Konten dari Pengguna

Dilema Anak PMI di Sabah: Pagi Menjadi Buruh Sawit, Siang Kejar Cita-Cita

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari M Aiman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bagi sebagian besar remaja di perkotaan, pukul 06.00 adalah waktu untuk bersiap berangkat ke sekolah dengan tenang, namun bagi anak PMI di Sabah, fajar membawa cerita perjuangan yang berbeda di pedalaman Malaysia demi bisa mengenyam pendidikan layak. Jauh sebelum matahari terbit dari balik cakrawala, mereka sudah harus berjalan menyusuri deretan pohon sawit. Tangan-tangan mereka yang masih belia dipaksa bersahabat dengan kasarnya karung pupuk kosong di pundak. Alih-alih membawa tas sekolah, mereka menghabiskan pagi hari memungut brondolan sawit yang berserakan di tanah, membantu orang tua mencari nafkah sebelum jam masuk sekolah.

Rutinitas yang melelahkan ini bukan sekadar pekerjaan sehari-hari. Inilah gambaran nyata kehidupan banyak anak pekerja migran yang harus menyeimbangkan tanggung jawab kepada keluarga dengan keinginan untuk mempertahankan hak mereka untuk belajar.

Di tengah keterisolasian geografis dan keterbatasan akses legal, harapan untuk mengenyam pendidikan beruntung tidak sepenuhnya padam. Titik terang tersebut hadir melalui Community Learning Center (CLC) yang berlokasi di area Giram Estate, Kunak, Sabah, Malaysia.

CLC merupakan Institusi pendidikan nonformal setingkat jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang beroperasi berdasarkan kesepakatan bilateral antara Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Malaysia terkait pemenuhan hak pendidikan anak. Dalam implementasinya, CLC Giram berjalan atas sinergi tiga pilar utama: manajemen perusahaan perkebunan (Sime Darby Plantation) yang memfasilitasi ketersediaan lahan dan infrastruktur bangunan, Kementerian Pendidikan RI melalui penugasan Guru Bina serta penyediaan kurikulum nasional dan buku pelajaran, serta Sekolah Indonesia Kota Kinabalu (SIKK) yang bertindak sebagai sekolah induk dan koordinator resmi seluruh operasional akademik di lapangan.

Kehadiran pusat kegiatan belajar ini menjadi jembatan krusial bagi anak-anak migran yang telah menyelesaikan pendidikan dasar di Sekolah Humana. Bagi mereka, CLC bukan sekadar tempat belajar biasa, melainkan sebuah kesempatan kedua untuk terus mempertahankan mimpi-mimpi mereka.

[Dok. Pribadi] Anak-anak PMI mengenakan seragam sekolah Indonesia di depan bangunan CLC 12 Ladang Giram, Sabah, Malaysia.

Ruang Sederhana menjaga Mimpi Anak PMI di Sabah Tetap Hidup

Secara operasional, CLC 12 Ladang Giram menggunakan bangunan yang sama dengan pusat sekolah Humana 128 Giram. Di sekolah yang sederhana ini, waktu belajar dibagi menjadi dua sesi dalam sehari. Dari pagi hingga siang hari, ruang kelas digunakan oleh siswa sekolah dasar (SD) Humana. Kemudian tepat pukul 13.00, ruangan tersebut berganti menjadi kelas untuk siswa SMP CLC. Ruang kelas ini menjadi tempat bagi anak-anak pekerja ladang sawit untuk melanjutkan kembali impian mereka yang sempat tertunda karena kesibukan bekerja.

Jika dilihat dari luar, kompleks sekolah ini sebenarnya cukup sederhana dan kokoh dengan lingkungan yang rapi dan bersih di tengah area perkebunan. Namun, karena letaknya di daerah pedalaman yang beriklim tropis, ruangan beratap seng tersebut terasa sangat panas dan gerah saat matahari siang sedang terik.

Bagi orang luar, tempat ini mungkin terlihat seperti sekolah terpencil biasa di tengah perkebunan. Namun bagi anak-anak buruh migran, CLC Ladang Giram adalah ruangan sakral yang mengembalikan identitas mereka sebagai pelajar. Melalui seragam sekolah Indonesia yang mereka kenakan dengan bangga, mereka mengirimkan pesan kuat bahwa kemiskinan dan keterbatasan tidak akan pernah bisa memadamkan mimpi mereka.

Antara Karung Sawit dan Pena

Kehadiran CLC memang membantu anak-anak untuk tetap belajar, tetapi sekolah ini tidak serta-merta menghilangkan beban ekonomi keluarga. Sebagai anak pekerja migran, keadaan menuntut mereka untuk membantu orang tua sejak usia muda. Sekolah bukan berarti mereka bisa lepas dari tanggung jawab membantu keluarga di ladang. Akibatnya, mereka harus menjalani dua peran sekaligus dalam sehari.

Pagi mereka milik perkebunan.

Siang mereka milik ruang kelas.

Setiap hari, aktivitas berat di ladang dimulai sejak pukul 06.00, saat kabut masih menutupi perkebunan dan udara pagi masih terasa dingin. Berjalan kaki sambil membawa karung kosong, lalu membungkuk berulang kali di antara pelepah sawit untuk mengumpulkan brondolan adalah pekerjaan yang sangat melelahkan bagi anak-anak usia sekolah.

[Dok. Pribadi] Kawasan perkebunan kelapa sawit di Sabah, tempat anak-anak PMI membantu bekerja sebelum berangkat sekolah.

Pekerjaan di ladang biasanya selesai sekitar pukul 12.00. Tanpa banyak waktu untuk beristirahat, para siswa harus segera pulang ke rumah untuk mandi, membersihkan debu serta sisa minyak sawit, lalu berganti pakaian dengan seragam putih-biru. Tepat pukul 13.00, ruangan kelas CLC sudah harus dipenuhi oleh anak-anak yang siap memulai pelajaran.

Perubahan aktivitas dari ladang ke sekolah ini selalu terasa sangat kontras. Jari-jari tangan yang tadinya kaku karena mengangkat karung sawit yang berat, tiba-tiba harus memegang pulpen untuk mencatat pelajaran sekolah.

Rasa lelah dan kantuk akibat bekerja sejak pagi sering kali datang menguji konsentrasi para siswa di dalam ruang kelas yang panas. Namun, tekad yang kuat membuat mereka tetap bertahan. Semangat belajar ini juga terus dijaga berkat bantuan para guru yang didatangkan langsung dari Indonesia.

Para guru ini tidak hanya mengajarkan materi pelajaran seperti Matematika, IPA, atau Bahasa Indonesia tetapi juga menjadi sosok yang selalu mengingatkan para siswa bahwa keadaan hidup saat ini tidak menentukan siapa mereka kelak.

Ketika sekolah selesai sekitar pukul 17.00, para siswa pulang dengan tubuh yang lelah, tetapi mereka membawa pengetahuan dan harapan baru. Titik awal harapan itu sering kali bermula dari sudut ruang kelas, tempat sebuah peta Indonesia dipajang. Bagi banyak siswa, peta itu melambangkan tanah air yang selama ini hanya mereka kenal melalui cerita keluarga atau kunjungan yang tidak sering. Setiap kali memandangnya, mereka diingatkan bahwa dunia jauh lebih luas daripada perkebunan tempat mereka tinggal.

Kesadaran tersebut memicu keinginan para siswa untuk bisa melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi di tanah air. Untuk menjaga nyala api impian itu, para guru disekolah ini sering mengambil kutipan pidato dari Presiden Soekarno yang berbunyi:

Gantungkan cita-citamu setinggi langit! Bermimpilah setinggi langit. Jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang.

Pesan magis itulah yang selalu terpatri di dada para siswa. Di antara kasarnya karung pupuk dan lembutnya genggaman pena, mereka terus memilih pendidikan. Bukan karena perjalanan itu mudah, melainkan karena keyakinan bahwa jalur inilah yang akan mengubah takdir mereka.

Keringat yang bercucuran hari ini adalah bahan bakar untuk menjemput masa depan yang cerah. Perjuangan di CLC Giram adalah ikhtiar nyata, sebuah pembuktian bahwa tangan-tangan tangguh anak PMI di Sabah tidak akan selamanya terikat pada kerasnya ladang sawit. Esok hari, jemari kaku itu akan berdiri tegak menggenggam dunia yang jauh lebih luas!