Merawat Karya Tanpa Nama, Cerita Tiga Pengukir Jepara Terbang ke Sarajevo

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Lyra Arthitha Nazwa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Enam pilar kayu jati menopang bagian dalam Masjid Istiklal di Sarajevo. Ukiran di permukaannya sudah puluhan tahun menemani jemaah dan di beberapa bagian mulai rusak. Dari pilar-pilar inilah pekerjaan tiga pengukir asal Jepara dimulai.
Sutrisno berdiri di depan salah satunya. Telapak tangannya yang kasar menempel pada kayu, lalu bergerak perlahan mengikuti garis-garis ukiran, seperti orang yang mengeja tulisan tangan yang belum ia kenal.
Dari pilar-pilar itulah perjalanan Sutrisno dan dua rekannya, Jawawi Firnandes dan Widodo, bermula. Ketiganya pengukir dari Jepara, Jawa Tengah. Mereka berangkat pada 13 Oktober 2026, dipimpin Ikhwan Syaefulloh, selaku tenaga ahli Wakil Ketua MPR RI. Restorasi dikerjakan pada 14–19 Oktober dan mencakup enam pilar, tangga, serta hiasan dinding.
Diganti total, bukan ditambal
Dari semua pekerjaan itu, satu keputusan Sutrisno paling menarik perhatian. Enam pilar tadi tidak boleh ditambal. Harus diganti dari nol.
"Kalau pilar itu diganti total. Karena kalau ditambal, nanti karakter ukirannya berbeda," kata Sutrisno, seperti dikutip dari situs Pemkab Jepara.
Kerusakannya memang sudah terlalu berat untuk ditambal. Tambalan juga berisiko. Ukiran yang disisipi potongan baru akan kehilangan kekhasannya, seperti kain batik yang disulam dengan benang bermotif lain.
Karena itu, sebagian pengerjaan dilakukan lebih dulu di Jepara Carver, sentra industri ukir di Desa Senenan, Kecamatan Tahunan, Jepara. Hasilnya baru dibawa dan dipasang di Sarajevo.
Kenapa harus sejauh itu?
Semuanya bermula pada Februari 2026. Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat, yang biasa disapa Rerie, datang ke Bosnia dan Herzegovina dalam rangkaian diplomasi untuk memperkuat pengajuan seni ukir Jepara sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO. Di sana ia mendapati sejumlah ornamen Masjid Istiklal rusak. Ia menawarkan bantuan restorasi, dan pengurus masjid menyambutnya dengan baik. Delapan bulan kemudian, tiga pengukir itu berangkat.
Untuk memahami arti pilar-pilar itu, perlu melihat sejarah masjidnya. Pada 1995, Presiden Soeharto berkunjung ke Sarajevo. Dari kunjungan itu lahir gagasan membangun sebuah masjid sebagai simbol solidaritas kemanusiaan Indonesia untuk rakyat Bosnia setelah konflik Balkan. Rancangannya dibuat arsitek Achmad Noe'man, sedangkan dananya dihimpun MUI bersama masyarakat Indonesia. Pembangunan sempat terhenti ketika Soeharto lengser, kemudian dilanjutkan sampai masjid diresmikan pada 2001.
Pengukir yang namanya tidak diketahui
Dari luar, bangunannya tampak seperti masjid biasa dengan kubah dan menara. Sentuhan Jepara ada di dalam, yaitu ukiran kayu yang dihadiahkan Presiden ke-3 RI B.J. Habibie dan Ibu Ainun Habibie. Pengukirnya orang Jepara juga, dan karyanya dibuat puluhan tahun lalu. Namun hingga kini identitas mereka belum berhasil ditelusuri.
Artinya, hadiah itu tercatat atas nama pemberinya, sementara tangan yang memahatnya tidak punya nama dalam sejarah. Karyanya bertahan, penciptanya tidak diketahui.
Di titik inilah pekerjaan Sutrisno, Jawawi, dan Widodo terasa lebih dari sekadar proyek. Mereka merawat karya sesama pengukir Jepara yang tidak pernah mereka temui, dengan bekal keahlian yang sama.
Bukan sekadar benda lama
Pekerjaan ini juga punya arti yang lebih luas. Rerie menyebut kehadiran ukiran Jepara di Sarajevo sejak puluhan tahun lalu sebagai bukti bahwa keterampilan tradisional Indonesia jangkauannya jauh lebih luas dari yang sering disadari. Baginya, itu "warisan bangsa yang harus kita rawat bersama".
Restorasi ini juga menunjukkan bahwa ukir Jepara bukan warisan yang sudah mati. Ia living heritage yaitu masih dikerjakan, masih diwariskan, dan masih dibutuhkan sampai luar negeri.
Jadi, di bawah kubah itu ada tiga hal yang dijaga lewat satu pekerjaan yaitu karakter ukiran asli, hubungan persahabatan dua negara, dan pengukir asli yang namanya belum diketahui. Pilarnya baru, tapi karakter ukirannya dipertahankan.
Kembali ke bawah kubah di Sarajevo. Udaranya mungkin masih dingin seperti dulu. Bedanya, kayunya tidak lagi dibiarkan menua sendirian.
Bagi anak muda, ada pesan sederhana dari kisah ini. Warisan budaya itu seperti tanaman, tidak akan tumbuh hanya karena kita bangga menyebutnya. Harus ada yang mau turun tangan, belajar, dan kadang mengganti bagian yang rusak demi menjaga yang asli.
