Bahasa Formal vs Bahasa Gaul, Kapan Harus Digunakan?

Saya adalah seorang mahasiswa Teknik Informatika di Universitas Pamulang
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Lystanta Ramdhan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bahasa adalah alat komunikasi yang terus berubah sesuai konteks. Dalam kehidupan sehari-hari, kita menggunakan berbagai jenis bahasa tergantung pada siapa yang kita bicarakan, di mana percakapan berlangsung, dan maksud dari percakapan. Bahasa formal dan bahasa gaul adalah dua jenis bahasa yang paling sering diperdebatkan. Bahasa formal memiliki struktur dan tata bahasa yang baku dan digunakan dalam konteks resmi. Bahasa gaul, di sisi lain, mencerminkan kedekatan sosial, kebebasan berekspresi, dan kreativitas linguistik.
Bahasa gaul semakin populer saat media sosial dan komunikasi digital berkembang, bahkan masuk ke bidang yang sebelumnya dianggap sebagai domain bahasa formal, seperti media berita dan pendidikan. Dengan fenomena ini, muncul pertanyaan penting seperti kapan bahasa formal diperlukan dan dalam situasi apa bahasa gaul lebih cocok? Tujuan dari tulisan ini adalah untuk memberikan ulasan menyeluruh tentang konteks penggunaan dua ragam bahasa tersebut, serta bagaimana hal itu berdampak pada kemanjuran komunikasi dan konstruksi sosial di masyarakat.
Karakteristik bahasa formal dan bahasa Gaul
bahasa formal:
Struktur kalimat konvensional dan kompleks
Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) mengatur tata bahasa dan ejaan.
Kosa kata yang sopan dan netral
Dikti yang umum dan tidak terbatas pada situasi sosial tertentu
contoh:
"Dalam rapat tersebut, kami membahas strategi pemasaran untuk triwulan berikutnya."
bahasa gaul:
Lebih bebas dari aturan gramatikal yang ketat
Sering menggunakan singkatan, kata serapan, atau istilah baru.
Sangat ekspresif, emosional, dan kadang-kadang hiperbolis
kontekstual dan unik untuk komunitas tertentu
contoh:
"Gue ngga nyangka sih, ternyata dia beneran baper gara-gara chat gue."
Kapan Bahasa Formal Harus Digunakan?
Bahasa formal digunakan ketika profesionalitas, netralitas, dan kejelasan diperlukan. Beberapa situasi umum termasuk:
Dunia akademik: penelitian, skripsi, makalah, dan presentasi
Komunikasi pemerintah: termasuk dokumen hukum, pidato kenegaraan, dan surat resmi.
Hubungan profesional: email pekerjaan, laporan perusahaan, wawancara
Media resmi: berita cetak, televisi nasional, dan jurnalis
Dalam situasi seperti ini, penggunaan bahasa formal meningkatkan kredibilitas pembicara dan penulis, menunjukkan rasa hormat terhadap audiens, dan menjaga pesan tetap jelas.
Dalam Situasi Apa Bahasa Gaul Lebih Efektif?
Bahasa gaul sangat efektif dalam situasi informal dan intim. Berikut adalah beberapa contoh penggunaan yang sesuai:
Diskusi antara teman sekelas: secara langsung atau melalui media digital
Konten media sosial: caption Instagram, video TikTok, thread Twitter, dan meme
Promosi produk yang menyasar Gen Z atau milenial
Cerpen, novel remaja, dan lirik lagu.
Bahasa gaul mengurangi jarak sosial, menciptakan rasa kebersamaan (solidaritas), dan memudahkan orang untuk bergabung dalam kelompok. Namun, kinerjanya sangat bergantung pada seberapa cocok situasinya dengan audiens dan audiensnya.
Dampak Sosial dan Edukatif dari Campur Aduk Bahasa
Dalam komunikasi kontemporer, terutama di media sosial, fenomena code-switching (pergantian kode bahasa) dan code-mixing (pencampuran elemen bahasa) sering terjadi. Penggunaan bahasa Inggris dalam kalimat Indonesia seperti:
"Menurut gue, dia itu literally the best speaker ever!"
Meskipun penggunaan campuran ini memperkaya ekspresi linguistik, ada kekhawatiran bahwa kemampuan berbahasa formal akan berkurang, terutama di kalangan siswa. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Yanti dan Rahmawati (2021), siswa sekolah menengah atas di Jakarta cenderung menulis esai akademik menggunakan diksi yang dipengaruhi oleh gaya bahasa yang digunakan di media sosial.
Namun, bahasa gaul, jika digunakan dengan benar, juga dapat menjadi alat yang menarik untuk belajar. Misalnya, guru dapat menggunakan bahasa gaul untuk menjelaskan konsep kelas yang sulit, lalu secara bertahap membawa siswa kembali ke bahasa formal.
Evaluasi dan Tantangan di Era Digital
Dalam era digital, batas antara bahasa gaul dan formal semakin tidak jelas. LinkedIn, Google Meet, atau bahkan WhatsApp kerja adalah beberapa platform yang dulunya digunakan untuk tujuan profesional. Keterampilan literasi situasional sangat penting dalam situasi seperti ini: seseorang harus dapat membaca konteks dan menyesuaikan register bahasanya.
Meningkatnya ambiguitas makna yang disebabkan oleh penggunaan bahasa gaul yang tidak jelas atau lokal adalah masalah lainnya. Ketika pesan disampaikan dengan bahasa yang tidak dipahami audiens, komunikasi lintas budaya atau antar generasi juga dapat mengalami kesulitan.
Kesimpulan
Bahasa gaul dan bahasa formal masing-masing digunakan untuk tujuan tertentu. Bahasa formal memberikan struktur dan kejelasan dalam komunikasi resmi dan akademik, sementara bahasa gaul memungkinkan ekspresi, kreativitas, dan kedekatan dalam lingkungan sosial yang informal. Bukan mana yang "lebih baik" yang penting, tetapi kemampuan menggunakan bahasa yang tepat untuk situasi, audiens, dan tujuan komunikasi.
Pendidikan bahasa di Indonesia harus lebih menekankan pada pengembangan kemampuan beradaptasi dengan bahasa daripada hanya menghafal kosa kata. Fleksibilitas linguistik sangat penting bagi generasi muda di era digital yang serba terbuka untuk berkomunikasi, membangun identitas, dan menjalin hubungan.
