Dari Dapur ke Kebun: Gerakan Pertanian Ramah Lingkungan di Desa Batujajar Timur

Lecturer & Researcher, Department of Agricultural and Biosystem Engineering, Universitas Padjadjaran. He is passionate about developing smart biosensing technology as non-destructive technique for quality inspection in agriculture.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Muhammad Achirul Nanda tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Oleh: Muhammad Achirul Nanda dan Tim KKN, Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Industri Pertanian, Universitas Padjadjaran

Sampah
Sampah organik rumah tangga adalah salah satu jenis limbah yang paling banyak dihasilkan, namun paling sering diabaikan. Menurut data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (2020), sekitar 44,7 persen sampah di Indonesia berasal dari rumah tangga, dan sebagian besar merupakan sampah organik seperti sisa makanan dan kulit buah. Di sisi lain, penggunaan pupuk dan pestisida kimia masih mendominasi praktik pertanian di berbagai daerah.
Hal ini terjadi pula di Desa Batujajar Timur, Kecamatan Bandung Barat. Hasil survei lapangan dalam program pengabdian kepada masyarakat menunjukkan bahwa pengelolaan limbah organik di lingkungan warga masih sangat minim dilakukan. Dari hasil wawancara terhadap 20 warga, hanya satu orang yang mulai beralih ke pertanian dengan sedikit atau tanpa penggunaan bahan kimia buatan. Sebagian besar petani masih sangat bergantung pada pupuk kimia, sementara limbah dapur seperti kulit buah dan sayur hanya dibuang atau dibakar.
Kegiatan Pengabdian
Melihat kondisi ini, tim Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Padjadjaran merancang program pelatihan dengan pendekatan partisipatif untuk mengedukasi warga tentang cara mengubah limbah organik menjadi pupuk organik cair (POC), kompos padat, dan eco-enzyme. Harapannya, kegiatan ini tidak hanya meningkatkan kesadaran lingkungan, tetapi juga memberikan solusi konkret untuk mendukung pertanian berkelanjutan.
Kegiatan dimulai dengan sesi sosialisasi yang memaparkan kondisi sampah organik di Indonesia dan dampaknya terhadap lingkungan. Warga diperkenalkan pada konsep pertanian berkelanjutan yang dapat dilakukan dengan memanfaatkan limbah rumah tangga. Dalam diskusi ini, peserta belajar tentang manfaat penggunaan pupuk organik, baik cair maupun padat, serta potensi eco-enzyme sebagai produk serbaguna dari dapur.
Demonstrasi Pembuatan Kompos Organik
Pada sesi praktik, peserta diajak membuat kompos menggunakan metode pengomposan tertutup. Kompos dibuat dengan menyusun bahan-bahan organik dalam wadah yang tertutup namun memiliki ventilasi.
Bahan yang digunakan:
Sisa makanan organik (sayur, buah, ampas makanan)
Daun kering atau jerami
Tanah (sebagai aktivator mikroba)
Larutan EM4 (Effective Microorganisms)
Air secukupnya
Langkah-langkah pembuatan:
Siapkan ember atau tong berkapasitas minimal 30 liter dan buat lubang kecil di sisi untuk sirkulasi udara.
Buat lapisan pertama dari tanah setebal 10–15 cm.
Tambahkan lapisan kedua berupa sampah organik.
Siram dengan larutan EM4 (2–4 tutup botol Aqua) yang dicampur air sebagai lapisan ketiga.
Ulangi pelapisan hingga wadah penuh.
Tutup rapat wadah dan pastikan kelembaban terjaga pada kisaran 50–60%.
Aduk campuran setiap 3 hari untuk mempercepat fermentasi.
Kompos akan matang dalam waktu 3–4 minggu, ditandai dengan warna coklat kehitaman, tidak berbau busuk, dan bertekstur lembut.
Kompos padat ini dapat digunakan langsung untuk memperbaiki kesuburan tanah, meningkatkan kapasitas serapan air, serta mengurangi kebutuhan pupuk kimia.
Demonstrasi Pembuatan Eco-Enzyme
Eco-enzyme dibuat dari limbah dapur dan melalui proses fermentasi anaerob. Produk ini dapat digunakan sebagai pupuk cair, pestisida nabati, bahkan cairan pembersih alami.
Bahan yang digunakan:
Komposisi bahan mengikuti rasio 1 : 3 : 10 untuk gula merah : sampah organik : air, dengan rincian sebagai berikut:
150 gram gula merah
450 gram sisa buah dan sayuran (seperti kulit buah, batang sayur, dll)
1,5 liter air bersih
Wadah tertutup seperti botol plastik atau jerigen (kapasitas minimal 2,5 liter agar ada ruang untuk gas fermentasi)
Langkah-langkah pembuatan:
Siapkan botol atau jerigen, pastikan tutup tidak terlalu rapat agar gas fermentasi dapat keluar.
Larutkan gula merah dalam air, kemudian masukkan potongan kulit buah dan sayur.
Tutup wadah dan simpan di tempat teduh, hindari paparan sinar matahari langsung.
Fermentasi berlangsung minimal 2 minggu, selama itu buka tutup setiap beberapa hari untuk membuang gas.
Eco-enzyme yang berhasil ditandai dengan warna coklat keemasan, aroma khas fermentasi, dan adanya jamur putih di permukaan.
Jika dalam 2 minggu belum berubah warna dan bau, diamkan lagi selama beberapa minggu hingga siap digunakan.
Produk ini kemudian dapat dimanfaatkan untuk menyiram tanaman, membersihkan permukaan dapur, hingga sebagai disinfektan alami.
Dampak dan Antusiasme Warga
Melalui praktik langsung ini, warga tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga keterampilan yang dapat diterapkan secara mandiri. Terbentuk kelompok kecil warga RW 11 yang berkomitmen melanjutkan kegiatan ini secara berkala. Beberapa warga bahkan mulai menggunakan hasil fermentasi eco-enzyme di rumah dan mengganti sebagian penggunaan pupuk kimia dengan POC buatan sendiri.
Meski hasilnya menggembirakan, masih ada tantangan yang harus dihadapi. Penyuluhan yang belum merata, keterbatasan akses bahan seperti EM4, serta perubahan pola pikir masyarakat menjadi hambatan tersendiri. Oleh karena itu, program ini merekomendasikan adanya pendampingan lanjutan, kerja sama dengan perangkat desa, serta pengembangan sistem monitoring dampak untuk memastikan keberlanjutan.
Program ini membuktikan bahwa perubahan menuju pertanian yang ramah lingkungan bisa dimulai dari dapur rumah sendiri. Dengan modal sederhana seperti limbah sayuran dan gula merah, masyarakat bisa menciptakan pupuk dan pembersih alami yang bermanfaat. Dari Batujajar Timur, semangat ini bisa menyebar lebih luas, menjadikan pengelolaan sampah sebagai bagian dari solusi, bukan lagi sekadar masalah.
