Konten dari Pengguna

Perkembangan Media Komunikasi Bikin No Life? Benarkah Demikian?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Afandi Abroor tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Perkembangan Media Komunikasi

Gambar perkembangan media komunikasi dari Waktu ke-waktu. Sumber: Ilustrasi dibuat menggunakan AI melalui ChatGPT (OpenAI)
zoom-in-whitePerbesar
Gambar perkembangan media komunikasi dari Waktu ke-waktu. Sumber: Ilustrasi dibuat menggunakan AI melalui ChatGPT (OpenAI)

Media komunikasi kini terus berkembang dalam membantu manusia berkomunikasi dan mendapatkan informasi seiring berjalannya zaman. Perkembangan tersebut dapat dilihat dari media cetak, media elektronik, hingga media digital yang sekarang banyak digunakan oleh masyarakat. Pertanyaannya, apakah perkembangan media komunikasi ini juga membawa perubahan terhadap cara masyarakat mengonsumsi informasi dan berkomunikasi dengan orang lain?

Kalau dulu masyarakat lebih banyak mendapatkan informasi melalui koran, majalah, radio, atau televisi, sekarang informasi bisa didapatkan hanya melalui sebuah perangkat yang ada di tangan. Perkembangan teknologi membuat proses mendapatkan informasi menjadi jauh lebih cepat dan mudah dibandingkan sebelumnya.

Penggunaan Media Komunikasi dan Efeknya

Ilustrasi seseorang sedang membaca informasi yang ada pada media cetak koran. Sumber: Ilustrasi dibuat menggunakan AI melalui ChatGPT (OpenAI)

Penggunaan media komunikasi tentunya memberikan dampak yang berbeda-beda pada setiap jenis medianya. Media cetak memberikan informasi kepada khalayak dalam bentuk fisik, media elektronik menyampaikan informasi melalui audio maupun visual, sedangkan media sosial memberikan informasi melalui berbagai platform yang dapat diakses melalui perangkat pribadi.

Pada zaman ketika media cetak dan elektronik masih menjadi media utama, komunikasi secara langsung masih cukup sering dilakukan. Hal ini karena teknologi yang memungkinkan seseorang berkomunikasi jarak jauh secara cepat belum semudah sekarang. Interaksi secara langsung juga membuat seseorang dapat melihat ekspresi, intonasi, dan kondisi emosional lawan bicaranya secara langsung.

Ilustrasi seseorang membagikan informasi yang ada di sosial media. Sumber: Ilustrasi dibuat menggunakan AI melalui ChatGPT (OpenAI)

Namun, hal tersebut mulai berubah ketika perangkat komunikasi pribadi semakin mudah dimiliki oleh masyarakat. Di zaman sekarang, media digital menjadi salah satu sarana utama untuk mendapatkan informasi sekaligus berkomunikasi dengan orang lain. Bahkan, penggunaan internet di Indonesia sudah sangat luas. DataReportal mencatat bahwa pada akhir 2025 terdapat sekitar 230 juta pengguna internet di Indonesia, dengan tingkat penetrasi mencapai 80,5 persen dari jumlah penduduk.

Kemudahan tersebut tentu memberikan banyak keuntungan. Kita bisa mengetahui berita terbaru, berkomunikasi dengan orang yang jauh, mencari informasi untuk kebutuhan pendidikan, bahkan mencari hiburan hanya melalui smartphone.

Namun, kemudahan tersebut juga dapat menimbulkan masalah ketika penggunaannya sudah berlebihan. Informasi yang terus muncul melalui media sosial dapat membuat seseorang terbiasa untuk terus melihat layar dan mencari informasi baru. Akibatnya, waktu yang seharusnya digunakan untuk berinteraksi secara langsung, belajar, bekerja, atau melakukan kegiatan lainnya bisa ikut berkurang.

Dengan Begitu, Apakah Media Sosial Menyebabkan Seseorang Menjadi No Life?

Sebenarnya, tidak sesimpel itu untuk mengatakan bahwa media sosial dapat menyebabkan seseorang menjadi no life karena ada banyak faktor yang memengaruhinya. No life sendiri merupakan istilah yang sering digunakan di media sosial untuk menggambarkan seseorang yang dianggap terlalu banyak menghabiskan waktunya untuk bermain media sosial, game, atau aktivitas di dunia digital lainnya.

Ilustrasi seseorang yang kecanduan bermain media sosial hingga menutup diri dari masyarakat. Sumber: Ilustrasi dibuat menggunakan AI melalui ChatGPT (OpenAI)

Penggunaan media sosial sebenarnya tidak selalu berarti seseorang tidak memiliki kehidupan sosial. Media sosial juga bisa digunakan untuk berkomunikasi, mencari teman, mengikuti komunitas, mendapatkan informasi, bahkan membangun relasi yang sebelumnya sulit dilakukan secara langsung.

Masalahnya lebih terletak pada bagaimana seseorang menggunakan media tersebut. Ketika media sosial mulai mengambil sebagian besar waktu seseorang sampai mengganggu aktivitas sehari-hari, masalahnya bukan lagi sekadar sering bermain media sosial. Misalnya, seseorang lebih memilih terus scrolling dibandingkan mengerjakan tugas, bertemu dengan teman, beristirahat, atau melakukan aktivitas lain yang sebenarnya lebih penting.

Hal ini cukup masuk akal jika melihat besarnya penggunaan media sosial di Indonesia. Pada 2025, DataReportal mencatat terdapat sekitar 143 juta identitas pengguna media sosial di Indonesia. Angka tersebut setara dengan sekitar 50,2 persen dari total populasi Indonesia pada saat itu.

Selain itu, penggunaan media sosial juga tidak selalu memberikan dampak yang sama kepada setiap orang. American Psychological Association mencatat bahwa hubungan antara penggunaan media sosial dan kondisi psikologis cukup kompleks. Dalam beberapa penelitian, penggunaan media sosial yang tinggi memang ditemukan berkaitan dengan masalah seperti kesepian, tetapi hubungan tersebut tidak berarti bahwa media sosial secara otomatis menjadi penyebabnya. Faktor lain seperti bagaimana seseorang menggunakan media sosial dan bagaimana kondisi sosialnya juga ikut berpengaruh.

Jadi, menyebut seseorang menjadi “no life” hanya karena aktif di media sosial sebenarnya kurang tepat. Media sosial hanyalah sebuah alat. Dampaknya kembali lagi kepada bagaimana seseorang menggunakannya.