Konten dari Pengguna

Adat-Syarak-Kitabullah Masih Sakti atau Mulai Luntur?

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Lusi Rahmadani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kalimat “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah” adalah jati diri orang Minang yang sangat kuat. Berarti adat kita itu berlandaskan agama, dan syariat itu dasarnya Al-Qur’an. Filosofi ini adalah kompas bagi orang Minang berabad-abad lamanya, baik yang tinggal di Ranah Minang ataupun yang merantau ke ujung dunia sekalipun.

Jika kita lihat pada zaman sekarang, terutama di penghujung tahun 2025 ini, rasanya filosofi itu mendapat tantangan yang berat. Kita hidup di zaman yang serba cepat, serba digital, dan serba terbuka. Dunia seperti sudah tidak memiliki sekatnya lagi. Budaya dari Korea, Amerika, sampai gaya hidup bebas ala Barat yang masuk ke HP kita lewat algoritma TikTok, Instagram, dan lainnya tiap detik.

Dulu, di Minangkabau ada sistem sosial yang sangat rapi. Ada Niniak Mamak yang jadi pelindung, ada Alim Ulama yang jadi penerang jalan agama, dan ada Cadiak Pandai yang mengurus urusan intelektual dan ketiganya ini diberi nama “Tigo Jinih”. Setiap ada masalah, bicaranya di surau atau balai adat. Anak muda diajari silat dan mengaji. Intinya, saat itu bimbingan itu nyata dan dilakukan langsung tatap muka.

Sekarang, perannya mulai tergeser oleh influencer dan selebgram. Peran Tigo Jinih itu sering kali hanya muncul kalau ada urusan sengketa tanah ulayat atau acara nikahan. Anak kemanakan sudah jarang duduk melingkar mendengarkan petuah. Komunikasi dalam keluarga pun berubah. Kalau dulu “ Kamanakan barajo ka mamak”, sekarang malah “kamanakan barajo ka Google”. Wibawa para tetua adat dan ulama diuji oleh arus informasi yang begitu bebas. Ketika nasihat mereka dianggap “kuno”, maka di situlah “Adat Basandi Syarak-Syarak Basandi Kitabullah” itu mulai goyah.

Adat Minang itu sangat oriented to social. Gotong royong, musyawarah mufakat, dan rasa malu (raso jo pareso) adalah kuncinya. Tapi era modern sekarang membawa virus yang bernama individualisme.

Orang sekarang lebih sibuk dengan dunianya sendiri. Di perantauan, banyak yang mulai lupa pulang atau bahkan lupa mengirimi kabar. Di kampung pun rasa kepedulian terhadap lingkungan sekitar mulai berkurang. Kalau dulu, jika dihimbau untuk bergotong royong, semua orang datang, tapi sekarang hanya segelintir orang saja yang datang.

Kita sekarang hidup di era di mana batas itu sudah tidak ada lagi. Anak muda Minang bisa saja punya gaya hidup yang mirip dengan anak muda di Los Angeles daripada kakek-buyutnya sendiri. Inilah yang kita sebut dengan globalisasi.

Tidak hanya itu, karena gaya hidupnya menyerupai gaya hidup Barat, maka mereka juga berbelanja mengikuti kualitas barat. Pakaian yang dulunya sopan tertutup, sekarang sudah mulai terbuka. Sopan santun yang dulu mereka junjung tinggi sekarang malah terkikis perlahan-lahan.

Pada zaman sekarang, tantangannya bukan berarti kita harus hidup kuno, tetapi masalahnya pada bagaimana cara kita memilih mana yang baik untuk ditiru dan mana yang akan berdampak buruk jika ditiru. Seringkali kita menelan mentah-mentah apa yang viral di media sosial tanpa menyaringnya melalui segi agama, atau adat. Gaya berpakaian, cara bicara, hingga pergaulan bebas seringkali menabrak aturan Kitabullah, tapi dianggap “biasa” atas nama kebebasan berekspresi.

Kita mempunyai banyak sekolah hebat di Sumatera Barat. Tetapi kita belum tahu apakah nilai-nilai Adat Basandi Syarak-Syarak Basandi Kitabullah itu masuk ke dalam kurikulum yang nyata bukan Cuma hafalan saja.

Seringkali pendidikan formal itu hanya mengejar angka dan nilai ujian saja. Seperti anak-anak dimarahi karena nilai mereka rendah dan dipuji jika tinggi saja. Tetapi saat tata krama nya tidak ada, itu hanya dianggap “ wajar namanya juga anak kecil”, hal ini lah yang membuat anak-anak itu sekolah hanya untuk mengejar nilai saja dan tidak mempedulikan tata krama mereka.

Akibatnya, pemahaman tentang agaman hanya sebatas teori, dan pemahaman tentang adat hanya sebatas seremonial saja. Anak-anak diberi HP untuk meredakan tangis mereka tanpa tahu hal itu akan berdampak kepada mereka.

Dulu, orang Minang sangat menjaga lisannya karena “ Nan elok dek urang, katuju dek awak” ( yang baik menurut orang, berkenan bagi kita”. Lalu ada juga “Kato Nan Ampek” (Kato Mandata, kato Mandaki, Kato malereang, Kato Manurun) adalah empat nada cara kita berbicara kepada orang.

“Kato Mandata” dipakai untuk bebicara dengan yang seumuran. “Kato Maninggi” dipakai untuk berbicara dengan yang lebih tua dari kita. “Kato Manurun” dipakai untuk berbicara dengan yang lebih kecil dari kita. Dan “Kato Malereang” dipakai untuk berbicara dengan para tetua atau Niniak Mamak. Empat nada cara berbicara ini semakin lama semakin dilupakan oleh anak-anak zaman sekarang. Mereka berbicara sesuai dengan mood mereka tanpa memikirkan sopan santunnya.

Minangkabau itu menggunakan sistem matrilineal. Sosok “Bundo Kanduang” adalah tiang tengah bagi Rumah gadang. Namun, globalisasi sekarang membuat peranan itu bergeser. Banyak perempuan minang yang kini berkarir hebat diluat rumah, merantau meninggalkan ranah Minang. Hal ini tentu bagus, tetapi tantangan baru muncul yaitu bagaimana cara menjaga fungsi “Limpapeh Rumah Gadang” itu di tengah kesibukannya.

Pendidikan karakter anak yang dulu menjadi tanggung jawab ibu, kini beralih ke gadget ataupun pengasuh. Jika sosok Bundo Kanduang kehilangan pemahaman tentang nilai ABS-SBK, maka rusaklah regenerasi nilai itu kepada generasi berikutnya. Karena dari rahim dan asuhan ibu Minang lah karakter ABS-SBK itu pertama kali dibentuk.

Kalau kita Cuma meratapi keadaan, maka nilai ABS-SBK itu akan benar-benar punah. Maka kita butuh langkah yang lebih kekinian untuk tetap menyelaraskan budaya dengan teknologi zaman sekarang. Beberapa saran yang terfikirkan oleh saya adalah dengan Rebranding Adat, kita mengemas kembali nilai-nilai adat itu kedalam hal yang disukai Gen Z sekarang seperti melalu film pendek, desain grafis, ataupun musik yang didalamnya terdapat penggabungan dengan nilai-nilai budaya. Lalu supaya para Tigo Jinih tidak tertinggal informasi anak kemanakannya, diadakan pula literasi bagi para tokoh adat tersebut. Supaya saat misal ditanya oleh anak kemanakan mereka yang Gen Z tentang isu-isu terkini, hal itu bisa mereka jawab dan langsung memberikan pemahaman yang mendalam bagi para anak kemanakan mereka tanpa perlu cari di google yang hanya akan membuat mereka menemukan banyak informasi yang tidak jelas sumbernya dan mereka termakan dengan informasi tersebut begitu saja.

Ini adalah ilustrasi Adat, Syarak, Kitabullah di Minangkabau. (Ilustrasi ini dibuat oleh AI).