Bukan Sekadar Ikut-ikutan: Mengapa Tren Tawuran Remaja di Padang Terus Berulang?

Saya adalah seorang mahasiswa Unand, di bidang sejarah, yang suka menulis dan menjabarkan pikiran ke sebuah blog atau website.
·waktu baca 12 menit
Tulisan dari Muhammad Diaz Habib Nazhifan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

A. Tren Tawuran Di Kota Padang Tren tawuran kini menjadi sorotan utama sebagai masalah sosial yang meresahkan di berbagai kota besar di Indonesia, termasuk Kota Padang. Dalam beberapa tahun terakhir, eskalasi konflik antarremaja di kota ini menunjukkan peningkatan, baik dari segi frekuensi maupun intensitas kekerasan. Tawuran tidak lagi dapat dipandang sekadar sebagai bentuk kenakalan remaja biasa, melainkan telah berkembang menjadi masalah sosial yang kompleks dengan melibatkan berbagai aspek pendidikan, ekonomi, budaya, serta mekanisme pengawasan masyarakat. Sebagai ibu kota Provinsi Sumatera Barat yang dikenal memegang teguh nilai adat dan pendidikan agama, Kota Padang kini menghadapi tantangan dalam mengatasi perilaku menyimpang di kalangan generasi mudanya. Maraknya aksi tawuran di area publik, lingkungan sekolah, hingga perencanaannya yang terorganisasi melalui media sosial mengindikasikan adanya kelemahan dalam sistem pembinaan remaja, serta melonggarnya fungsi pengawasan dari keluarga, institusi pendidikan, dan pihak berwenang. Fenomena ini tidak hanya menimbulkan rasa tidak aman bagi masyarakat, tetapi juga berpotensi merusak masa depan generasi muda dan menghambat pembangunan sosial. B. Penyebab Tawuran marak terjadi Bagi sebagian pelajar, baik dari sekolah menengah umum maupun kejuruan. Tawuran sering kali disalahartikan sebagai sarana pembuktian eksistensi dan solidaritas kelompok. Adanya persepsi salah yang menganggap tawuran sebagai tindakan berani atau "keren" membuat remaja mengabaikan berbagai dampak negatif yang ditimbulkan. Dorongan emosional yang tidak stabil, pencarian identitas diri, serta pengaruh gaya hidup yang keliru membawa mereka pada pola perilaku yang destruktif. Perilaku ini kerap berawal dari dorongan Fear of Missing Out (FOMO) atau sekadar ikut-ikutan agar diterima oleh kelompok sebaya. Namun, partisipasi awal yang didasari rasa penasaran tersebut berpotensi berkembang menjadi pola ketergantungan psikologis (addictive behavior). Mekanisme ini dapat dianalogikan dengan penyalahgunaan zat adiktif: dimulai dari tahap pengenalan atau bujukan, berlanjut pada pengalaman mencoba, hingga akhirnya membentuk kecanduan yang mengikat secara psikis dan fisik. Dalam konteks tawuran, dorongan berulang untuk terlibat dalam konflik kelompok menciptakan siklus adiksi behavioral, di mana remaja merasa terus-menerus terdorong untuk mencari sensasi ketegangan dan konflik meskipun sadar akan risiko buruknya. Lebih jauh lagi, apabila kebiasaan negatif ini dibiarkan berlangsung secara konsisten dan diwariskan antar-generasi pelajar, tawuran berisiko mengkristal menjadi subkultur atau "tradisi" di lingkungan sekolah maupun masyarakat tertentu. Pengulangan kebiasaan buruk secara terus-menerus dapat menggeser norma sosial, sehingga tindakan devran yang semula dianggap melanggar hukum justru terinternalisasi sebagai identitas kelompok. C. Pengertian Tren Tawuran Tawuran merupakan salah satu bentuk interaksi sosial disosiatif berbentuk konflik terbuka antarkelompok remaja atau pelajar. Fenomena ini kerap diunggah dan menyebar di media sosial, sehingga memperoleh kepopuleran dan membentuk tren di kalangan remaja tertentu yang memandangnya sebagai sarana unjuk kekuatan. Khusus di Kota Padang, tren tawuran telah menjadi perhatian serius masyarakat dan aparat penegak hukum. Konflik ini tidak hanya merusak fasilitas umum, tetapi juga mengakibatkan dampak fatal seperti cedera fisik permanen, trauma psikologis, hingga hilangnya nyawa. Faktor pememicunya sangat bervariasi, mulai dari rivalitas antarsekolah, persepsi dendam lama, hingga provokasi yang dimobilisasi melalui platform digital. D. Pandangan Para Ahli mengenai Tawuran Remaja Tawuran remaja dipahami oleh para ahli dari berbagai disiplin ilmu sebagai fenomena sosial kompleks yang tidak berdiri sendiri. Berikut adalah pandangan para ahli berdasarkan pendekatan sosiologi, psikologi, dan kriminologi: 1. Dr. Jendrius (Direktur Pusat Pengembangan Gender, Anak, dan Keluarga Universitas Andalas) Menurutnya, salah satu pemicu tawuran berasal dari ketidakharmonisan dalam keluarga. Namun, beliau menegaskan bahwa kesalahan tidak sewajarnya dibebankan sepenuhnya kepada keluarga semata, melainkan perlu dilihat secara komprehensif bersama faktor eksternal lainnya (Antara Sumbar, 2017). 2. Erianjoni (Sosiolog Universitas Negeri Padang) Menurutnya, peningkatan kasus tawuran di Kota Padang dipengaruhi oleh akumulasi kegagalan pada tiga pilar sosialisasi, yaitu pola mendidik dalam keluarga, pengarahan dalam pergaulan sekolah, serta pengawasan lingkungan masyarakat (Antara, 2024). 3. Mansoer (dalam Solikhah, 1999) Menurutnya, tawuran kerap dipicu oleh kesalahpahaman dan ketidakmampuan mengelola emosi sesaat pada remaja yang berada dalam fase pencarian identitas diri. Dalam kondisi ini, peran pendampingan keluarga menjadi sangat krusial (Hamdani et al., 2024). 4. Utomo Dananjaya (Pengamat Pendidikan) Menurutnya, fenomena tawuran dipengaruhi pula oleh melimpahnya paparan informasi atau tayangan media yang menampilkan figur publik dengan perilaku tidak terpuji, sehingga remaja kehilangan sosok teladan yang arif dan bijaksana (Tanamal, 2012). 5. Kartono Menurutnya, remaja yang terlibat dalam perilaku menyimpang cenderung dipengaruhi oleh kondisi sosio-ekonomi yang kurang menguntungkan serta keterbatasan wadah penyaluran potensi diri. Dalam situasi tersebut, tindakan destruktif dianggap sebagai jalan pintas untuk meraih perhatian, pengakuan, serta peningkatan status sosial di mata kelompoknya (Ulumudin, 2016). 6. Basri Menurutnya, krisis identitas dan kegagalan dalam beradaptasi dengan tuntutan lingkungan (maladjustment) menjadi pemicu utama keterlibatan remaja dalam aktivitas kelompok agresif (Basri, 2015). E. Teoritis mengenai Fenomena Tawuran Fenomena tawuran, khususnya antar-pelajar atau antar-kelompok warga. Merupakan bentuk penyimpangan sosial (social deviance) dan kenakalan remaja (juvenile delinquency) yang tidak berdiri sendiri. Secara teoritis, fenomena ini dianalisis melalui gabungan perspektif sosiologi, kriminologi, dan psikologi sosial. Dimana, ada beberapa teori yang terkait dengan fenomena tawuran tersebut: 1. Teori Frustrasi-Agresi Menjelaskan bahwa hambatan dalam mencapai tujuan (frustration) memicu dorongan bertindak agresif untuk melepaskan emosi negatif. Pada remaja, frustrasi dapat bersumber dari tekanan akademik, konflik keluarga, maupun penolakan sosial (Sukma et al., 2024). 2. Teori Kekerasan Kolektif Mengoreksi pemahaman bahwa aksi kekerasan kelompok sama dengan kekerasan individu. Teori ini menekankan peran dinamika kelompok, konformitas sosial, dan pelepasan tanggung jawab individual saat berada dalam ikatan kelompok (Abidin, 2007). 3. Teori Anomie (Émile Durkheim) Mengemukakan bahwa tawuran dapat terjadi akibat ketidakstabilan sosial dan mengendurnya norma-norma pengikat dalam masyarakat (normlessness), sehingga individu kehilangan panduan etika dan mencari penyaluran deviatif (Haris & Ulhaq, 2023). 4. Theory of Planned Behavior (TPB - Icek Ajzen) Menjelaskan bahwa niat melakukan tawuran dipengaruhi oleh tiga komponen: ● Sikap (attitude): Persepsi positif bahwa tawuran adalah tindakan keren atau berani. ● Norma Subjektif (subjective norm): Anggapan bahwa teman sebaya mendukung tindakan tersebut. ● Persepsi Kontrol Perilaku (perceived behavioral control): Keyakinan bahwa mereka mampu melakukan aksi tersebut tanpa tertangkap atau terkena konsekuensi berat (Ajzen, 2019). 5. Teori Penjulukan (Labeling Theory) Pemberian label "nakal" atau "pelaku kriminal" oleh masyarakat dapat memicu pembentukan identitas diri yang menyimpang (self-fulfilling prophecy), di mana remaja justru menginternalisasi label tersebut dan memperkuat perilaku tawurannya (Ahmadi & Nur’aini, 2005). 6. Teori Subkultur Remaja membentuk kelompok (subculture) yang menciptakan nilai, norma, dan simbol kesetiaan baru yang bertentangan dengan norma umum, sebagai wadah pembuktian eksistensi dan solidaritas kelompok (Basri, 2014). 7. Teori Konflik Mengidentifikasi tawuran sebagai manifestasi persaingan antar kelompok pelajar dalam memperebutkan wilayah, status sosial, maupun identitas kelompok di tengah keterbatasan sarana aktualisasi diri (Yulestrani, 2016). 8. Teori Interaksi Simbolik Menunjukkan bahwa almamater, simbol geng, atau warna seragam dipersepsikan sebagai penanda identitas dan klaim kekuasaan yang dapat memicu konflik ketika berbenturan dengan kelompok lain (Zanki, 2020). 9. Teori Pertukaran Sosial Remaja menimbang keuntungan (reward) berupa pengakuan dan solidaritas kelompok lebih tinggi dibandingkan potensi kerugian (cost) berupa sanksi atau cedera (Wijaya, 2023). 10. Teori Differential Association (Edwin Sutherland) Perilaku devran dipelajari melalui proses interaksi dan komunikasi intimat dengan kelompok yang menoleransi atau mengagungkan aksi kekerasan (Hamdani et al., 2024). 11. Teori Hierarki Kebutuhan Maslow (Kebutuhan Penghargaan & Pengakuan) Tawuran dijadikan sarana untuk memenuhi kebutuhan akan harga diri (esteem needs) dan penerimaan kelompok (belongingness) ketika hal tersebut gagal didapatkan di rumah maupun sekolah (Shah, 2025; Rizq, 2024). F. Tawuran dan Pembentukan Subkultur Destruktif Perilaku tawuran yang dilakukan secara berulang berpotensi mengalami kebiasaan (habitualization) hingga mengkristal menjadi subkultur deviatif. Penggunaan seragam sekolah saat aksi kekerasan menunjukkan adanya pergeseran makna simbol pendidikan menjadi identitas kelompok penyerang (Basri, 2015). Ketika kebiasaan negatif ini dianggap sebagai "tradisi turun-temurun", timbul pencederaan moral (moral disengagement) pada remaja, di mana mereka tidak lagi merasa bersalah atas tindakan anarkis yang dilakukan (Lumopa & Sumarwan, 2024). Pengulangan perilaku menyimpang yang tidak ditindak secara tegas berisiko memperluas normalisasi kekerasan di tengah masyarakat. G. Pola Pikir Negatif, Skeptisisme, dan Manipulasi Psikologis Pola pikir negatif (negative thinking) dan ketidakmampuan mengendalikan dorongan emosional merupakan prediktor kuat keterlibatan remaja dalam tindak kekerasan. Asumsi buruk yang tidak berdasar terhadap kelompok lain kerap memicu aksi penyerangan preventif yang tidak rasional. Di samping itu, dalam beberapa dinamika kelompok tawuran, terdapat indikasi manipulasi psikologis oleh pihak-pihak tertentu (Dark Triad traits). Figur provokator sering kali memanfaatkan situasi konflik dan meretas kepolosan anggota kelompok lain demi kepentingan legitimasi status kekuasaan diri, tanpa memedulikan keselamatan anggota kelompok yang dijadikan benteng serang. H. Pengaruh Gaya Hidup terhadap Eksistensi Tawuran Perkembangan teknologi dan media sosial turut mengubah lanskap tawuran dari sekadar bentrokan fisik menjadi bagian dari pencarian gaya hidup digital. Penyebaran konten tawuran untuk mengejar popularitas virtual mempercepat penularan fenomena FOMO (Fear of Missing Out) di kalangan remaja. Secara garis besar, determinan gaya hidup yang memicu tawuran terbagi atas: ● Faktor Internal: Krisis identitas, kendali diri (self-control) yang lemah, dan ketidakmampuan adaptasi sosial. ● Faktor Eksternal: Tekanan rekan sebaya (peer pressure), ketidakharmonisan keluarga, serta minimnya sarana penyaluran energi positif di lingkungan sekitar (Saragih et al., 2025). I. Dinamika dan Kasus Tawuran di Kota Padang Historis tawuran pelajar di Indonesia mulai terekam media sejak akhir dekade 1960-an (Basri, 2015). Di Kota Padang sendiri, pencatatan data menunjukkan fluktuasi angka kejadian dari tahun ke tahun: ● Pada tahun 2014 tercatat 641 kasus, kemudian menurun menjadi 433 kasus pada tahun 2015 (didominasi pelajar tingkat SMK/SMA) (Akbar, 2016). ● Insiden 9 Februari 2020: Bentrokan remaja menggunakan senjata tajam terjadi di Jl. M.H. Thamrin, Kecamatan Padang Selatan pada dini hari (Saputra, 2020). ● Insiden 2 Maret 2025: Aksi tawuran puluhan remaja di persimpangan lampu merah Pasar Simpang Haru, Padang Timur, yang diunggah dan tular di media sosial (Zulfahli, 2025). ● Insiden 20 April 2025: Patroli Polsek Koto Tangah berhasil menggagalkan rencana bentrokan dan mengamankan 11 remaja beserta barang bukti di Jalan Adinegoro (Tribrata News Polda Sumbar, 2025). J. Strategi Pencegahan dan Penanggulangan Pencegahan fenomena tawuran secara komprehensif di Kota Padang memerlukan pendekatan terpadu lintas sektor: 1. Penegakan Hukum Tegas: Penindakan hukum yang konsisten bagi pelaku yang membawa senjata tajam atau melakukan tindak pidana untuk memberikan efek jera (deterrence effect) (Elfisha, 2024). 2. Penguatan Pendidikan Karakter: Pengintegrasian nilai-nilai toleransi, penyelesaian konflik tanpa kekerasan, dan regulasi emosi dalam kurikulum sekolah (Harahap et al., 2024). 3. Optimalisasi Program Dubalang Kota: Penguatan partisipasi masyarakat berbasis kearifan lokal untuk meronda dan memantau titik-titik rawan konflik (Pemerintah Kota Padang, 2025). 4. Kolaborasi Lintas Sektor: Sinergi antara Pemerintah Daerah, Kepolisian, Tokoh Adat/Agama, dan pihak Sekolah (Antara, 2023). 5. Peningkatan Pengawasan: Pengawasan intensif jam rawan sekolah serta pemantauan aktivitas remaja di media sosial. 6. Penyediaan Sarana Aktualisasi Diri: Pembangunan fasilitas olahraga, seni, dan ruang kreatif bagi remaja untuk menyalurkan energi secara positif (Harahap et al., 2024). 7. Pemberdayaan Fungsi Keluarga: Program edukasi pengasuhan (parenting) bagi orang tua guna memperkuat ketahanan psikologis anak di rumah (Oktoriny et al., 2024). Kesimpulan Fenomena tren tawuran di Kota Padang merupakan permasalahan sosial kompleks yang berakar dari interaksi antara kelemahan kontrol internal individu (kontrol diri yang rendah, krisis identitas, dan deviasi pola pikir) dengan ketidakkondusifan lingkungan eksternal (disfungsi keluarga, tekanan kawan sebaya, serta kelalaian pengawasan lingkungan). Penyebaran konten kekerasan di media sosial semakin memperparah kondisi ini dengan menciptakan dorongan konformitas dan adiksi behavioral di kalangan remaja. Jika tidak ditangani secara menyeluruh, pola kekerasan ini dapat mengkristal menjadi subkultur destruktif yang merusak tatanan sosial dan masa depan generasi muda di Kota Padang. Oleh karena itu, dibutuhkan penanganan yang tidak hanya bertumpu pada pendekatan represif/hukum, tetapi juga pendekatan preventif, edukatif, dan berbasis keluarga/komunitas secara berkelanjutan. DAFTAR PUSTAKA Abidin, Z. (2016). Teori-teori psikologi sosial tentang kekerasan kolektif. Fakultas Psikologi, Universitas Padjadjaran. Ahmadi, D., & Nur’aini, A. (2005). Teori penjulukan. Mediator: Jurnal Komunikasi, 6(2), 297–306. Ajzen, I. (2019). The theory of planned behavior: Frequently asked questions. University of Massachusetts Amherst. Akbar, R. (2016, 21 Januari). Pelajar SMK dominasi tawuran di Padang. Okezone.com. Antara. (2023, 24 Juni). Ini penyebab maraknya kenakalan remaja di Padang. Antara News. Antara. (2024, 28 Juni). Sosiolog jelaskan penyebab meningkatnya tren tawuran di Padang. Antara News. Antara Sumbar. (2017, 14 Juni). Akademisi: Keluarga tidak harmonis picu tawuran remaja. Antara News Sumbar. Basri, A. S. H. (2015). Fenomena tawuran antar pelajar dan intervensinya. Neliti. Elfisha, M. (2024, 12 Agustus). Memberantas tawuran hingga tuntas di Kota Padang. Antara News. Hamdani, F., Setyawan, A., Kurniawan, Z., Toni, T., Wisnuhidayat, R. A. G. S., Anshori, A., & Andreanus. (2024). Analisis fenomena tawuran antar pelajar dengan teori differential association. IKRAITH-Humaniora, 8(2), 235–245. Harahap, T. A. P., Viranda, A., Riski, A. P., Safitri, A. A., Fadilla, N., & Lumban Gaol, A. L. D. (2024). Upaya pencegahan tawuran yang terus menerus terjadi di SMA Swasta Eria Medan. PUSTAKA: Jurnal Bahasa dan Pendidikan, 4(3), 47–58. Haris, A., & Dhiya Ulhaq, M. I. (2023). Pentingnya pendidikan agama dalam mengatasi kesehatan mental dan kenakalan remaja: Analisis teori Emile Durkheim. Jurnal Sosial dan Humaniora (ARIMA), 1(2), 234–244. IKP Diskominfo Kota Padang. (2025, 13 Maret). Dubalang Kota mulai beraksi, Pemko Padang hadirkan solusi jitu cegah tawuran. Padang.go.id. Khair, U., & Aviani, Y. I. (2019). Intensi perilaku tawuran ditinjau dari theory of planned behavior. Jurnal Riset Psikologi, 3(1), 1–12. Lumopa, R., & Sumarwan, A. (2024). Analisis subkultur deviatif pada perilaku tawuran remaja. Jurnal Kriminologi Indonesia, 10(1), 15–28. Oktoriny, F., Puspita, L., & Jemmy, M. (2024). Upaya penanggulangan terjadinya tawuran antar pelajar. Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Dewantara, 7(1), 31–37. Rizq, I. R. (2024, 25 Desember). Tawuran jadi ajang pembuktian diri remaja. Lombok Post (Jawa Pos). Saputra, I. (2020, 9 Februari). Tawuran pakai parang, 3 remaja di Padang ditangkap polisi. Langgam.id. Saragih, E. H., Sinuhaji, E. M. B., Afriza, M., Panjaitan, M. S., Nababan, S. L., Nadeak, S. F. B., Patunnisa, T., & Ramadhan, T. (2025). Analisis faktor–faktor penyebab perilaku tawuran pada remaja di daerah Medan Marelan. Jurnal Studi Multidisipliner, 9(4), 42–50. Shah, D. (2025, 1 April). How Maslow’s hierarchy of needs can be applied in teaching. Classcard. Sukma Dana, F., Lazzuardy, A., & Fauzan, A. (2024). Perbandingan teori agresi–frustrasi dan teori tekanan teman sebaya dalam penanganan bullying di SMPN 3 Balung. Jurnal Kajian Ilmiah Interdisiplinier, 8(7), 322–327. Tanamal, D. (2012, 28 September). Komentar para tokoh tentang tawuran pelajar. Jawaban.com. Tribrata News Polda Sumbar. (2025, 21 April). Polisi amankan 11 remaja di Padang, diduga hendak tawuran di Jalan Adinegoro. Tribrata News. Ulumudin, I. (2016). Kajian fenomena tawuran pelajar pendidikan menengah: Studi kasus di Kota Depok. Pusat Penelitian Kebijakan, Balitbang Kemendikbud RI. Wijaya, A., & Gischa, S. (2023, 16 November). Mengenal teori pertukaran sosial: Asumsi dan sudut pandang. Kompas.com. Yulestrani, N. (2016). Perkelahian antar pelajar di SMAN 2 Tambusai Utara, Kabupaten Rokan Hulu. JOM FISIP, 3(1), 1–14. Zanki, H. A. (2020). Teori psikologi dan sosial pendidikan (Teori interaksi simbolik). Scolae: Journal of Pedagogy, 3(2), 115–121. Zulfahli, R. (2025, 3 Maret). Tawuran puluhan remaja di Simpang Haru Padang viral, polisi tangkap beberapa pelakunya. Padek Jawa Pos.
