Konten dari Pengguna

AI Makin Sering Dipakai Pelajar, Apakah Sistem Pendidikan Kita Perlu Berubah?

Listiawati

Listiawati

Mahasiswa Universitas Pamulang

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Listiawati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Siswa SMK menggunakan laptop dalam kegiatan pembelajaran di sekolah di tengah perkembangan teknologi digital.Sumber/Kredit:Dokumentasi pribadi/Listiawati.
zoom-in-whitePerbesar
Siswa SMK menggunakan laptop dalam kegiatan pembelajaran di sekolah di tengah perkembangan teknologi digital.Sumber/Kredit:Dokumentasi pribadi/Listiawati.

Di tengah perkembangan teknologi saat ini, penggunaan AI dalam pendidikan semakin dekat dengan kehidupan siswa. AI dapat membantu pelajar mengerjakan tugas atau mencari informasi yang berkaitan dengan materi yang diberikan oleh guru.Perkembangan ini membuat kita tidak bisa hanya melarang penggunaan AI, tetapi juga perlu mengajarkan bagaimana teknologi tersebut dapat digunakan dengan bijak dan bertanggung jawab.

Penggunaan AI di kalangan pelajar belakangan kembali menjadi perhatian seiring dengan semakin luasnya penggunaan teknologi AI dalam dunia pendidikan. Perkembangan tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai bagaimana sekolah seharusnya menyikapi penggunaan AI oleh siswa. Apakah AI harus dilarang, atau justru perlu diarahkan agar menjadi bagian dari proses belajar?

AI dalam Pendidikan dan Manfaatnya bagi Pelajar. AI sangat membantu siswa, salah satunya dalam mencari informasi yang dibutuhkannya, seperti mencari ide, membantu menjawab tugas, latihan soal, dan mendukung siswa untuk belajar secara mandiri.

Namun, di sisi lain, penggunaan AI juga dapat menjadi masalah jika siswa hanya menyalin jawaban yang diberikan tanpa memahami materi yang dipelajari.

Oleh karena itu, cara guru memberikan tugas juga dapat mulai diubah. Jika sebelumnya guru memberikan pertanyaan seperti, “Apa yang dimaksud dengan globalisasi?”, pertanyaan tersebut dapat dibuat lebih personal dan mendorong siswa untuk berpikir.

Misalnya, “Menurut pendapatmu, bagaimana pengaruh globalisasi terhadap kehidupan di lingkungan tempat tinggalmu? Berikan satu contoh yang kamu temui sendiri.”

Dengan cara seperti ini, siswa tetap dapat mencari informasi melalui AI atau internet, tetapi mereka juga dituntut untuk memberikan pendapat berdasarkan pemahaman dan pengalaman mereka sendiri. Dengan begitu, siswa tidak hanya mencari jawaban, tetapi juga berusaha memahami materi yang dipelajari.

Kita juga perlu mulai beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Sekolah tidak harus selalu melawan penggunaan AI, tetapi dapat mengajarkan siswa bagaimana menggunakannya dengan benar.

Misalnya, siswa perlu diajarkan cara mengecek kebenaran informasi yang diberikan AI, pentingnya mencantumkan sumber, memahami batas penggunaan AI dalam tugas, serta membedakan penggunaan AI sebagai bantuan belajar dengan tindakan plagiarisme.

Dengan begitu, siswa tidak hanya mampu menggunakan teknologi, tetapi juga memahami etika dan tanggung jawab dalam menggunakannya.

Selain cara memberikan tugas, sistem penilaian terhadap siswa juga dapat mulai berubah. Jika penilaian hanya didasarkan pada tugas tertulis, akan lebih sulit untuk mengetahui sejauh mana siswa benar-benar memahami materi.

Karena itu, guru dapat memperbanyak kegiatan seperti: Presentasi, Diskusi, Praktik, Proyek, Tanya jawab secara langsung dan tugas berdasarkan pengalaman siswa.

Dengan demikian, yang dinilai bukan hanya apakah jawaban siswa benar atau salah, tetapi juga bagaimana siswa memahami, berpikir, dan menjelaskan jawabannya.

Pada akhirnya, perkembangan teknologi dengan hadirnya AI bukan berarti siswa tidak perlu belajar lagi. Justru, di tengah perkembangan teknologi seperti sekarang, siswa perlu diajarkan bagaimana menggunakan AI secara bijak dan bertanggung jawab. AI seharusnya menjadi alat yang membantu proses belajar, bukan menggantikan proses berpikir siswa.

Teknologi boleh berkembang, tetapi kemampuan berpikir, kejujuran, dan tanggung jawab siswa tetap harus menjadi bagian penting dalam pendidikan.