Bukan Sekadar Bangunan: Mengapa Rumah Belum Tentu Tempat Pulang

Mahasiswa Universitas Pamulang, Prodi Teknik Elektro
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari M Farel Ilhamy Pasha tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada orang yang memiliki rumah dengan atap kokoh, kamar yang luas, dan kulkas yang selalu terisi, tetapi setiap sore perasaannya justru berat saat harus membuka pintu. Sebaliknya, ada orang yang tidak punya rumah sendiri, hanya menumpang di kos sempit atau kontrakan seadanya, tetapi hatinya ringan setiap kali melangkah pulang. Dari dua gambaran ini kita bisa melihat bahwa rumah dan tempat pulang adalah dua hal yang berbeda.
Rumah adalah benda, pulang adalah rasa
Rumah adalah sesuatu yang bisa dibeli, dibangun, disewa, atau diwariskan. Ia punya alamat, luas tanah, dan sertifikat. Tempat pulang tidak bisa dibeli. Ia tumbuh dari pengalaman berulang: diterima apa adanya, merasa aman, dan tidak perlu berpura-pura menjadi orang lain.
Itulah sebabnya kita bisa tinggal di sebuah rumah selama bertahun-tahun tanpa pernah benar-benar merasa pulang. Dindingnya ada, tetapi rasa amannya tidak.Ketika rumah tidak terasa seperti pulang Ada banyak alasan mengapa sebuah rumah gagal menjadi tempat pulang.
Suasana yang penuh ketegangan. Rumah yang diwarnai pertengkaran, tuntutan, atau diam yang dingin membuat penghuninya selalu waspada. Orang tidak bisa beristirahat di tempat yang membuatnya terus berjaga.
Tidak ada ruang untuk menjadi diri sendiri. Sebagian orang tumbuh di rumah yang hanya menerima versi tertentu dari dirinya: anak yang berprestasi, anak yang penurut, atau anak yang tidak banyak bicara. Di rumah seperti itu, pulang berarti kembali memakai topeng.
Rumah hanya menjadi tempat singgah. Pekerjaan yang menyita waktu, perjalanan yang jauh, dan kehidupan yang serba cepat membuat rumah sekadar tempat tidur dan mandi. Kita pulang untuk tidur, lalu berangkat lagi.
Kehilangan orang yang membuat rumah terasa hangat. Setelah orang tua berpulang, atau setelah sebuah hubungan berakhir, rumah yang sama bisa terasa asing. Bangunannya tidak berubah, tetapi sesuatu yang membuatnya hidup telah pergi.
Tempat pulang bisa berupa siapa saja
Menariknya, tempat pulang tidak selalu berbentuk rumah. Bagi sebagian orang, ia adalah seorang sahabat yang selalu mau mendengarkan tanpa menghakimi. Bagi yang lain, ia adalah pasangan, warung kopi langganan, komunitas, atau bahkan aroma masakan tertentu yang membawa kembali kenangan masa kecil.
Para perantau paham betul hal ini. Banyak dari mereka merasa "pulang" justru ketika bertemu sesama perantau dari kampung yang sama, meski saat itu mereka berada ribuan kilometer dari tanah kelahiran. Pulang ternyata lebih berkaitan dengan siapa yang menyambut kita daripada ke mana kita melangkah.
Bagaimana menjadikan rumah sebagai tempat pulang
Kabar baiknya, rasa pulang bisa dirawat, baik untuk diri sendiri maupun untuk orang yang tinggal bersama kita.
Ciptakan rasa aman. Rumah yang membuat orang berani jujur tentang kegagalan dan kelelahannya adalah rumah yang layak disebut tempat pulang.
Hadir sepenuhnya. Menaruh ponsel dan mendengarkan cerita satu sama lain sering kali lebih berarti daripada perabot yang mahal.
Bangun kebiasaan kecil. Makan malam bersama, obrolan sebelum tidur, atau secangkir teh di akhir pekan membentuk kenangan yang lama-lama menjadi rasa memiliki.
Beri ruang untuk berbeda. Tempat pulang tidak menuntut semua orang menjadi sama. Ia memberi ruang bagi setiap penghuninya untuk tumbuh.
Jika belum menemukannya
Bagi yang saat ini belum merasa punya tempat pulang, itu bukan berarti ada yang salah dengan dirimu. Mungkin rumahmu belum mampu memberikannya, dan itu bukan sepenuhnya salahmu. Kamu bisa mulai membangunnya pelan-pelan, dari hubungan yang sehat, lingkungan yang menerima, dan ruang kecil yang kamu rawat sendiri.
Pada akhirnya, rumah adalah tempat kita tinggal, sedangkan tempat pulang adalah tempat kita merasa utuh. Semoga kita semua punya keduanya, dan kalaupun belum, semoga kita punya keberanian untuk menciptakannya.
