Konten dari Pengguna

Bahasa Tubuh Kadang Lebih Menyakitkan daripada Kata-Kata

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Lusi Rahmawati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi: Keheningan yang berbicara. Gestur menunduk dan menyembunyikan wajah sering kali menyampaikan luka batin yang jauh lebih dalam daripada untaian kata. Sumber : pixabay.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi: Keheningan yang berbicara. Gestur menunduk dan menyembunyikan wajah sering kali menyampaikan luka batin yang jauh lebih dalam daripada untaian kata. Sumber : pixabay.com

Banyak orang berpikir bahwa komunikasi hanya tentang berbicara. Padahal dalam kehidupan sehari-hari, sikap dan ekspresi seseorang sering kali lebih terasa daripada kata-kata yang diucapkan. Menurut saya, komunikasi nonverbal menjadi hal yang paling berpengaruh dalam hubungan sosial karena manusia cenderung melihat tindakan daripada hanya mendengar ucapan.

Saya sering melihat seseorang berkata, "Aku tidak apa-apa," tetapi wajahnya terlihat kecewa dan nada suaranya berubah. Dari situ sebenarnya orang lain sudah bisa menangkap bahwa ada sesuatu yang disembunyikan. Hal seperti ini membuktikan bahwa komunikasi nonverbal lebih sulit dikendalikan karena muncul secara spontan. Ekspresi wajah, kontak mata, cara duduk, atau bahkan diamnya seseorang bisa menyampaikan banyak makna.

Menurut saya, masalah komunikasi sekarang juga sering muncul karena orang terlalu fokus pada kata-kata dan lupa memperhatikan bahasa tubuh. Contohnya adalah saat berbicara dengan teman, tetapi sambil bermain handphone. Walaupun masih menjawab pertanyaan, sikap tersebut bisa membuat lawan bicara merasa tidak dihargai. Hal kecil seperti itu sering dianggap sepele, padahal bisa memengaruhi hubungan dengan orang lain.

Selain itu, komunikasi nonverbal juga sangat terlihat di media sosial dan kehidupan modern sekarang. Banyak orang terlihat ramah lewat chat, tetapi berbeda saat bertemu langsung. Ada juga orang yang sulit mengungkapkan perasaan lewat kata-kata, namun sebenarnya terlihat dari ekspresi dan perilakunya. Karena itu, memahami komunikasi nonverbal membuat seseorang lebih peka terhadap kondisi sekitar.

Saya berpendapat bahwa kemampuan membaca bahasa tubuh penting dimiliki oleh semua orang, terutama dalam pertemanan, keluarga, dan pekerjaan. Tidak semua perasaan bisa dijelaskan lewat ucapan. Kadang perhatian sederhana seperti senyuman, tatapan mata, atau nada bicara yang lembut justru lebih berarti daripada kalimat panjang.

Kesimpulannya, komunikasi nonverbal memiliki pengaruh besar dalam kehidupan manusia. Bahasa tubuh dapat memperkuat, melemahkan, bahkan bertolak belakang dengan ucapan seseorang. Oleh sebab itu, kita harus lebih sadar bahwa cara bersikap juga merupakan bentuk komunikasi yang dapat memengaruhi hubungan kita dengan orang lain.