Pendidikan Tanpa Keadilan, Masa Depan Tanpa Harapan

Pelajar, berkuliah di universitas Pamulang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Lyta Virna Tarigan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di negeri yang katanya menjunjung tinggi ilmu pengetahuan, pendidikan masih menjadi barang mewah bagi sebagian rakyatnya. Sekolah dibanggakan sebagai jalan keluar dari kemiskinan, tapi pada kenyataannya, hanya segelintir yang mampu benar-benar melangkah keluar. Ketimpangan yang akut dalam sistem pendidikan Indonesia telah menciptakan jurang sosial yang makin dalam: antara kota dan desa, antara kaya dan miskin, antara mimpi dan kenyataan.
Ketika Akses Menjadi Privilege
Banyak anak di pelosok negeri harus menempuh perjalanan berjam-jam hanya untuk mencapai sekolah. Jalanan becek, jembatan rusak, bahkan menyeberangi sungai menjadi rutinitas. Sementara di kota, anak-anak bisa belajar di ruang ber-AC, dengan guru-guru terbaik dan akses internet cepat. Di mana letak keadilan ketika satu anak berjuang menaklukkan alam hanya untuk belajar, sementara yang lain menikmati semua fasilitas sejak lahir?
Fasilitas Sekolah yang Jomplang
Ada sekolah yang memiliki laboratorium lengkap, perpustakaan digital, dan koneksi langsung ke dunia global. Di sisi lain, banyak sekolah yang bahkan tak punya toilet layak, dindingnya bolong, atapnya bocor. Guru di kota bisa mendapatkan pelatihan rutin dan tambahan penghasilan, sedangkan guru di daerah terpencil sering kali menjadi pejuang tunggal, mengajar semua mata pelajaran, dan dibayar tak seberapa. Ini bukan hanya soal pembangunan, ini adalah soal kemanusiaan.
Kurikulum Seragam, Realitas Tidak
Sistem pendidikan nasional memaksa semua siswa mengikuti standar yang sama, ujian yang sama, tanpa memandang kondisi mereka. Anak yang tidak memiliki buku, listrik, atau internet tetap diwajibkan mengerjakan soal-soal yang menuntut semua itu. Apakah adil menilai kemampuan siswa dengan alat ukur yang tak mempertimbangkan konteks? Akhirnya, anak-anak dari daerah tertinggal selalu berada di posisi bawah, dicap bodoh, padahal sistemlah yang menindas mereka.
Pendidikan yang Tak Mampu Mengangkat
Pendidikan seharusnya menjadi alat mobilitas sosial. Namun, di Indonesia, sering kali sekolah hanya mengabadikan status sosial yang ada. Anak-anak dari keluarga miskin masuk sekolah dengan mimpi besar, lalu keluar dengan kenyataan pahit: ijazah tak menjamin pekerjaan, gelar tak menjamin kesejahteraan. Banyak dari mereka kembali ke lingkaran kemiskinan yang sama, dengan luka yang lebih dalam karena merasa telah "gagal", padahal sistemlah yang gagal pada mereka.
Keadilan yang Masih Jauh
Keadilan dalam pendidikan bukan berarti semua orang diperlakukan sama, tapi setiap orang diberi kesempatan yang setara untuk berhasil. Itu berarti pemerataan guru berkualitas, distribusi anggaran yang adil, infrastruktur yang merata, dan kurikulum yang responsif terhadap kondisi lokal. Selama keadilan ini belum hadir, maka pendidikan hanyalah mimpi kosong—dan masa depan bangsa akan terus disandera oleh ketidaksetaraan.
Harapan Masih Ada
Meski kondisi menyedihkan ini nyata, kita belum sepenuhnya kalah. Ada komunitas guru yang berjuang tanpa pamrih, ada siswa-siswa yang tetap belajar di bawah lampu minyak, ada relawan yang membangun perpustakaan dari kardus bekas. Mereka adalah wajah harapan. Tapi harapan tidak cukup jika tidak dibarengi dengan keberpihakan nyata dari negara dan masyarakat.
