Konten dari Pengguna

Jangan Anggap Sepele: Rasa Takut Sebelum Operasi Bisa Berdampak pada Tubuh

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari M Azzam i tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

https://idn.freepik.com/foto-gratis/hari-sibuk-biasa-seorang-ahli-bedah_17291089.htm#fromView=keyword&page=1&position=1&uuid=ac11eb5a-0404-4b1d-84d4-454dd55eb4f6&query=Operasi (gpointstudio)
zoom-in-whitePerbesar
https://idn.freepik.com/foto-gratis/hari-sibuk-biasa-seorang-ahli-bedah_17291089.htm#fromView=keyword&page=1&position=1&uuid=ac11eb5a-0404-4b1d-84d4-454dd55eb4f6&query=Operasi (gpointstudio)

Menurut penelitian MDPI, banyak pasien merasakan kecemasan dan menganggap malam sebelum operasi terasa sangat lama. Pikiran dipenuhi berbagai kekhawatiran, seperti: apakah operasi akan berjalan dengan baik, bagaimana jika terjadi komplikasi, apakah akan sadar kembali setelah dibius, atau kemungkinan terbangun di tengah operasi, serta seberapa besar rasa sakit yang akan dirasakan setelah operasi.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut sering kali tidak diungkapkan secara langsung oleh pasien, tetapi diam-diam dapat menimbulkan kecemasan yang cukup besar. Sayangnya, banyak orang menganggap rasa takut sebelum operasi sebagai hal yang wajar sehingga tidak perlu diperhatikan. Padahal, menurut temuan systematic review yang dimuat di PubMed tahun 2025, kecemasan sebelum operasi dapat berdampak pada kondisi fisik pasien, seperti meningkatnya tekanan darah, denyut nadi, serta terganggunya kualitas tidur menjelang tindakan.

Di sinilah perawat memegang peran yang sering dianggap sederhana, tetapi sebenarnya sangat penting. Perawat dapat memberikan edukasi kepada pasien sebelum operasi dilakukan.

Bagi sebagian pasien, penjelasan yang jelas dari perawat dapat terasa lebih menenangkan dibandingkan hanya mendengar kalimat “tenang, semuanya aman.” Perawat dapat memberikan edukasi mengenai apa yang akan dialami pasien, mulai dari persiapan sebelum masuk ruang operasi, proses anestesi, kemungkinan yang dirasakan setelah sadar, hingga tahapan awal pemulihan.

Penelitian systematic review terbaru tahun 2025 menunjukkan bahwa pendekatan nonfarmakologis, seperti edukasi pasien, komunikasi terapeutik, teknik relaksasi, dan pendekatan psikologis, terbukti efektif dalam mengurangi kecemasan sebelum operasi. Bahkan, edukasi pasien termasuk salah satu intervensi yang sangat direkomendasikan dalam praktik keperawatan perioperatif.

Menariknya, edukasi ini bukan hanya tentang penyampaian informasi teknis. Cara perawat menjelaskan juga sangat berpengaruh. Penggunaan bahasa yang mudah dipahami, kontak mata, nada bicara yang tenang, serta pemberian kesempatan kepada pasien untuk bertanya dapat membuat pasien merasa dihargai dan lebih siap secara mental.

Sebagai contoh, ketika pasien dijelaskan bahwa rasa dingin setelah anestesi merupakan hal yang wajar, atau bahwa nyeri setelah operasi akan dikendalikan dengan obat dan pemantauan rutin, rasa tidak pasti yang sebelumnya menimbulkan ketakutan dapat berkurang. Dalam banyak kasus, ketakutan terbesar pasien bukan terletak pada operasinya, melainkan pada hal-hal yang belum dipahami. Temuan meta-analisis dalam Journal of Advanced Nursing tahun 2021 menunjukkan bahwa intervensi edukasi individual dan komunikasi terapeutik oleh perawat memiliki pengaruh signifikan terhadap penurunan kecemasan pasien dewasa sebelum operasi.

Dampaknya tidak hanya pada kondisi psikologis. Pasien yang lebih tenang cenderung memiliki respons stres tubuh yang lebih rendah, lebih kooperatif dalam menjalani persiapan, seperti puasa, latihan napas, atau mobilisasi dini, serta lebih siap menghadapi proses pemulihan. Hal ini turut mendukung pengalaman perawatan yang lebih baik dan meningkatkan kepuasan pasien terhadap pelayanan rumah sakit. Studi tahun 2025 tentang edukasi praoperasi pada pasien bedah elektif juga menemukan bahwa pasien yang memahami prosedur cenderung lebih siap menjalani fase pemulihan pascaoperasi.

Di Indonesia, hasil serupa juga ditemukan. Berdasarkan Jurnal Penelitian Ilmu Kesehatan tahun 2023, penelitian terhadap 33 pasien di RSUD Dr. Haryoto Lumajang menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara peran perawat sebagai pemberi edukasi dengan tingkat kecemasan pasien sebelum operasi. Temuan ini menegaskan bahwa komunikasi yang empatik dan penyampaian informasi yang jelas dari perawat benar-benar berpengaruh terhadap kesiapan mental pasien.

Di era pelayanan kesehatan yang semakin berfokus pada patient-centered care, edukasi sebelum operasi seharusnya tidak dianggap sebagai formalitas semata. Justru di situlah terlihat sisi paling manusiawi dari keperawatan, yaitu membantu pasien menghadapi rasa takut dengan memberikan pengetahuan dan rasa aman.

Pada akhirnya, sebelum dokter memulai tindakan di ruang operasi, sering kali ada satu hal sederhana yang terlebih dahulu menenangkan pasien, yaitu percakapan singkat dari perawat yang disampaikan dengan empati dan penuh makna.