Konten dari Pengguna

Di Tengah Tekanan AS, Begini Strategi NVIDIA untuk Mempertahankan Pasar China

Muhammad Abiyyuda Arif Rachman

Muhammad Abiyyuda Arif Rachman

Mahasiswa Universitas Sriwijaya

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Abiyyuda Arif Rachman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

NVIDIA menghadapi posisi sulit di tengah persaingan teknologi antara Amerika Serikat (AS) dan China. Di satu sisi, Washington membatasi ekspor chip kecerdasan buatan (AI) canggih ke China. Di

Chip NVIDIA Corp - oleh Stas Knop via Pexels.com. https://www.pexels.com/id-id/foto/orang-tangan-industri-teknologi-19356873/
zoom-in-whitePerbesar
Chip NVIDIA Corp - oleh Stas Knop via Pexels.com. https://www.pexels.com/id-id/foto/orang-tangan-industri-teknologi-19356873/

sisi lain, China tetap menjadi salah satu pasar teknologi penting yang ingin dipertahankan NVIDIA.

Salah satu langkah NVIDIA adalah mempertahankan akses ke pasar China melalui chip H200, setelah pemerintah AS memberikan izin terbatas untuk pengirimannya. Pada 14 Juli 2026, Jeffery Kessler selakuWakil Menteri Perdagangan untuk Industri dan keamanan AS menyebut “sejumlah kecil chip H200 telah mulai dikirim ke China”. Pengiriman tersebut masih sangat terbatas pada 10 perusahaan China karena proses ekspor tetap berada di bawah pengawasan pemerintah AS.

H200 sendiri merupakan salah satu chip AI berkemampuan tinggi milik NVIDIA yang digunakan untuk menjalankan dan melatih model AI. Penjualan chip tersebut menjadi bagian dari tarik-menarik kepentingan antara Washington dan Beijing karena teknologi AI dinilai memiliki nilai strategis, baik secara ekonomi maupun keamanan nasional.

Bagi NVIDIA, izin terbatas tersebut dapat menjadi salah satu cara untuk tetap mempertahankan hubungan bisnis dengan perusahaan teknologi China tanpa sepenuhnya keluar dari pasar tersebut. Sejumlah perusahaan China, termasuk perusahaan teknologi besarseperti Tencent, ByteDance, dan Alibaba, telah mendapatkan persetujuan untuk membeli H200 melalui mekanisme lisensi AS.

Namun, strategi tersebut tidak berarti NVIDIA dapat kembali menguasai pasar China seperti sebelumnya. China juga memiliki kepentingan untuk mengurangi ketergantungan terhadap teknologi asing dan mendorong perkembangan industri chip buatan dalam negeri.

Pada 18 Agustus 2026, NVIDIA mengonfirmasi pengiriman pertama H200 ke China melalui skema lisensi baru AS. Meski demikian, penjualan tersebut masih sangat kecil dibandingkan bisnis pusat data NVIDIA secara keseluruhan. Pendapatan data center NVIDIA pada kuartal yang berakhir 26 Juli mencapai sekitar US$89 miliar, sedangkan penjualan H200 ke China menyumbang kurang dari 1 persen dari angka tersebut.

Situasi tersebut menunjukkan bahwa China masih menjadi pasar yang ingin dijangkau NVIDIA, tetapi aksesnya semakin terbatas. Bahkan, dalam proyeksi kuartal berikutnya, NVIDIA tidak memasukkan pendapatan data center dari China dalam perkiraannya.

Di sisi lain, pembatasan terhadap chip AS justru memberikan ruang bagi perusahaan China seperti Huawei untuk memperkuat posisi di pasar domestik. Pada 17 September 2026 dilaporkan bahwa Huawei telah berkembang menjadi salah satu pemasok utama untuk kebutuhan AI berperforma tinggi di China setelah pembatasan terhadap chip NVIDIA mempersempit akses perusahaan China terhadap teknologi tersebut.

Dengan kondisi tersebut, langkah NVIDIA dapat dilihat sebagai strategi untuk menjaga keberadaan di pasar China sambil menyesuaikan diri dengan aturan ekspor AS. Perusahaan tidak sepenuhnya meninggalkan pasar tersebut, tetapi juga tidak dapat menjual produknya secara bebas seperti sebelumnya.

Persaingan NVIDIA di China pada akhirnya bukan hanya soal kemampuan teknologi. Perusahaan juga harus menghadapi kebijakan pemerintah AS, strategi industri China, serta meningkatnya kemampuan produsen chip domestik. Bagi perusahaan multinasional seperti NVIDIA, kondisi ini menunjukkan bahwa keputusan bisnis di pasar global semakin sulit dipisahkan dari dinamika geopolitik.