IFP di Sekolah, Transformasi Belajar atau Sekedar Ganti Layar ?
Tulisan dari Luthfi Malahati Astianti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Saya selalu merasa ada yang menarik sekaligus menggelitik setiap kali sekolah memamerkan ruang kelas barunya yang serba digital. Layar besar dipasang di depan kelas. Guru tinggal menyentuh layar untuk membuka materi, menulis, memutar video, atau menampilkan gambar. Semuanya tampak mulus. Semuanya tampak meyakinkan. Dan jujur saja, siapa yang tidak terkesan?
Tapi setelah rasa kagum itu lewat, biasanya muncul pertanyaan yang lebih penting di kepala saya, apakah kelas yang lebih canggih otomatis membuat pembelajaran menjadi lebih baik? Atau jangan-jangan kita sedang terlalu bersemangat pada teknologinya dan kemudian lupa memeriksa apa yang sebenarnya terjadi saat guru mulai mengajar dan siswa mulai belajar?
Pertanyaan ini tentunya buat saya tidak remeh. Karena, dalam dunia pendidikan, kita memang sering terpesona pada hal-hal yang tampak baru. Kita mudah mengira perubahan sedang terjadi hanya karena perangkat baru datang. Padahal pendidikan punya cara sendiri untuk menguji segala sesuatu, bukan pada bentuknya, tetapi pada dampaknya.
Hari ini, salah satu perangkat yang makin sering masuk sekolah itu adalah Interactive Flat Panel atau IFP. Sederhananya, ini semacam papan tulis digital layar sentuh yang bisa dipakai untuk presentasi, menulis, menampilkan video, gambar, bahkan terhubung dengan aplikasi pembelajaran. Di atas kertas, perangkat ini memang terdengar ideal. Ia seperti menjawab banyak kebutuhan kelas modern yang visual, interaktif, praktis.
Tentunya saya tidak menolak itu. Saya justru percaya IFP bisa sangat berguna. Tapi saya juga percaya, dalam pendidikan, alat yang bagus tidak pernah otomatis menghasilkan pembelajaran yang bagus.
Yang Sering Kita Lupakan, Teknologi Bukan Jalan Pintas
Ada kecenderungan yang menurut saya makin kuat beberapa tahun terakhir yaitu sekolah ingin terlihat cepat beradaptasi dengan zaman, dan teknologi menjadi wajah paling mudah untuk itu. Begitu ruang kelas tampak digital, ada rasa bahwa sekolah sedang bergerak maju. Orang tua senang. Guru terdorong mencoba hal baru. Sekolah pun punya semacam kebanggaan simbolik yaitu kami tidak tertinggal.
Sejujurnya hal tersebut tidaklah salah. Hanya saja, saya khawatir kita akan terlalu sering berhenti di permukaan.
Sebab kalau mau jujur, problem pendidikan kita tidak sesederhana kurangnya perangkat. Hasil PISA 2022 masih menunjukkan bahwa kemampuan membaca, matematika, dan sains siswa Indonesia belum baik-baik saja. Data seperti ini seharusnya cukup membuat kita sadar kalau persoalan utama di kelas bukan hanya soal ada atau tidak ada layar, tetapi bagaimana siswa memahami pelajaran, bagaimana guru mengajar, dan bagaimana sekolah membangun budaya belajar.
Jadi, ketika IFP masuk kelas, saya rasa pertanyaan yang paling sehat bukan “wah, keren ya?”, melainkan “lalu apa yang berubah setelah itu?”
Kalau setelah layar canggih dipasang guru tetap hanya menjelaskan satu arah, siswa tetap duduk pasif, dan pembelajaran tetap berpusat pada ceramah, bukankah sebenarnya kita hanya mengganti papan tulis dengan versi yang lebih mahal?
Dalam Kurikulum, Alat Selalu Harus Tunduk pada Tujuan
Karena saya belajar Pengembangan Kurikulum, saya terbiasa melihat teknologi bukan sebagai benda netral, melainkan sebagai bagian dari keputusan pembelajaran. Setiap alat yang masuk kelas sebenarnya membawa pertanyaan, untuk apa alat ini dipakai, pengalaman belajar seperti apa yang ingin dibangun, dan kompetensi apa yang hendak ditumbuhkan?
Masalahnya, sekolah sering lebih cepat membeli daripada memikirkan. Teknologi hadir dulu, baru setelah itu guru diminta menyesuaikan. Akibatnya, perangkat yang sebenarnya punya banyak kemungkinan sering berakhir dipakai secara aman-aman saja. Menampilkan slide, membuka PDF, memutar video. Bermanfaat? Ya. Tapi transformasional? Belum tentu.
Di sinilah saya merasa kita perlu lebih jujur. Banyak pembelajaran yang disebut “digital” sesungguhnya hanya pembelajaran lama dengan tampilan baru. Bahannya digital, layarnya besar, tampilannya rapi, tetapi logika belajarnya masih sama. Guru menyampaikan. Siswa menyimak. Sesekali ada tanya jawab. Selesai.
Padahal, kalau teknologi benar-benar mau dipakai secara serius, ia seharusnya membuka sesuatu yang sebelumnya sulit terjadi. Ia harus membantu siswa melihat konsep yang abstrak menjadi lebih konkret. Ia harus memancing interaksi. Ia harus membuat kelas tidak sekadar mendengar, tetapi juga mengolah, membandingkan, dan berpikir.
Kalau tidak sampai ke sana, menurut saya kita terlalu murah hati menyebutnya transformasi.
Ujung Tombaknya Tetap Guru, Bukan Layar
Pada titik ini, saya makin yakin bahwa diskusi soal IFP tidak bisa dilepaskan dari satu hal yaitu kesiapan guru. Bukan kesiapan teknis semata, tetapi kesiapan pedagogis.
Dalam dunia pendidikan, ada konsep yang sangat relevan untuk membaca hal ini, yaitu TPACK gabungan dari pengetahuan konten, pedagogi, dan teknologi. Kedengarannya teoritis, tapi sebenarnya sangat praktis. Pesannya sederhana, guru yang baik di era digital bukan guru yang hanya paham materi, dan bukan pula guru yang cuma lancar memakai teknologi. Ia harus bisa memadukan keduanya dengan cara mengajar yang tepat.
Di lapangan, justru bagian inilah yang paling menantang.
Saya sering melihat bagaimana teknologi pendidikan diperlakukan seolah-olah masalahnya selesai ketika guru sudah bisa mengoperasikan alat. Padahal, menurut saya, itu baru permulaan. Tantangan sesungguhnya adalah guru mau memakai alat itu untuk apa?
Guru matematika misalnya, bisa saja hanya menampilkan rumus lewat IFP. Tapi ia juga bisa memakai perangkat yang sama untuk memperagakan perubahan grafik secara langsung, memvisualisasikan konsep, dan mengajak siswa mencoba memecahkan masalah bersama. Guru IPA bisa memutar video percobaan, tetapi ia juga bisa menggunakannya untuk membandingkan data, memprediksi hasil, dan mendiskusikan fenomena ilmiah. Guru bahasa bisa menampilkan teks, tetapi juga bisa mengajak siswa menandai argumen, bias, dan pilihan kata secara kolaboratif.
Bedanya tipis di permukaan, tapi besar sekali dalam pengalaman belajar.
Karena itu saya agak khawatir kalau sekolah terlalu percaya bahwa perangkat otomatis akan mendorong kualitas guru. Karena yang mendorong kualitas guru adalah tetap proses belajar guru itu sendiri. Pelatihan, pendampingan, ruang mencoba, dan budaya sekolah yang tidak mempermalukan orang ketika sedang belajar hal baru itulah yang jauh lebih menentukan.
Siswa Melek Gawai, Belum Tentu Melek Digital
Ada satu asumsi lain yang menurut saya sering menyesatkan yaitu perihal anak-anak zaman sekarang dianggap pasti sudah melek digital hanya karena akrab dengan layar. Mereka cepat membuka aplikasi, luwes mencari video, terbiasa berpindah dari satu platform ke platform lain segingga seringkali kita merasa mereka sudah siap.
Saya justru melihatnya sebaliknya. Kedekatan dengan teknologi bisa menipu kalau tidak dibarengi dengan kemampuan berpikir kritis. Bisa menggunakan perangkat tentunya tidak sama dengan memiliki literasi digital.
Literasi digital itu lebih rumit. Ini menyangkut kemampuan memilah informasi, mengenali manipulasi, memeriksa sumber, memahami etika bermedia, sampai sadar bahwa jejak digital tidak pernah benar-benar hilang. Dan di zaman ketika hoaks, potongan video tanpa konteks, dan informasi setengah matang beredar setiap hari, kemampuan semacam ini jauh lebih penting daripada sekadar keterampilan teknis.
Di sini, IFP sebenarnya bisa sangat berguna. Tapi tentu saja, sekali lagi, tergantung bagaimana guru memakainya.
Bagi saya, penggunaan yang paling menarik justru bukan ketika layar itu dipakai untuk memutar video pembelajaran yang bagus, melainkan ketika ia dipakai untuk membuka percakapan kritis. Misalnya, guru menampilkan dua berita tentang isu yang sama lalu meminta siswa menelaah perbedaan sudut pandang. Atau menampilkan konten viral dan mengajak kelas bertanya: informasi ini valid tidak? siapa yang membuat? apa kepentingannya? kenapa banyak orang percaya?
Kalau kelas bisa sampai ke situ, teknologi betul-betul bekerja sebagai alat literasi. Bukan sekadar alat presentasi.
Jangan Abaikan Satu Kenyataan, Tidak Semua Sekolah Memulai dari Titik yang Sama
Saya juga merasa penting untuk mengingatkan bahwa pembicaraan tentang teknologi pendidikan sering terlalu nyaman kalau hanya dilihat dari sekolah-sekolah yang relatif siap. Padahal kenyataannya, kondisi lapangan kita sangat beragam.
Data BPS menunjukkan penggunaan internet di Indonesia memang terus meningkat. Tetapi kita tahu, peningkatan itu tidak otomatis berarti kualitas aksesnya merata. Di banyak tempat, internet masih naik turun, perangkat terbatas, dan dukungan teknis nyaris tidak ada. UNESCO juga beberapa kali menekankan soal ketimpangan akses digital dan konektivitas sekolah.
Jadi, kalau kita bicara soal efektivitas IFP, kita tidak bisa membayangkannya dalam ruang hampa. Perangkat sebagus apa pun tidak akan optimal kalau infrastruktur dasarnya goyah. Dan pada akhirnya, sekolah yang sudah kuat akan jauh lebih mudah memaksimalkan teknologi dibanding sekolah yang sejak awal harus berjuang dengan hal-hal mendasar.
Ini sebabnya saya selalu merasa digitalisasi pendidikan harus dibicarakan dengan dua nada sekaligus: optimis, tetapi juga waspada. Optimis karena potensinya besar. Waspada karena tanpa desain dan dukungan yang baik dan adil, teknologi justru bisa memperlebar jarak.
Bahaya Terbesarnya Adalah Ilusi Perubahan
Kalau harus memilih satu hal yang paling saya khawatirkan, itu bukan guru yang belum mahir teknologi. Bukan juga perangkat yang kadang tak terpakai optimal. Yang paling saya khawatirkan justru adalah pandangan jika sekolah sudah berubah hanya karena tampilannya berubah.
Ini bahaya yang halus sekali. Begitu kelas tampak modern, kita merasa cukup. Begitu guru memakai layar sentuh, kita menyebutnya inovasi. Begitu siswa terlihat antusias melihat tampilan visual, kita merasa pembelajaran berhasil.
Padahal, bisa jadi semua itu hanya efek awal. Yang sesungguhnya penting justru belum tersentuh, apakah siswa lebih paham, lebih aktif, lebih kritis, lebih mampu memeriksa informasi, dan lebih berani berpikir sendiri?
Kalau jawabannya belum jelas, berarti perubahan itu belum selesai. Atau mungkin belum benar-benar dimulai.
Jadi, Seberapa Efektif?
Buat saya, jawabannya seperti ini: Interactive Flat Panel bisa sangat efektif, tetapi hanya jika sekolah tidak berhenti pada perangkatnya.
Efektif kalau guru dibantu mengembangkan TPACK, bukan sekadar diajari fitur. Efektif kalau pembelajaran dirancang untuk melibatkan siswa, bukan memindahkan ceramah ke layar besar. Efektif kalau literasi digital dimaknai sebagai kemampuan berpikir, bukan sekadar kemampuan mengoperasikan alat. Efektif kalau sekolah mau mengevaluasi dampaknya terhadap belajar, bukan cuma bangga karena ruang kelas tampak canggih.
Tapi kalau IFP hanya hadir sebagai simbol bahwa sekolah sedang mengikuti zaman, saya rasa dampaknya akan cepat menurun. Perangkatnya tetap ada. Kekaguman awalnya mungkin masih terasa. Tapi pelan-pelan ia hanya menjadi furnitur baru.
Penutup: Yang Mengubah Kelas Bukan Layarnya, Melainkan Sikap Kita terhadap Belajar
Saya tidak anti teknologi. Sama sekali tidak. Saya justru percaya sekolah tidak boleh menutup mata dari perubahan zaman. Siswa hidup di dunia digital, dan sekolah harus cukup dewasa untuk menjadikan itu bagian dari pembelajaran. Tetapi saya juga percaya, pendidikan terlalu penting untuk diserahkan pada euforia perangkat.
Pada akhirnya, yang mengubah kelas bukan layar di depannya, melainkan keputusan-keputusan kecil yang dibuat setiap hari. Bagaimana guru mengajar, bagaimana siswa diajak berpikir, bagaimana sekolah mendefinisikan belajar, dan apakah teknologi dipakai untuk memudahkan pemahaman atau hanya mempercantik tampilan.
Jadi, ketika papan pintar masuk kelas, saya kira pertanyaan terbaik yang bisa kita ajukan bukan “seberapa modern sekolah ini?”, melainkan “apakah anak-anak sungguh belajar lebih baik di dalamnya?”
Kalau pertanyaan itu terus hidup, saya optimis teknologi bisa punya makna. Tapi kalau pertanyaan itu hilang, kita mungkin hanya sedang sibuk mengganti layer bukan mengubah pendidikan.

