Fatherless: Ayah Ada di Rumah, tapi Mengapa Anak Tetap Merasa Sendirian?
Tulisan dari Luthfiyyah Sonike tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ketika mendengar istilah fatherless, mungkin yang langsung terbayang adalah seorang anak yang kehilangan ayah karena kematian atau perceraian orang tua. Padahal, ketidakhadiran seorang ayah tidak selalu berarti bahwa sosok ayah benar-benar tidak ada.
Ada anak yang masih bisa melihat ayahnya setiap hari, tinggal di rumah yang sama, makan di meja yang sama, bahkan sesekali berbicara. Namun, di balik semua itu, ada jarak yang tidak selalu terlihat.
Ayah ada secara fisik, tetapi tidak selalu hadir secara emosional.
Bagi sebagian orang, kondisi seperti ini mungkin sulit dipahami. Bagaimana mungkin seorang anak merasa tidak memiliki sosok ayah jika ayahnya masih berada di rumah?
Jawabannya mungkin terletak pada satu hal yang sering dianggap sederhana: komunikasi.
Fatherless: Hadir di Rumah Belum Tentu Hadir dalam Kehidupan Anak
Menjadi seorang ayah tidak hanya berkaitan dengan keberadaan fisik atau kemampuan memenuhi kebutuhan keluarga. Anak juga membutuhkan perhatian, komunikasi, rasa aman, dan kesempatan untuk menyampaikan apa yang mereka rasakan.
Seorang ayah mungkin bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Ia mungkin merasa bahwa bekerja, memberikan uang, membayar pendidikan, dan menyediakan berbagai kebutuhan anak merupakan bentuk kasih sayang.
Namun, dari sisi anak, kasih sayang juga dapat hadir dalam bentuk yang jauh lebih sederhana.
Pertanyaan seperti, “Bagaimana harimu hari ini?” atau “Ada sesuatu yang ingin kamu ceritakan?” mungkin terlihat sepele. Tetapi bagi seorang anak, pertanyaan tersebut dapat menjadi tanda bahwa dirinya diperhatikan.
Di sinilah perbedaan antara hadir secara fisik dan hadir secara emosional menjadi penting. Seorang ayah bisa berada di ruang yang sama dengan anaknya, tetapi belum tentu mengetahui apa yang sedang dipikirkan atau dirasakan anak tersebut.
Ketika anak mulai terbiasa diam
Jarak emosional dalam keluarga biasanya tidak muncul begitu saja.
Terkadang, seorang anak ingin bercerita, tetapi merasa tidak didengarkan. Anak mencoba menyampaikan masalah, tetapi respons yang diterima justru membuatnya merasa tidak dipahami. Lama-kelamaan, anak belajar bahwa bercerita kepada ayah bukan sesuatu yang perlu dilakukan.
Akhirnya, ia memilih diam.
Yang menarik, diam sebenarnya juga merupakan bagian dari komunikasi.
Ketika seorang anak berhenti bercerita, ada kemungkinan bahwa ia sedang menyampaikan sesuatu melalui ketidakterbukaan tersebut. Begitu pula ketika seorang ayah terlalu sibuk atau tidak memberikan ruang untuk berbicara, sikap tersebut dapat membentuk pola komunikasi dalam keluarga.
Kemudian muncul keadaan yang cukup ironis. Ayah merasa anaknya tidak pernah mau bercerita, sementara anak merasa ayahnya tidak pernah benar-benar ingin mendengarkan.
Keduanya berada di rumah yang sama, tetapi semakin jauh secara emosional.
Rumah bukan hanya tentang keberadaan fisik
Pada akhirnya, pembicaraan tentang fatherless tidak seharusnya hanya berhenti pada pertanyaan apakah seorang ayah ada atau tidak ada.
Pertanyaan yang lebih jauh adalah: apakah kehadiran tersebut benar-benar dirasakan oleh anak?
Sebab, rumah bukan hanya tempat seseorang tinggal. Rumah juga seharusnya menjadi tempat seseorang merasa aman untuk bercerita, didengarkan, dan diterima.
Seorang ayah mungkin tidak mampu memberikan semuanya. Tidak ada orang tua yang sempurna. Namun, komunikasi dapat menjadi salah satu langkah sederhana untuk membangun kedekatan tersebut.
Bertanya, mendengarkan, memberikan perhatian, mengungkapkan kasih sayang, dan yang tidak kalah penting, menyediakan waktu.
Hal-hal tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi dapat memiliki arti yang besar bagi seorang anak.
Sebab, ketika seorang anak tumbuh dewasa nanti, ia tidak hanya akan mengingat apa yang pernah diberikan oleh ayahnya. Ia juga mungkin akan mengingat bagaimana perasaannya ketika berada di dekat ayahnya.
Apakah ia merasa didengar?
Apakah ia merasa dihargai?
Atau justru ia merasa sendirian meskipun ayahnya berada di rumah?
Pada akhirnya, kehadiran seorang ayah bukan hanya tentang ada di rumah, tetapi juga tentang hadir dalam kehidupan anak.

