Pencarian populer

Senang Wastra Indonesia, Tapi Bingung Mau Belajar ke Mana?

Ilustrasi Batik. (Foto: Pixabay/ DukeAsh)

Beberapa tahun terakhir ini kaum muda Indonesia mulai tertarik pada wastra tradisional, baik untuk dikenakan sebagai kostum tradisional atau dijahit sebagai busana modern. Sering terjadi perdebatan tentang perbedaan antara batik tulis, cap, atau cetak. Kadang perdebatan meningkat menjadi arti motif batik dan jalinan tenun, atau wastra mana yang boleh dipotong dan dijahit menjadi pakaian.

Kekayaan wastra tradisional Indonesia memang jarang diajarkan secara akademis atau terstruktur dalam sistem pendidikan Indonesia, kecuali pada jurusan tekstil di sekolah seni. Bukan berarti ilmu ini tidak bisa dipelajari secara otodidak dari literatur yang banyak diterbitkan, baik oleh pakar maupun kolektor wastra tradisional.

Salah satu buku rujukan utama tentang batik adalah Batik: Spirit of Indonesia karya Judi Knight Achjadi. Menelusuri asal-muasal kriya batik, teknik pengerjaan, kategori berdasar demografi, dan arti motif-motif utama, buku ini bisa menjadi diktat bagi siapapun yang ingin mempelajari batik Indonesia.

Lebih jauh mengenai motif diterangkan dalam The Glory of Batik, buku yang diterbitkan oleh kolektor batik legendaris sekaligus pendiri perusahaan Danar Hadi, H. Santosa Doellah. Merangkum ratusan motif batik kuno dari koleksi pribadinya, buku yang sering dijuluki 'buku batik Danar Hadi' sejak diterbitkan 2011 ini menyoroti luasnya perbendaharaan arti dan tingginya kreativitas di balik selembar batik.

Ada beberapa literatur lain yang membicarakan batik dengan lebih spesifik.

Pada tahun 2013 pemerhati wastra Asmoro Damais menerbitkan The Beauty of Pekalongan Batik, bekerjasama dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Begitu komprehensifnya pembahasan Asmoro Damais, tokoh di belakang kurasi awal Museum Batik Pekalongan, sehingga buku tersebut menjadi acuan utama tentang batik Pekalongan.

Butterflies and Phoenixes karya Asmoro Damais dan Judi Knight Achjadi. (Foto: Dok: Lynda Ibrahim)

Asmoro Damais dan Judi Knight Achjadi kemudian menulis Butterflies and Phoenix, buku yang dengan rinci dan indah mengilustrasikan pengaruh kebudayaan Cina, seperti motif burung hong dan warna kemerahan, pada batik dari pesisir Utara Jawa yang telah berabad-abad didiami keturunan Tionghoa.

Lebih jauh mengenai batik pesisiran dan pengaruh Cina juga bisa ditelisik pada Batik Pesisir Pusaka Indonesia, Batik Betawi, dan Batik Garutan, tiga buku yang didasarkan pada kekayaan batik milik kolektor terkenal Hartono Sumarsono.

Apakah batik Indonesia hanya mendapat pengaruh Cina? Dalam kenyataannya, batik juga mendapat pengaruh Belanda, yang bisa ditelaah dalam Batik Belanda (1840-1940) tulisan Harmen C Veldhuisen, dan pengaruh Jepang, yang bisa diintip dari koleksi pengacara senior Kartini Muljadi yang dibukukan setahun lalu.

Tentunya wastra Indonesia bukan hanya batik. Tenun, mulai dari ulos di Sumatera Utara, geringsing di Kalimantan Selatan, sampai buna di Nusa Tenggara Timur, semua memiliki keunikan dan kerumitan tersendiri. Amat menggembirakan bahwa beberapa tahun terakhir ini mulai banyak literatur yang juga membicarakan tenun.

Salah satu rujukan utama tentang aneka tenun Indonesia adalah Tenun: Handwoven Textiles of Indonesia yang diterbitkan label Cita Tenun Indonesia beberapa saat lalu. Sebagai titik awal mempelajari tenun Indonesia, buku ini mumpuni dan ditulis dengan menarik.

Untannun Kameloan. (Foto: Dok: Lynda Ibrahim)

Toraja Melo, label yang digagas sebagai socio-entrepeneurship untuk menghidupkan kembali usaha tenun Toraja, membukukan sejarah dan motif-motif tenun Toraja yang hampir punah dalam Untannun Kameloan. Toraja Melo juga meluncurkan beberapa video dokumentasi yang menjadi pelengkap isi buku bagi peminat sejarah wastra tradisional Toraja.

Pencinta songket Minangkabau punya beberapa pilihan membaca, salah satunya buku karangan Bernhard Bart yang menceritakan perjalanannya merevitalisasi songket Minangkabau sejak dekade 1990-an. Bernhard Bart dan istrinya, Erika, adalah duo kreatif di balik label Palantaloom yang sukses membuat songket berbenang-emas Minangkabau lebih tipis dan lentur.

Selain bekerjasama dengan desainer Indonesia dan hadir pada Jakarta Fashion Week ke-10, Palantaloom telah melanglang-buana sebagai label songket Minangkabau yang dianggap paling berhasil beradaptasi dengan kebutuhan gaya hidup modern.

Revitalisasi Songket Lama Minangkabau karya Bernhard Bart. (Foto: Dok: Lynda Ibrahim)

Dengan pengecualian Revitalisasi Songket Lama Minangkabau dari Bernhard Bart yang sudah tidak dicetak lagi dan harus dicari ke toko buku lama, semua buku ini bisa ditemukan di toko-toko besar atau lapak-lapak virtual. Gaya bahasanya berbeda-beda, namun hampir semua disertai foto berwarna dan ilustrasi menarik. Mudah dibaca, enak dipandang, dan kaya pengetahuan; agar kita lebih memahami apa yang kita sandang.

Jadi, sudah tahu tgl 17 Agustus nanti akan pakai wastra Indonesia yang mana?

Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: web: