Konten dari Pengguna

Dari Sampah Dapur Menjadi Berkah: Pengelolaan Sampah Organik di Batujajar Timur

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Achirul Nanda tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Oleh: Muhammad Achirul Nanda, Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Industri Pertanian, Universitas Padjadjaran

Sumber: Laporan kegiatan KKN-PPM Integrasi
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Laporan kegiatan KKN-PPM Integrasi

Sampah dapur yang setiap hari dihasilkan rumah tangga sering kali berakhir di tempat pembuangan atau bahkan dibakar. Padahal, sisa sayuran, kulit buah, dan berbagai bahan organik lainnya masih memiliki potensi untuk diolah menjadi produk yang bermanfaat bagi rumah tangga maupun pertanian.

Berangkat dari persoalan tersebut, dilaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Sosialisasi dan Pelatihan Pengelolaan Sampah Organik Rumah Tangga” di Desa Batujajar Timur, Kabupaten Bandung Barat. Kegiatan ini melibatkan masyarakat RW 10, RW 11, dan RW 12, khususnya kelompok tani dan rumah tangga yang menghasilkan sampah organik.

Berawal dari Persoalan Sampah Rumah Tangga

Program ini dilatarbelakangi oleh masih terbatasnya pemanfaatan sampah organik di tingkat rumah tangga. Berdasarkan observasi awal, tujuh keluarga petani yang dikunjungi di RW 11 belum memanfaatkan limbah dapur menjadi kompos maupun pupuk organik cair. Masyarakat sebenarnya pernah memperoleh penyuluhan mengenai kompos, tetapi kegiatan sebelumnya belum berlanjut hingga praktik dan penerapan secara konsisten.

Persoalan tersebut juga berkaitan dengan kondisi pengelolaan sampah di wilayah setempat. Keterbatasan fasilitas tempat pembuangan sementara dan rendahnya pemanfaatan sisa sayuran serta kulit buah menyebabkan bahan organik yang sebenarnya masih dapat dimanfaatkan justru terbuang. Melalui kegiatan pengabdian ini, masyarakat diperkenalkan dengan cara sederhana mengolah sampah organik menjadi produk yang dapat digunakan kembali. Kegiatan tidak hanya berupa penyampaian materi, tetapi juga demonstrasi dan praktik langsung agar teknik yang diperkenalkan lebih mudah dipahami dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Mengubah Limbah Dapur Menjadi Kompos

Salah satu materi utama adalah pembuatan kompos organik menggunakan wadah tertutup. Bahan yang digunakan relatif sederhana dan tersedia di sekitar rumah, seperti sisa makanan, sayuran, buah, daun kering atau jerami, tanah, air, serta larutan EM4 untuk membantu proses dekomposisi. Proses dilakukan dengan menyusun tanah dan sampah organik secara berlapis, kemudian menambahkan larutan EM4. Kelembapan campuran dijaga sekitar 50–60 persen dan bahan diaduk secara berkala. Setelah sekitar tiga hingga empat minggu, kompos yang matang ditandai dengan warna cokelat kehitaman, tidak berbau busuk, dan memiliki tekstur lembut.

Pemanfaatan kompos memberikan dua manfaat sekaligus, yaitu mengurangi jumlah sampah organik rumah tangga dan menghasilkan bahan yang dapat digunakan kembali untuk mendukung budidaya tanaman. Kompos juga diperkenalkan sebagai alternatif yang dapat membantu meningkatkan kesuburan tanah, mengurangi penggunaan pupuk kimia, serta meningkatkan kemampuan tanah menyimpan air.

Kulit Buah Juga Bisa Dimanfaatkan

Selain kompos, masyarakat diperkenalkan dengan pembuatan eco-enzyme. Eco-enzyme merupakan hasil fermentasi bahan organik seperti kulit buah dengan gula dan air. Bahan tersebut difermentasi dalam wadah dan disimpan di tempat teduh yang tidak terkena sinar matahari langsung. Selama proses berlangsung, terjadi perubahan pada warna dan aroma cairan sebagai bagian dari proses fermentasi. Eco-enzyme diperkenalkan karena memiliki potensi pemanfaatan untuk kebutuhan rumah tangga maupun pertanian. Dengan pendekatan ini, kulit buah dan bahan organik yang sebelumnya langsung dibuang dapat memperoleh nilai guna baru.

Dari Sosialisasi Menuju Praktik

Kegiatan pengabdian menggunakan pendekatan learning by doing. Masyarakat tidak hanya memperoleh penjelasan mengenai pentingnya pengelolaan sampah, tetapi juga diperkenalkan langsung dengan proses pembuatan produk dari sampah organik. Pendekatan tersebut membuat pengetahuan yang diberikan lebih dekat dengan aktivitas sehari-hari dan lebih mudah untuk dipraktikkan secara mandiri. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa masyarakat memperoleh pemahaman mengenai pembuatan pupuk organik cair, kompos, dan eco-enzyme. Selain itu, terbentuk kelompok kecil yang berkomitmen untuk terus mengembangkan praktik pengelolaan sampah organik.

Meski demikian, keberlanjutan menjadi tantangan berikutnya. Evaluasi kegiatan menunjukkan perlunya penyuluhan yang lebih konsisten, peningkatan kesadaran terhadap pengolahan limbah organik, serta pendampingan agar praktik yang telah diperkenalkan tidak berhenti setelah kegiatan selesai.

Langkah Kecil dari Rumah untuk Lingkungan

Pengelolaan sampah tidak selalu membutuhkan teknologi yang rumit. Upaya sederhana dapat dimulai dengan memilah sampah organik dan mengolahnya menjadi produk yang masih memiliki manfaat. Pengalaman di Desa Batujajar Timur menunjukkan bahwa sampah dapur tidak harus selalu berakhir di tempat pembuangan. Melalui pengetahuan dan praktik yang tepat, sisa sayuran, kulit buah, dan bahan organik lainnya dapat dikembalikan ke siklus pemanfaatan melalui kompos, pupuk organik cair, maupun eco-enzyme.

Ke depan, keberlanjutan program memerlukan pendampingan rutin, kolaborasi dengan pemerintah desa atau pihak terkait, serta monitoring terhadap praktik pengolahan sampah organik yang dilakukan masyarakat. Dengan kebiasaan sederhana yang dimulai dari rumah, sampah organik dapat berubah dari persoalan lingkungan menjadi sumber daya yang bermanfaat bagi masyarakat, pertanian, dan lingkungan.