Konten dari Pengguna

Propaganda dalam Perang Suriah, Narasi Menjadi Medan Perang Baru?

M Bilal Alfath

M Bilal Alfath

Mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional Universitas Sriwijaya

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari M Bilal Alfath tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar oleh Galapagus45 dari Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Gambar oleh Galapagus45 dari Pixabay

Perang Suriah sejak 2011 bukan sekadar konflik bersenjata di pinggiran Laut Tengah. Ia juga telah menjadi laboratorium perang naratif, di mana propaganda tidak hanya berperan sebagai suara pendukung satu pihak, tetapi sebagai alat politik untuk mempengaruhi persepsi global. Di medan tempur modern, senjata bukan hanya bom dan peluru—tapi juga cerita yang berulang kali diputar melalui media sosial, berita internasional, dan kanal digital yang tak terhitung jumlahnya.

Narasi perang Suriah sering diperkenalkan dalam bentuk dualisme sederhana: rezim versus pemberontak, penindas versus pembela kebebasan. Padahal kenyataannya jauh lebih rumit. Konflik ini melibatkan beragam aktor domestik, regional, dan global dengan motivasi yang berbeda-beda, menciptakan dinamika yang memperluas medan propaganda jauh melampaui batas wilayah Suriah sendiri. Propaganda bukan hanya soal apa yang dikatakan, tetapi juga siapa yang mengatakannya, melalui saluran apa, dan kepada siapa pesan itu ditujukan.

Gambar oleh memyselfaneye dari Pixabay

Di media sosial, misalnya, foto, video, dan cerita cepat menyebar tanpa kontrol faktual yang ketat. Bukti empiris menunjukkan bahwa jejaring digital menjadi arena utama produksi narasi yang sering memperbesar perbedaan sektarian dan ideologis dalam perang sipil Suriah. Foto-foto yang diambil di satu lokasi bisa dipakai untuk menggambarkan kejadian di tempat lain; klaim tentang kekejaman satu pihak bisa didistribusikan tanpa verifikasi; serta pesan-pesan emosional sering kali lebih efektif menyentuh audiens daripada fakta. Propaganda digital seperti ini tidak hanya memperuncing konflik lokal, tetapi juga memberi justifikasi bagi kebijakan luar negeri negara lain yang berkepentingan.

Salah satu mekanisme paling jelas dari propaganda digital adalah framing sektarian. Misalnya, memetakan konflik di Suriah sebagai semata-mata benturan antara kelompok Sunni dan Syiah, tanpa mempertimbangkan motivasi politik, geografis, dan ekonomi di balik dukungan terhadap aktor-aktor tertentu. Narasi semacam ini menyederhanakan perang menjadi cerita hitam-putih, padahal kenyataannya terriercerabutnya Suriah dari kerangka sosial dan politik yang kompleks — antara lain karena intervensi eksternal dan dinamika lokal yang saling terkait.

Tidak hanya itu, berbagai kampanye terkoordinasi yang dideteksi di platform digital memperlihatkan bagaimana aktor luar seperti negara adikuasa atau sekutu regional dapat memainkan narasi tertentu untuk mempengaruhi persepsi global tentang perang Suriah. Bukan jarang klaim tentang pelanggaran HAM atau aksi militer dikemas sedemikian rupa sehingga menguntungkan agenda geopolitik tertentu, tanpa transparansi bukti independen. Dalam beberapa kasus, narasi semacam ini justru memperkuat dukungan luar negeri terhadap salah satu pihak, atau membenarkan kebijakan yang lebih agresif secara militer maupun diplomatik.

Permasalahannya bukan sekadar apakah narasi itu benar atau salah — tetapi bagaimana kekuatan propaganda dapat memotong jalur antara fakta dan pemahaman publik. Ketika opini digerakkan lebih oleh dampak emosional daripada bukti empiris, kita berisiko melihat konflik yang sebenarnya rumit dipermainkan dalam bingkai simplistik yang memberi keuntungan bagi aktor kuat dan merugikan mereka yang paling menderita: rakyat sipil.

Jika kita serius ingin memahami Suriah — bukan sekadar mengkomunikasikan konflik itu — maka kejujuran intelektual harus mendahului kepentingan politik. Ini berarti menuntut transparansi dalam penyebaran informasi, menganalisis narasi berdasarkan bukti yang terverifikasi, dan mempertanyakan asumsi umum yang sering kali menempatkan propaganda sebagai kebenaran yang tak terbantahkan.

Dalam era di mana informasi bertebaran lebih cepat daripada verifikasi, kita tidak hanya terlibat dalam perang yang lebih berbahaya daripada perang konvensional. Kita terjebak dalam perang narasi, di mana fakta yang tidak teruji dapat menghancurkan kredibilitas pengetahuan dan memperpanjang penderitaan jutaan orang di Suriah. Di tengah kabut perang, satu hal yang jelas: kita membutuhkan narasi yang lebih jujur, bukan hanya narasi yang kuat.