Prestasi Akademik Siswa Indonesia Dan Negara Negara ASEAN: Berdasarkan PISA

kegiatan saat ini sedang melakukan kegiatan penelitian mahasiswa universitas negeri makassar jurusan pendidikan guru sekolah dasar
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari M ANUGRAH RAMADHAN tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

PISA (Programme for International Student Assessment) adalah program asesmen internasional yang diselenggarakan oleh OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development). Tujuan utama PISA adalah untuk mengukur sejauh mana siswa usia 15 tahun di berbagai negara mampu menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang telah mereka pelajari di sekolah ke dalam situasi kehidupan nyata.
Asesmen ini dilakukan setiap tiga tahun sekali dan mencakup tiga domain utama, yaitu literasi membaca, matematika, dan sains. Selain itu, edisi-edisi terbaru PISA juga mengukur aspek lain seperti kesejahteraan siswa, kreativitas, pemikiran kritis, kesetaraan gender, serta dampak latar belakang sosial-ekonomi terhadap capaian siswa.
PISA bukan sekadar ujian akademik. Tes ini dirancang untuk menilai kemampuan siswa dalam berpikir analitis, memecahkan masalah, dan memahami informasi secara mendalam, kemampuan yang sangat penting di dunia nyata, terutama dalam abad ke-21.pertama kali diluncurkan oleh OECD pada tahun 2000; sebuah program asesmen berskala internasional yang menguji dan mengukur tingkat pengetahuan, keterampilan, kesejahteraan, dan kesetaraan pada siswa usia 15 tahun.
Imbas pandemi Covid-19, PISA edisi ke-8 yang mulanya direncanakan pada tahun 2021, ditunda hingga 2022. Pada edisi 2022 ini, asesmen dilakukan terhadap sekitar 690 ribu siswa usia 15 tahun dari 81 negara.
Indonesia, sebagai negara mitra OECD, selalu catatkan partisipasi pada tiap edisi penyelenggaraan penilaian PISA. Akselerasi tes PISA 2022 terhadap populasi siswa usia 15 tahun di Indonesia berada di angka 84,9%, sama seperti edisi sebelumnya tahun 2018.
Pada hasil PISA 2022, Indonesia menunjukkan tren yang cukup kompleks. Meski terjadi penurunan skor dalam ketiga bidang utama—membaca, matematika, dan sains—peringkat Indonesia justru mengalami kenaikan dibandingkan edisi 2018. Ini menandakan bahwa banyak negara lain juga mengalami penurunan performa yang serupa atau bahkan lebih signifikan akibat dampak pandemi COVID-19 terhadap sistem pendidikan global.
Dalam literasi membaca, skor Indonesia tercatat sebesar 359, turun dari 371 pada tahun 2018. Meski demikian, peringkat Indonesia naik ke posisi 71 dari sebelumnya 74. Skor ini masih jauh di bawah rata-rata negara-negara OECD yang berada di angka 487. Hanya sekitar 25% siswa Indonesia yang berhasil mencapai tingkat kemahiran minimum atau Level 2 dalam membaca, sementara rata-rata OECD mencapai lebih dari 73%.
Pada bidang matematika, skor siswa Indonesia sebesar 366, juga menurun dari 379 pada edisi sebelumnya. Namun, peringkatnya naik ke posisi 70 dari 73. Dengan perbandingan, rata-rata skor matematika OECD berada di angka 489. Di Indonesia, hanya sekitar 18% siswa yang mencapai Level 2 ke atas, jauh tertinggal dari rata-rata OECD yang hampir mencapai 69%.
Sementara itu, dalam bidang sains, Indonesia memperoleh skor sebesar 383, turun dari 396 pada PISA 2018. Peringkatnya naik ke posisi 67 dari sebelumnya 71. Lagi-lagi, skor ini masih jauh tertinggal dari rata-rata OECD yang mencapai 489, dengan hanya sekitar 34% siswa Indonesia yang berhasil mencapai Level 2 ke atas, dibandingkan dengan lebih dari 75% siswa di negara OECD.
Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Nadiem Makarim dalam acara perilisan PISA 2022, Selasa (5/12), menyampaikan bahwa peringkat Indonesia naik 5-6 posisi dibanding PISA 2018.
Hasil Data PISA Pada Tahun 2022 Negara Negara ASEAN
Adapun statistik Indonesia dalam pencapaian Membaca, Matematika, dan Sains dari tahun ke tahun.
Mengapa Indonesia tertinggal dengan Negara lain dalam hal Literasi membaca, Matematika, dan Sains.
Rendahnya literasi matematika disebabkan oleh beberapa hal. Faktor- faktor yang memengaruhi prestasi siswa Indonesia pada studi PISA 2012 yaitu latar belakang peserta dari faktor internal yaitu jati diri siswa dan faktor eksternal yaitu kondisi keluarga, kepemilikan sarana belajar, dan kondisi sosial budaya di rumah dengan jati diri, kondisi sosial ekonomi dan budaya, kepemilikan komputer, dan buku-buku merupakan faktor utama yang memengaruhi capaian literasi matematika siswa Indonesia peserta PISA 2012 (Pakpahan, 2016: 331). Wulandari & Azka (2018) menyebutkan faktor rendahnya kemampuan pengetahuan matematis dipengaruhi: 1) materi yang dipilih, 2) pembelajaran yang diberikan oleh guru, 3) lingkungan kelas, 4) dukungan lingkungan keluarga, 5) kesiapan dalam pelaksanaan tes dan 6) kemampuan yang dimiliki setiap siswa sendiri. Selanjutnya Mahdiansyah dan Rahmawati (2014) menyatakan bahwa dari aspek konteks, scientific merupakan konteks yang paling rendah dicapai siswa; Adapun soal-soal tes yang mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi (higher orderthinking skills-HOTS) belum mampu dikuasai siswa dengan baik; Terdapat sejumlah faktor determinan dari capaian literasi matematika tersebut, yaitu faktor personal, faktor instruksional, dan faktor lingkungan; Kesimpulan studi adalah literasi matematika siswa jenjang pendidikan menengah masih rendah, meskipun desain tes internasional yang digunakan telah disesuaikan dengan konteks Indonesia.
Rendahnya literasi matematika disebabkan oleh beberapa hal. Faktor- faktor yang memengaruhi prestasi siswa Indonesia pada studi PISA 2012 yaitu latar belakang peserta dari faktor internal yaitu jati diri siswa dan faktor eksternal yaitu kondisi keluarga, kepemilikan sarana belajar, dan kondisi sosial budaya di rumah dengan jati diri, kondisi sosial ekonomi dan budaya, kepemilikan komputer, dan buku-buku merupakan faktor utama yang memengaruhi capaian literasi matematika siswa Indonesia peserta PISA 2012 (Pakpahan, 2016: 331). Wulandari & Azka (2018) menyebutkan faktor rendahnya kemampuan pengetahuan matematis dipengaruhi: 1) materi yang dipilih, 2) pembelajaran yang diberikan oleh guru, 3) lingkungan kelas, 4) dukungan lingkungan keluarga, 5) kesiapan dalam pelaksanaan tes dan 6) kemampuan yang dimiliki setiap siswa sendiri. Selanjutnya Mahdiansyah dan Rahmawati (2014) menyatakan bahwa dari aspek konteks, scientific merupakan konteks yang paling rendah dicapai siswa; Adapun soal-soal tes yang mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi (higher orderthinking skills-HOTS) belum mampu dikuasai siswa dengan baik; Terdapat sejumlah faktor determinan dari capaian literasi matematika tersebut, yaitu faktor personal, faktor instruksional, dan faktor lingkungan; Kesimpulan studi adalah literasi matematika siswa jenjang pendidikan menengah masih rendah, meskipun desain tes internasional yang digunakan telah disesuaikan dengan konteks Indonesia.
Faktor penyebab rendahnya literasi sains peserta didik berdasarkan tabel di atas meliputi peserta didik, guru, dan sekolah. Faktor peserta didik di antaranya: 1) peserta didik belum memahami konsep dasar sains yang diajarkan oleh guru, tetapi malas untuk bertanya; 2) pembelajaran IPA di sekolah diselenggarakan masih secara konvensional; 3) kurangnya kemampuan peserta didik dalam menginterpretasikan tabel atau grafik; 4) pengabaian pentingnya kemampuan membaca/ literasi dan menulis sebagai kompetensi yang wajib dimiliki peserta didik (Hidayah, dkk., 2019); dan 5) kurangnya minat peserta didik untuk membaca serta mengulang materi pembelajaran. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Sutrisna (2021), mengungkapkan bahwa peserta didik hanya membaca buku pelajaran dan mengulang kembali materi saat akan menghadapi ujian atau ada tugas dari guru.
Apa yang menjadi pembeda sistem pendidikan Di Indonesia dengan negara - negara ASEAN lainnya
Indonesia memiliki kurikulum nasional yang bersifat padat konten, berorientasi pada penguasaan materi, dan masih menekankan pada ujian sebagai tolak ukur utama pencapaian siswa. Hal ini berbeda dengan Singapura, yang menerapkan pendekatan berbasis kompetensi dan berfokus pada inquiry-based learning, di mana siswa dilatih untuk berpikir kritis, kreatif, dan mampu memecahkan masalah nyata. Di Singapura, guru juga melalui pelatihan intensif dan sertifikasi berkelanjutan, sementara di Indonesia kualitas dan pemerataan guru masih menjadi tantangan besar, terutama di daerah 3T (tertinggal, terdepan, terluar).
Malaysia memiliki sistem pendidikan yang relatif lebih terstruktur dalam hal pelatihan kejuruan dan teknikal. Pemerintah Malaysia mengembangkan Technical and Vocational Education and Training (TVET) secara agresif untuk menjawab kebutuhan tenaga kerja industri. Indonesia juga memiliki SMK (Sekolah Menengah Kejuruan), namun pelaksanaannya masih menghadapi hambatan seperti ketidaksesuaian antara kurikulum dengan kebutuhan industri dan minimnya kerja sama dengan sektor swasta.
Vietnam menjadi sorotan dalam beberapa tahun terakhir karena peningkatan signifikan dalam hasil PISA. Salah satu kunci keberhasilan Vietnam adalah konsistensi dalam implementasi kebijakan pendidikan, disiplin tinggi di kalangan siswa, serta penguatan peran guru. Di Indonesia, meskipun ada berbagai kebijakan dan reformasi pendidikan seperti Kurikulum Merdeka, konsistensi implementasi di tingkat daerah masih menjadi kendala yang nyata.
Dari segi anggaran, meskipun Indonesia telah mengalokasikan 20% dari APBN untuk sektor pendidikan sebagaimana diamanatkan UUD 1945, efektivitas penggunaan anggaran tersebut masih perlu ditingkatkan. Sebaliknya, negara seperti Thailand mengalokasikan dana lebih besar untuk pendidikan dasar, termasuk infrastruktur, pelatihan guru, dan pengembangan literasi sejak usia dini.
Perbandingan ini menunjukkan bahwa meskipun Indonesia telah menunjukkan kemajuan, masih banyak ruang untuk belajar dari praktik-praktik terbaik di kawasan ASEAN, terutama dalam hal manajemen mutu guru, kurikulum yang relevan dengan zaman, serta penguatan pendidikan vokasional dan teknis.
