Konten dari Pengguna

Mengenal Shoushi Koureika Mondai dari Negara Jepang

Lyla Wahyu Budi Lestari

Lyla Wahyu Budi Lestari

Mahasiswa S1 Bahasa dan Sastra Jepang, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Lyla Wahyu Budi Lestari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Lansia Jepang | Source : Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Lansia Jepang | Source : Shutterstock

Shōshi Kōreika Mondai (少子高齢化問題) adalah istilah yang merujuk pada permasalahan demografis yang tengah dihadapi Jepang. Ditandai oleh dua tren utama yang saling berkaitan yaitu penurunan angka kelahiran (shōshika / 少子化) dan peningkatan populasi lansia (kōreika / 高齢化). Fenomena ini telah berlangsung selama beberapa dekade dan kini menjadi salah satu tantangan terbesar bagi masa depan sosial, ekonomi, dan politik Jepang.

Jepang telah mengalami penurunan tingkat kelahiran dalam jangka panjang. Tingkat fertilitas total (Total Fertility Rate / TFR), yaitu jumlah rata-rata anak yang dilahirkan oleh seorang perempuan selama masa suburnya, menunjukkan angka yang mengkhawatirkan. Pada tahun 2005, TFR Jepang mencapai titik terendahnya sebesar 1,26 dan hanya sedikit meningkat menjadi 1,39 pada tahun 2009. Angka ini jauh di bawah tingkat penggantian penduduk ideal, yaitu 2,1. Hal ini menunjukkan bahwa rata-rata perempuan Jepang hanya melahirkan satu anak, yang berarti tidak cukup untuk menjaga kestabilan populasi.

Faktor Penyebab Rendahnya Angka Kelahiran

Beberapa faktor utama yang menyebabkan rendahnya angka kelahiran di Jepang antara lain:

  1. Tingginya biaya hidup, khususnya harga properti, pendidikan, dan kebutuhan anak, yang membuat banyak pasangan ragu untuk memiliki anak.

  2. Budaya kerja keras dengan jam kerja panjang serta tekanan dalam dunia kerja, menyulitkan masyarakat untuk menyeimbangkan kehidupan profesional dan pribadi.

  3. Penundaan pernikahan, karena banyak anak muda lebih memilih fokus pada pendidikan, karier, dan gaya hidup individu.

  4. Meningkatnya usia menikah (bankonka 婚化), di mana pada tahun 2009 rata-rata usia menikah pria adalah 30,4 tahun dan wanita 28,6 tahun, meningkat signifikan dibandingkan tahun 1975 (27,0 dan 24,7 tahun).

  5. Bertambahnya jumlah orang yang tidak menikah (mikonka 未婚化), di mana sebagian generasi muda memilih untuk tidak menikah atau memiliki anak karena alasan finansial dan emosional.

Faktor Historis dan Ekonomi yang Memengaruhi

Secara historis, setelah Perang Dunia II, Jepang mengalami lonjakan kelahiran (baby boom). Namun, sejak tahun 1960-an, angka kelahiran menurun drastis. Beberapa kebijakan dan kondisi yang turut memengaruhi tren ini antara lain:

  1. Legalitas aborsi yang diperkenalkan sejak tahun 1948, memungkinkan pasangan untuk menunda atau menghindari kelahiran anak.

  2. Gerakan keluarga berencana, yang mulai digalakkan pemerintah sejak tahun 1953.

  3. Pertumbuhan ekonomi pasca-perang yang mendorong masyarakat untuk membatasi jumlah anak demi mengejar stabilitas ekonomi.

  4. Peningkatan biaya hidup dan pendidikan sejak dekade 1970-an, yang membuat memiliki anak menjadi pilihan yang semakin mahal.

Peningkatan Populasi Lansia

Di sisi lain, Jepang juga mengalami peningkatan tajam pada jumlah penduduk lanjut usia. Negara ini dikenal memiliki salah satu angka harapan hidup tertinggi di dunia, yaitu sekitar 84 tahun. Beberapa faktor yang berkontribusi terhadap penuaan populasi antara lain:

  1. Sistem kesehatan yang maju, dengan layanan medis berkualitas dan aksesibilitas tinggi.

  2. Pola makan sehat, yang didominasi oleh konsumsi ikan, sayuran, dan teh hijau.

  3. Gaya hidup aktif, yang menjadikan lansia di Jepang tetap mandiri dan sehat hingga usia lanjut.

Data Penurunan Populasi

Berdasarkan data dari Ministry of Internal Affairs and Communications, total populasi Jepang per 1 Oktober 2017 adalah 126,706 juta jiwa. Angka ini mengalami penurunan sebesar 227 ribu jiwa (-0,18%) dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan populasi ini telah terjadi selama tujuh tahun berturut-turut, menandakan tren demografis yang mengkhawatirkan dan belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan.

Dari berbagai grafik dan laporan, terlihat bahwa Jepang telah mengalami Shōshi Kōreika Mondai setidaknya sejak awal tahun 2000-an. Fenomena ini ditandai dengan dominasi jumlah penduduk lansia dan semakin sedikitnya generasi muda yang siap menggantikan peran dalam dunia kerja dan ekonomi.

Shōshi Kōreika Mondai bukan hanya permasalahan Jepang semata, tetapi juga menjadi gambaran masa depan bagi banyak negara dengan tingkat kelahiran yang menurun serta populasi yang menua. Jepang kini menjadi studi kasus penting dalam melihat bagaimana sebuah negara menghadapi perubahan demografis yang ekstrem, baik melalui kebijakan, teknologi, maupun perubahan budaya masyarakat.