Konten dari Pengguna

Pentingnya Membatasi Usia Pengguna Media Sosial Demi Perlindungan Anak

Lutfia Ariqa Myiesha

Lutfia Ariqa Myiesha

Pelajar SMA PLUS PEMBANGUNAN JAYA

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Lutfia Ariqa Myiesha tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Picture by Helena Lopes from Pexels
zoom-in-whitePerbesar
Picture by Helena Lopes from Pexels

Di era digital ini, perkembangan media sosial sangat pesat, bahkan anak anak dan remaja sudah memakainya setiap hari. Namun, banyak konten di media sosial yang tidak layak dikonsumsi oleh anak-anak dibawah umur, yang belum memiliki pemikiran matang dalam menyaring informasi di media sosial. Hal ini menjadi perhatian serius yang membutuhkan penanganan segera dari berbagai pihak.Oleh karena itu, batasan usia pengguna media sosial perlu diperketat demi melindungi mental dan masa depan generasi muda.

Media sosial tidak jarang untuk menampilkan konten-konten berbahaya, seperti kekerasan, bullying, atau konten dewasa. Algoritma media sosial terus-menerus memunculkan konten yang menarik perhatian generasi muda karena mereka sering menyukai hal-hal tersebut. Contohnya adalah tren aksi berbahaya, ujaran kebencian di kolom komentar, hingga gaya hidup konsumtif. Generasi muda sering kali menganggap konten-konten tersebut sebagai hal yang patut ditiru hanya karena banyak orang melakukannya dan terlihat keren. Padahal, konten tersebut dapat memengaruhi pola pikir mereka secara negatif dan memicu perilaku buruk di kehidupan nyata.

Penggunaan media sosial secara berlebihan dapat membuat generasi muda mengalami kecanduan hingga enggan melakukan kegiatan yang lebih bermanfaat. Fenomena ini sering kali memicu kondisi brain rot atau penurunan kemampuan berpikir akibat terlalu banyak mengkonsumsi konten singkat secara terus-menerus. Berdasarkan informasi dari Alodokter, penggunaan media sosial yang berlebihan memiliki dampak buruk bagi generasi muda, khususnya anak di bawah umur, seperti gangguan tidur, penurunan konsentrasi belajar, risiko penipuan daring, hingga terancam perilaku negatif seperti cyberbullying. Dari data tersebut, terlihat jelas bahwa dampak media sosial yang tidak terkontrol sangat berbahaya karena membuat anak-anak menjadi malas bergerak serta sulit mengendalikan emosi mereka.

Sebagian orang berpendapat bahwa media sosial dapat menjadi sarana hiburan dan melepas penat bagi remaja serta anak-anak. Berdasarkan data dari Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia, jumlah pengguna media sosial di Indonesia mencapai 180 juta akun atau sekitar 62,9% dari total populasi, di mana sebagian besar masyarakat memanfaatkannya sebagai pencari suasana hati yang positif. Namun, alasan tersebut kurang tepat karena remaja dan anak-anak sebenarnya bisa mendapatkan hiburan serta materi pembelajaran melalui platform khusus anak yang bebas dari risiko paparan konten berbahaya. Jika remaja tetap harus menggunakan media sosial, perlu ada kesadaran penuh dari dalam diri mereka sendiri. Mereka harus aktif memanfaatkan fitur uninterest, memblokir akun yang menyebarkan pengaruh buruk, serta membatasi waktu penggunaan media sosial harian. Tindakan mandiri ini sangat penting agar algoritma media sosial yang mereka akses tidak terkontaminasi oleh konten-konten yang merusak.

Kesimpulannya, media sosial memiliki dampak yang sangat besar terhadap pikiran, kesehatan mental, perilaku, hingga masa depan anak jika penggunaannya tidak dibatasi. Oleh karena itu, pengketatan batasan usia penggunaan media sosial bagi anak di bawah umur sangat diperlukan untuk melindungi mereka serta menumbuhkan generasi muda yang kompeten dan terhindar dari dampak negatif. Pemerintah, penyedia platform, dan orang tua harus bekerja sama menciptakan lingkungan digital yang lebih aman. Salah satu langkah nyatanya adalah dengan gencar mengadakan edukasi ke sekolah-sekolah, baik secara tatap muka maupun dalam jaringan (daring), sehingga masa depan generasi muda dapat lebih terjamin. Langkah ini merupakan investasi jangka panjang untuk mencetak generasi penerus bangsa yang berkualitas.