The World Is Running Out of Places to Hide Its Waste

Mahasiswi Hubungan Internasional Universitas Diponegoro, berfokus pada topik lingkungan serta terrorisme dan human security di Indonesia dan global.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari lutfatulamanahmail tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Mengapa Sampah Rumah Tangga Bukan Lagi Sekadar Persoalan Lokal?

Ada satu hal yang hampir selalu kita lakukan tanpa memikirkannya: membuang sampah. Sisa makanan, plastik, botol, dan berbagai kemasan masuk ke tempat sampah, kemudian diangkut dan menghilang dari pandangan. Persoalan seolah selesai.
Padahal, sampah tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya berpindah tempat.
Kondisi TPA Ngronggo di Kota Salatiga yang menghadapi keterbatasan kapasitas memperlihatkan kenyataan tersebut. Ketika tempat pembuangan tidak lagi mampu menampung volume sampah seperti sebelumnya, persoalan yang selama ini tersembunyi di balik sistem pembuangan kembali muncul ke tengah masyarakat. Krisis ini bukan hanya persoalan teknis pemerintah daerah, tetapi juga cerminan dari cara masyarakat memproduksi dan mengonsumsi.
Sampah rumah tangga memang terlihat sebagai persoalan yang sangat lokal. Namun, rantai persoalannya jauh lebih panjang. Konsumsi rumah tangga berkaitan dengan sistem produksi, distribusi, industri, dan perdagangan yang saling terhubung dalam ekonomi global. Karena itu, apa yang kita buang di rumah dapat menjadi bagian dari persoalan lingkungan yang dampaknya melampaui batas administratif bahkan batas negara.
Dalam perspektif Hubungan Internasional, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya global environmental governance. Persoalan lingkungan tidak dapat diselesaikan oleh negara saja. Pemerintah daerah, dunia usaha, akademisi, masyarakat sipil, dan komunitas memiliki peran dalam membangun tata kelola lingkungan yang berkelanjutan.
Prinsip Think Globally, Act Locally menjadi relevan dalam konteks ini. Agenda global mengenai lingkungan harus diterjemahkan ke dalam tindakan nyata di tingkat masyarakat. Hal tersebut salah satunya dilakukan melalui kolaborasi Pemerintah Kelurahan Sidorejo Lor, Satgas Sampah, dan mahasiswa KKN multidisipliner dalam merespons persoalan pengelolaan sampah.
Pendekatannya bukan hanya memindahkan sampah dari rumah menuju TPA, tetapi mengurangi sampah sejak dari sumbernya melalui pemilahan, penerapan prinsip Reduce, Reuse, Recycle (3R), dan pengolahan sampah organik.
Salah satu praktik yang diperkenalkan adalah pengolahan sampah organik menjadi kompos menggunakan bioaktivator EM4. Sampah yang sebelumnya dianggap sebagai sesuatu yang harus dibuang dapat dikembalikan menjadi sumber daya bagi lingkungan. Praktik sederhana ini juga mencerminkan prinsip circular economy, yaitu mengurangi pola konsumsi linear dengan mempertahankan material agar tetap memiliki manfaat.
Kolaborasi lintas disiplin juga menjadi bagian penting. Perspektif Hubungan Internasional menghubungkan persoalan lokal dengan agenda global seperti Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab serta SDG 13 tentang aksi terhadap perubahan iklim. Hukum memperkuat pemahaman mengenai regulasi lingkungan, sedangkan Antropologi Sosial membantu memahami perilaku dan kebiasaan masyarakat dalam pengelolaan sampah.
Krisis TPA Ngronggo pada akhirnya memberikan sebuah pelajaran sederhana: kita tidak dapat terus mencari tempat baru untuk menampung konsekuensi dari pola konsumsi lama. Setiap TPA memiliki batas, begitu pula kemampuan lingkungan untuk menerima dampak aktivitas manusia.
Sampah tidak mengenal batas administratif. Ia dapat berpindah dari rumah ke tempat pembuangan, dari tempat pembuangan ke lingkungan, dan pada akhirnya kembali kepada manusia.
Karena itu, persoalan sampah bukan lagi sekadar tentang ke mana kita membuang sesuatu. Persoalannya adalah bagaimana kita mengubah cara kita memproduksi, menggunakan, dan memperlakukan apa yang kita anggap sebagai “sampah”.
Dunia mungkin sedang kehabisan tempat untuk menyembunyikan sampahnya. Maka, jawabannya bukan mencari tempat baru untuk membuangnya, tetapi mulai mengurangi apa yang kita buang, dari rumah kita sendiri.
