Konten dari Pengguna

Stunting, Pergaulan Remaja, dan Masa Depan Human Security Indonesia

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari lutfatulamanah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dokumentasi TIM KKN-R 2 UNDIP - SIDOREJO LOR
zoom-in-whitePerbesar
Dokumentasi TIM KKN-R 2 UNDIP - SIDOREJO LOR

Seorang remaja yang duduk di bangku SMA atau SMK mungkin terlihat jauh dari pembahasan mengenai keamanan nasional. Tidak ada konflik bersenjata, tidak ada ancaman lintas batas, dan tidak ada persoalan geopolitik yang secara langsung terlihat di ruang kelas. Namun, dalam perspektif Hubungan Internasional, keamanan tidak selalu hadir dalam bentuk perang atau ancaman militer. Kesehatan, pendidikan, dan kualitas hidup manusia juga menentukan seberapa aman sebuah masyarakat.

Karena itu, stunting dan pergaulan remaja tidak seharusnya dipandang semata sebagai persoalan kesehatan atau perilaku individu. Keduanya dapat ditempatkan dalam kerangka human security, yaitu pendekatan keamanan yang menempatkan manusia sebagai pusat perhatian.

Konsep human security berkembang sebagai kritik terhadap pemahaman keamanan tradisional yang terlalu berfokus pada negara dan ancaman militer. Dalam Human Development Report 1994, UNDP memperluas agenda keamanan dengan menempatkan manusia sebagai objek utama perlindungan. Keamanan mencakup terbebas dari ancaman terhadap kehidupan dan kesejahteraan, termasuk ancaman kesehatan, pangan, ekonomi, lingkungan, serta berbagai bentuk kerentanan sosial.

Dari perspektif tersebut, kesehatan generasi muda bukan sekadar persoalan domestik. Ia merupakan bagian dari kapasitas sebuah negara untuk memastikan bahwa masyarakatnya dapat hidup secara aman dan memiliki kesempatan untuk berkembang.

Stunting menjadi salah satu contoh nyata. Persoalan ini tidak berhenti pada ukuran fisik seorang anak. Kekurangan gizi kronis dapat berkaitan dengan perkembangan kognitif, kemampuan belajar, kesehatan, dan produktivitas dalam jangka panjang. Apabila persoalan tersebut berlangsung secara luas dan tidak ditangani, dampaknya dapat memengaruhi kualitas sumber daya manusia suatu negara.

Dalam konteks hubungan internasional, kualitas sumber daya manusia memiliki arti strategis. Negara tidak hanya membutuhkan wilayah dan institusi yang kuat, tetapi juga masyarakat yang sehat, berpendidikan, dan mampu berpartisipasi dalam pembangunan. Dengan demikian, pencegahan stunting dapat dibaca sebagai bagian dari investasi jangka panjang terhadap ketahanan manusia dan pembangunan nasional.

Hal yang sama berlaku terhadap persoalan pergaulan remaja. Perilaku berisiko pada usia remaja dapat memiliki konsekuensi terhadap kesehatan, pendidikan, dan masa depan sosial seseorang. Namun, melihat persoalan tersebut hanya sebagai persoalan moral individu akan mengabaikan dimensi keamanan manusia yang lebih luas.

Human security menuntut kita untuk melihat kerentanan manusia secara lebih menyeluruh. Remaja hidup dalam lingkungan yang dipengaruhi oleh keluarga, sekolah, teman sebaya, perkembangan teknologi, media digital, serta arus informasi yang semakin tidak mengenal batas negara. Informasi mengenai kesehatan, seksualitas, gaya hidup, dan perilaku sosial dapat bergerak melintasi ruang digital dalam hitungan detik.

Artinya, lingkungan yang membentuk keputusan remaja tidak lagi sepenuhnya bersifat lokal.

Di sinilah isu lokal bertemu dengan dinamika global.

Perkembangan teknologi dan konektivitas digital telah membuat generasi muda menjadi bagian dari ruang sosial transnasional. Mereka dapat mengakses informasi dari berbagai negara, berinteraksi dengan budaya yang berbeda, sekaligus terpapar berbagai bentuk informasi yang tidak selalu memiliki konteks atau tingkat akurasi yang sama.

Karena itu, perlindungan generasi muda membutuhkan pendekatan yang tidak hanya represif, tetapi juga preventif. Pengetahuan menjadi salah satu bentuk perlindungan. Remaja yang memiliki akses terhadap informasi kesehatan yang akurat memiliki kapasitas lebih besar untuk memahami risiko dan mengambil keputusan secara sadar.

Dalam konteks tersebut, mahasiswa KKN multidisipliner melaksanakan sosialisasi mengenai pencegahan stunting dan pergaulan remaja kepada siswa SMA dan SMK di wilayah Sidorejo Lor. Kegiatan ini menjadi bentuk penerjemahan isu human security ke dalam ruang yang paling dekat dengan masyarakat, yaitu sekolah dan komunitas.

Sosialisasi tersebut tidak dimaksudkan sebagai solusi tunggal terhadap persoalan stunting maupun pergaulan remaja. Sebaliknya, kegiatan ini merupakan upaya preventif untuk meningkatkan kesadaran generasi muda mengenai persoalan yang dapat memengaruhi kesehatan dan masa depan mereka.

Sebagai bagian dari keberlanjutan edukasi, kegiatan tersebut juga menghasilkan booklet yang dapat digunakan sebagai media informasi setelah kegiatan sosialisasi selesai. Kehadiran booklet penting karena intervensi berbasis pengetahuan seharusnya tidak berhenti ketika sebuah program berakhir. Informasi perlu tetap tersedia dan dapat diakses kembali oleh siswa.

Perspektif human security juga mengingatkan bahwa kerentanan manusia tidak muncul secara tiba-tiba. Ia sering kali terbentuk melalui akumulasi kondisi sosial, ekonomi, kesehatan, lingkungan, dan akses terhadap informasi.

Karena itu, penyelesaian persoalan stunting dan pergaulan remaja tidak cukup hanya dengan meminta individu mengubah perilakunya. Negara dan masyarakat perlu menciptakan lingkungan yang memungkinkan generasi muda memperoleh informasi yang benar, layanan yang memadai, serta ruang yang aman untuk berkembang.

Agenda tersebut sejalan dengan Sustainable Development Goals, terutama SDG 2 mengenai Zero Hunger, SDG 3 mengenai Good Health and Well-being, dan SDG 4 mengenai Quality Education. Ketiganya menunjukkan bahwa pembangunan manusia merupakan agenda yang saling terhubung. Kesehatan, pendidikan, nutrisi, dan keamanan manusia tidak dapat dipisahkan dalam membangun masyarakat yang resilien.

Pada akhirnya, human security bukan hanya tentang melindungi manusia ketika ancaman sudah terjadi. Human security juga tentang mencegah kerentanan sebelum berkembang menjadi krisis.

Mencegah stunting berarti melindungi kualitas generasi mendatang. Memberikan pendidikan kesehatan kepada remaja berarti memperkuat kemampuan mereka untuk mengambil keputusan. Menyediakan informasi yang akurat berarti memperluas kapasitas manusia untuk melindungi dirinya sendiri.

Karena itu, ruang kelas bukanlah ruang yang terpisah dari agenda keamanan internasional.

Justru di dalam ruang kelas itulah masa depan human security sebuah negara mulai dibentuk.

Sebuah sosialisasi mungkin hanya berlangsung beberapa jam. Sebuah booklet mungkin hanya terdiri dari beberapa halaman. Namun, ketika pengetahuan tersebut membantu seorang remaja memahami kesehatan, risiko, dan masa depannya, intervensi kecil tersebut menjadi bagian dari proses yang lebih besar: membangun manusia yang lebih aman, sehat, dan resilien.

Dan pada akhirnya, keamanan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh seberapa kuat negara menghadapi ancaman dari luar, tetapi juga oleh seberapa serius negara melindungi manusia yang akan menentukan masa depannya.