Konten dari Pengguna

Jean Alesi, Talenta Sia-Sia Formula 1

M Ardi Kurniawan

M Ardi Kurniawan

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari M Ardi Kurniawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jean Alesi (Foto: Pinterest)
zoom-in-whitePerbesar
Jean Alesi (Foto: Pinterest)

Jean Alesi dan Michael Schumacher adalah dua pebalap paling berbakat di awal 1990-an. Meski begitu, karir keduanya berakhir dengan hasil yang sangat berbeda. Schumacher mengoleksi tujuh gelar juara dunia Formula 1. Alesi hanya sukses menjuarai satu seri Grand Prix. Apa yang salah?

Awal karier Alesi tampak sangat menjanjikan. Ia mengoleksi titel Formula 3 Perancis dan Formula 3000 Internasional sebelum masuk Formula 1. Pada debutnya di Grand Prix Perancis 1989, Alesi finis di posisi empat. Sesudah itu, berkali-kali pebalap Perancis itu menunjukkan bakatnya di belakang kemudi.

Aksinya yang paling diingat publik Formula 1 tentu di Grand Prix Amerika 1990. Dengan mobil Tyrrell yang payah, Alesi mampu mengimbangi Ayrton Senna dan McLaren yang kala itu sangat superior.

embed from external kumparan

Williams dan Ferrari adalah dua tim yang berminat dengan Alesi saat itu. Konon, kontrak dengan Williams sudah ditekan sebelum tawaran Ferrari datang. Entah apa yang ada di pikiran Alesi saat itu. Ia memilih untuk menyetir Ferrari. Alesi sendiri tak pernah terbuka soal hal ini.

“Orang mulai bertanya-tanya soal kontrak Williams pada 1990. Saya tak bisa menjelaskan yang terjadi saat itu,” ujar Alesi pada balapan terakhirnya di Grand Prix Jepang 2001.

Spekulasi pun beredar. Sebagian berpendapat bahwa Alesi sekadar menuruti hasratnya untuk mengemudi Ferrari. Apalagi kalau mengingat ia adalah orang keturunan Sisilia, Italia. Sebagian yang lain melihat tindakan Alesi adalah hal yang rasional.

Pada musim 1989 – 1990, Ferrari memang lebih cepat dari Williams. Wajar jika ia memilih tim yang mampu memberi mobil lebih kencang. Tak ada yang tahu jika Williams kelak menjadi sangat dominan pada pertengahan 1990-an.

Apapun itu, karier Alesi di Ferrari menyisakan rasa frustrasi. Selama lima tahun ia hanya mengoleksi satu kemenangan. Selama itu pula mobil Ferrari tidak kompetitif sama sekali. Tak ada asa untuk menjadi juara dunia. Lebih menyedihkan lagi, Ferrari justru kompetitif usai Alesi pergi.

Sebagai komparasi, Michael Schumacher mengoleksi 25 kemenangan selama lima tahun pertamanya di Ferrari.

Apakah ini perkara mobil saja? Gerhard Berger, rekan Alesi selama lima tahun di Ferrari dan Benetton tentu tak setuju. “Alesi adalah pebalap emosional dan sering kacau saat balapan,” ujar Berger. Ucapan Berger tak salah.

Pada Grand Prix Italia 1994, Alesi menjadi pebalap tercepat saat latihan, merebut pole, dan memimpin jauh di depan pebalap-pebalap lain. Lap 15, gearbox Ferrarinya rusak saat masuk pit. Alesi membanting setir. Marah dan kecewa.

Dengan berseragam lengkap, ia mengemudi Alfa Romeo selama 30 menit untuk pulang ke rumahnya di Avignon, Perancis.

“Alesi terlalu cepat memindah gigi,” ucap John Barnard, engineer Ferrari saat itu. Putaran mobilnya bermasalah dan membuat gearbox rusak.

Kacaunya Alesi saat balapan bisa dilihat juga di Grand Prix Australia 1997. Saat itu, tim Benetton berkali-kali memanggil Alesi masuk pit. Entah apa maksudnya, ia enggan masuk pit sampai kehabisan bensin.

Di Benetton pula Alesi berharap menjadi juara dunia. Sayang, mobil Benetton justru tidak kompetitif usai ditinggal pergi Michael Schumacher. Ini jadi soal serius untuk Alesi.

Dengan mobil yang sesuai, ia bisa mengeluarkan semua kemampuan mengemudinya. Tapi kalau moblnya payah, Alesi enggan mengaturnya. Ini pula yang membedakannya dengan Schumacher. Pebalap Jerman itu gemar menganalisis dan mengatur mobil untuk mendapat hasil maksimal.

Alesi memang berbakat. Tapi itu tidak cukup di Formula 1 untuk menjadi juara dunia. Kombinasi nasib sial, rasa frustrasi, dan gaya mengemudi menjadi penyebab ia gagal.

Pada Grand Prix Inggris 2000, Eddie Jordan, manajernya saat menjadi juara Formula 3000 berkomentar, “Satu-satunya hal yang saya sesali adalah tidak pernah bekerja sama dengan Alesi selama di Formula 1. Saya yakin bisa membawanya menjadi juara dunia. Ia memang pantas.”

Setelah 13 musim dan 201 balapan, Alesi hanya mengoleksi 1 kemenangan. Sebagian orang menyesalkan pilihannya mengendarai Ferrari dibanding Williams. Andai ia berseragam Williams, ia mungkin sudah juara dunia. Selama 1991 – 1997, Williams memang dominan dan menghasilkan empat juara dunia.

Lalu, apakah Alesi menyesal?

“Saya tidak menyesal,” ujarnya saat ditanya soal tersebut. “Saya menikmati balapan dan melawan pebalap-pebalap terbaik di dunia.”

embed from external kumparan