Konten dari Pengguna

Perang Tarif Trump: Benih Konflik Global Baru?

Lusiana Desy Ariswati

Lusiana Desy Ariswati

I am a management lecturer at the Faculty of Economics Mulawarman University. In addition to teaching, I also have a passion for writing and conducting research.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Lusiana Desy Ariswati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: diolah oleh penulis
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: diolah oleh penulis

Di tengah gejolak ekonomi global, kebijakan trade war Presiden Donald Trump di tahun 2025 telah menyalakan alarm bell di seluruh dunia. Tanpa peringatan, Amerika Serikat memberlakukan tarif tinggi untuk hampir semua produk impor, memicu backlash keras dari China. Negara superpower ini kini saling balas menaikkan tarif hingga ratusan persen, menciptakan ketegangan yang mengguncang pasar global. Bagi pengusaha Indonesia, langkah ini bukan sekadar berita di koran, melainkan ancaman nyata terhadap rantai pasok dan stabilitas bisnis lokal.

Mengapa Trump mengambil langkah ini? Selama 15 tahun terakhir, China telah menjelma menjadi raksasa ekonomi, menggeser dominasi AS sebagai pusat manufacturing dunia. Produk made in China membanjiri pasar global, membuat AS merasa terancam sebagai economic powerhouse. Dengan tarif ini, Trump berupaya memperlambat laju pertumbuhan China yang diprediksi segera melampaui AS. Namun, apakah langkah ini bijak, atau justru membawa dunia ke jurang konflik yang lebih besar?

Jika kita membuka lembaran sejarah, perang tarif bukanlah hal baru. Pada tahun 1930-an, dunia diguncang Great Depression, krisis ekonomi terbesar abad 20. Saat itu, AS memperkenalkan Smoot-Hawley Tariff Act, menaikkan tarif untuk 20.000 produk impor. Tujuannya? Melindungi industri lokal dan mendorong pembelian produk domestik. Hasilnya? Bencana. Negara-negara lain membalas dengan tarif serupa, bahkan memboikot produk AS. Dalam empat tahun, perdagangan dunia anjlok 60%, kapal dagang terhenti, harga melonjak, dan jutaan orang kehilangan pekerjaan.

Krisis ini menciptakan vacuum stabilitas yang memungkinkan munculnya ideologi ekstrem. Di Jerman, Adolf Hitler menawarkan nationalism dan militarism sebagai solusi, menyalahkan kaum Yahudi atas kegagalan ekonomi. Di Jepang, ekspansi militer ke Manchuria dan serangan ke Pearl Harbor dipicu oleh kebutuhan sumber daya akibat trade barriers. Italia di bawah Mussolini pun mengusung fascism, menjanjikan kejayaan melalui kekuatan senjata. Perang dagang yang dimulai di meja perundingan, berakhir di medan perang (Perang Dunia II), yang merenggut puluhan juta nyawa.

Hari ini, dunia seolah mengulang script yang sama. Protectionism Trump mencerminkan langkah AS di era 1930-an, dengan China sebagai lawan utama. Negara-negara lain, termasuk Indonesia, terjebak dalam pusaran ini. Ketika perdagangan terhenti, diplomasi pun meredup. Sumber daya yang dulu diperoleh melalui kerja sama kini bisa diperebutkan melalui kekerasan. Dengan senjata pemusnah massal di tangan banyak negara, akankah trade war ini menjadi trigger konflik global yang lebih dahsyat?

Sejarah memberi peringatan keras: ketika kerja sama antarnegara mati, konflik menjadi tak terelakkan. Pertanyaannya, apakah kita sedang menuju remake tragedi abad 20, hanya dengan twist modern yang lebih mengerikan? Indonesia, sebagai bagian dari ekonomi global, harus bersiap menghadapi gelombang ketidakpastian ini. The clock is ticking dan dunia sedang bermain dengan api.