar tidak sekadar menghitung barel yang hilang. Pasar menghitung biaya asuransi, pengalihan rute, keterlambatan pengiriman, dan hilangnya kepastian. Karena itu, serangan terhadap tanker di sekitar Selat Hormuz sepanjang Oktober mengancam pemulihan ekspor Timur Tengah yang terlihat pada September. Pemulihan itu ternyata rapuh, dan pasar tahu betul kerapuhannya. Itulah sebabnya premi risiko tidak lagi hilang ketika situasi tampak tenang.

Elastisitas Rendah, Penyangga Menipis

Dalam jangka pendek, baik permintaan maupun penawaran minyak bersifat inelastis. Konsumen tidak bisa serta-merta berhenti memakai bahan bakar, dan produsen tidak bisa menambah kapasitas dalam hitungan pekan. Dalam kondisi ini, penyangga persediaan menjadi peredam utama guncangan.

Penyangga itu sedang menipis. Persediaan minyak mentah komersial Amerika Serikat sempat turun ke level terendah sejak 2018. Badan Informasi Energi AS (EIA) menaikkan proyeksi harga untuk 2026 dan 2027 karena persediaan global menyusut akibat berkurangnya pasokan dari Timur Tengah. Pada saat yang sama, permintaan Tiongkok menunjukkan tanda awal pemulihan. Ketika stok tipis, guncangan tidak diserap oleh persediaan, melainkan oleh harga.

Kontra-Argumen dan Keterbatasannya

Pandangan optimistis patut ditimbang serius. Goldman Sachs mempertahankan skenario dasar bahwa adaptasi pasokan Timur Tengah pada akhirnya akan menurunkan harga minyak mentah, meski eskalasi baru tetap membawa risiko kenaikan yang signifikan. Secara teoretis, ada tiga mekanisme koreksi: peningkatan produksi di luar kawasan konflik, pembukaan jalur ekspor alternatif, dan penghancuran permintaan (demand destruction) akibat harga tinggi.

Kelemahan argumen ini terletak pada skala waktu. Ketiga mekanisme tersebut bekerja dalam horizon kuartalan hingga tahunan, sedangkan eskalasi bergerak dalam horizon hari dan pekan. Ketidaksesuaian skala waktu inilah yang menjelaskan mengapa harga terus berayun meski mekanisme koreksi sebenarnya ada. Lagipula, penghancuran permintaan bukan kabar baik: ia berarti harga turun karena ekonomi melambat, bukan karena ancaman berkurang.

Tiga Skenario

Skenario pertama, kebuntuan berkepanjangan. Eskalasi terakhir meningkatkan kemungkinan konfrontasi berlarut-larut yang diselingi aksi militer terukur oleh Amerika Serikat dan Iran. Inilah skenario yang paling mungkin: harga bertahan di kisaran tinggi dengan ayunan tajam.

Skenario kedua, de-eskalasi melalui kesepakatan. Ini hasil terbaik bagi pasar, tetapi rekam jejaknya buruk. Reli Juli dipicu gagalnya upaya kesepakatan damai sementara antara Amerika Serikat dan Iran. Perencanaan kebijakan tidak boleh bersandar pada harapan ini.

Skenario ketiga, perluasan perang hingga mengganggu arus Hormuz secara serius. Probabilitasnya lebih rendah, tetapi dampaknya paling besar. Justru karena ekor distribusinya tebal, skenario ini wajib masuk dalam manajemen risiko.

Implikasi bagi Indonesia

Indonesia adalah importir bersih minyak, sehingga guncangan harga merambat melalui empat kanal: neraca perdagangan, nilai tukar, beban fiskal (subsidi dan kompensasi energi), serta inflasi lewat biaya logistik dan pangan. Asumsi harga minyak dalam anggaran negara yang disusun dengan perhitungan lebih konservatif kini tertinggal jauh dari realitas pasar.

Ada empat langkah yang cukup mendesak yang bisa dilakukan. Pertama, diversifikasi sumber dan jalur impor, serta penguatan cadangan penyangga energi, karena ketergantungan pada satu rute adalah kerentanan struktural. Kedua, percepatan elektrifikasi transportasi dan bauran energi terbarukan, bukan sebagai komitmen ekologis semata, tetapi sebagai lindung nilai geopolitik. Ketiga, disiplin fiskal melalui perlindungan sosial yang tepat sasaran, agar subsidi tidak menggerus ruang anggaran. Keempat, komunikasi publik yang jujur tentang batas kemampuan negara menahan harga.

Harga minyak adalah cermin persepsi risiko global. Selama Timur Tengah belum menemukan penyelesaian politik yang dapat dipercaya, cermin itu akan terus memantulkan angka tinggi. Pelajaran analitisnya sederhana: pasar bisa beradaptasi, tetapi adaptasi memerlukan waktu yang tidak dimiliki oleh negara yang rentan terhadap guncangan harian. Negara yang memperlakukan energi murah sebagai hak akan terus terkejut oleh geopolitik. Negara yang memperlakukannya sebagai risiko yang harus dikelola akan memiliki ruang bernapas, apa pun yang terjadi di Selat Hormuz.