Konten dari Pengguna

Propaganda Rusia dalam Narasi Energi: Politik Penyelamat di Tengah Krisis Global

M Bilal Alfath

M Bilal Alfath

Mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional Universitas Sriwijaya

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari M Bilal Alfath tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar oleh Mohamed Aly dari Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Gambar oleh Mohamed Aly dari Pixabay

Dalam wacana geopolitik kontemporer, narasi sering kali sama pentingnya dengan fakta. Isu energi global menghadirkan contoh paling gamblang: ketika gangguan pasokan minyak dari Timur Tengah memicu gelombang kekhawatiran, artikel media mulai menyoroti satu aktor dengan cara yang sangat strategis—Rusia. Dalam laporan terbaru, Rusia digambarkan sebagai negara yang siap mengalihkan minyak ke India untuk mengatasi gangguan pasokan global. Bagi pembaca yang kurang kritis, rangkaian kata ini mudah dibaca sebagai Rusia si “penyelamat energi”. Tapi apakah narasi itu merefleksikan realitas atau hanya sebuah strategi propaganda geopolitik yang dibentuk untuk tujuan tertentu?

Narasi “Rusia sebagai solusi” memiliki daya tarik yang kuat. Ia memberi kesan stabilitas di tengah kekacauan, menawarkan alternatif jelas terhadap ketergantungan pada pasokan energi Timur Tengah — yang sering terguncang oleh konflik dan ketidakpastian politik. Namun, di sinilah letak kekeliruan besar: narasi ini bukan sekadar laporan geostrategis netral, melainkan framing yang memosisikan Rusia dalam peran heroik di mata penonton global.

Pertama, kita harus memeriksa asumsi dasar dari narasi itu: bahwa gangguan pasokan energi Timur Tengah adalah krisis yang hanya bisa diatasi oleh tindakan Rusia. Ini menyederhanakan kompleksitas ekonomi energi global yang sesungguhnya sangat dipengaruhi oleh faktor pasar, investasi infrastruktur, dan kebijakan iklim—bukan hanya oleh keputusan satu aktor. Kisah “penyelamatan” ini mengeliminasi pertanyaan yang lebih dalam: apakah alih alih mengatasi akar masalah, kita hanya mencari substitusi sementara yang membuat status quo tetap bertahan?

Kedua, framing seperti ini memiliki efek politik yang jelas. Ia memperkuat citra Rusia sebagai partner strategis — terutama bagi negara besar peminum energi seperti India — sementara mengaburkan kritik terhadap kebijakan energi internal Rusia sendiri. Misalnya, apakah diversifikasi ekspor minyak ini benar-benar murni soal stabilitas pasokan, atau juga bagian dari strategi Rusia untuk melemahkan sanksi Barat dan memperluas pengaruhnya di Asia Selatan? Tidak semua media memberikan konteks ini, dan di sinilah propaganda bekerja: mengarahkan perhatian publik pada satu cerita yang menguntungkan satu sudut pandang politik.

Ketiga, kita harus menanyakan apa yang hilang dari narasi dominan itu. Tidak banyak liputan yang mengangkat bahwa ketergantungan global pada minyak — dari Timur Tengah atau dari Rusia — adalah bagian dari masalah struktural energi dunia. Ketergantungan semacam ini membuat banyak negara rentan terhadap fluktuasi geopolitik dan kampanye politik yang dikemas sebagai “solusi pragmatis.” Propaganda bekerja efektif ketika ia mempromosikan sebuah narasi yang terdengar baik, sekaligus membungkam pertanyaan kritis yang lebih substansial.

Akhirnya, dampak dari narasi semacam ini tidak hanya bersifat retoris. Ia menentukan bagaimana negara merumuskan kebijakan mereka, bagaimana investor menilai masa depan energi, dan bagaimana publik membentuk opini terhadap aktor geopolitik besar. Apabila kita menerima narasi “Rusia sebagai penyelamat energi” tanpa mempertanyakan asumsi dan kepentingan yang mendasarinya, kita juga menerima versi sejarah yang telah disederhanakan — bahkan mungkin dimanipulasi — untuk mendukung agenda kekuasaan tertentu.

Dalam era di mana informasi berputar lebih cepat daripada verifikasi, kita harus berhati-hati terhadap narasi yang tampak heroik dan menyederhanakan konflik kompleks menjadi cerita yang mudah dicerna. Realitas geostrategi energi jauh lebih rumit daripada sekadar memilih pahlawan dan penjahat. Dan jika kita ingin memahami dinamika global dengan jernih, kita harus melampaui narasi yang nyaman dan menuntut analisis yang lebih mendalam — bukan propaganda.