Tepa Selira sebagai Nilai Budaya Jawa dalam Membangun Kepedulian Sosial: Pemikiran K.H. Ahmad Dahlan

Mahasiswa - UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Mohammad Farid Ghufron tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Tepa selira mengajarkan kita memahami perasaan orang lain sebelum berbicara atau bertindak, sedangkan perjuangan K.H. Ahmad Dahlan menunjukkan bahwa kepedulian perlu diwujudkan menjadi tindakan nyata.

Budaya Jawa memiliki berbagai nilai kehidupan yang mengajarkan manusia untuk menjaga hubungan baik dengan sesama. Salah satunya adalah tepa selira, yaitu sikap tenggang rasa dengan berusaha memahami perasaan, keadaan, dan kebutuhan orang lain sebelum berbicara atau bertindak. Nilai ini mengingatkan bahwa setiap orang memiliki pengalaman hidup yang berbeda, sehingga kita tidak seharusnya mudah menghakimi.
Dalam masyarakat Jawa, sikap menghormati sesama menjadi bagian penting untuk menciptakan hubungan yang rukun dan harmonis. Tepa selira bukan hanya berkaitan dengan sopan santun, tetapi juga dengan kesediaan menempatkan diri pada keadaan orang lain dan mempertimbangkan dampak tindakan kita terhadap mereka.
Relevansi di Era Media Sosial
Nilai ini masih sangat relevan hingga sekarang. Kemudahan berkomunikasi melalui media sosial terkadang membuat seseorang lupa mempertimbangkan perasaan orang lain. Ada yang mudah memberikan komentar kasar, mengejek kekurangan, atau menilai kehidupan seseorang tanpa mengetahui keadaan sebenarnya. Padahal, menghormati orang lain tidak cukup dengan kata-kata yang sopan, tetapi juga harus diwujudkan melalui kepedulian dan tindakan nyata.
Nilai tepa selira dapat dikaitkan dengan perjuangan K.H. Ahmad Dahlan, tokoh yang lahir dan berkembang di lingkungan budaya Jawa serta dikenal sebagai pendiri Muhammadiyah. Melalui perjuangan di bidang pendidikan dan kegiatan sosial, beliau memberi contoh bahwa kepedulian terhadap sesama perlu diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Memahami Makna Tepa Selira
Tepa selira merupakan nilai luhur yang menekankan pentingnya mempertimbangkan perasaan orang lain ketika berinteraksi. Istikomah dan Hardiyanto (2021) membahas nilai ini dalam konteks perdamaian dan kebudayaan Jawa. Nilai ini mendorong seseorang memikirkan perilaku yang sebaiknya dilakukan maupun dihindari agar tidak merugikan orang lain.
Penerapannya dapat terlihat melalui tindakan sederhana. Ketika ada teman yang mengalami kesulitan ekonomi, misalnya, kita sebaiknya tidak menjadikannya bahan candaan atau mempermalukannya di depan orang lain. Ketika terjadi perbedaan pendapat, kita juga perlu menyampaikan pandangan dengan cara yang baik tanpa merendahkan pihak yang berbeda. Sikap tersebut menunjukkan bahwa kita berusaha memahami keadaan orang lain, bukan hanya mementingkan keinginan sendiri.
Tepa selira bukan berarti seseorang harus selalu mengalah atau menyetujui semua pendapat orang lain. Sikap ini lebih menekankan kemampuan menghargai perbedaan, menjaga ucapan, dan mempertimbangkan akibat dari tindakan yang dilakukan. Seseorang tetap boleh menyampaikan kritik atau menolak pendapat yang dianggap kurang tepat, asalkan tanpa penghinaan. Dengan begitu, tepa selira dapat menjadi pedoman untuk membangun hubungan sosial yang sehat. Nilai ini juga mengajarkan bahwa setiap orang layak diperlakukan dengan hormat, termasuk mereka yang memiliki keadaan ekonomi, latar belakang, atau pandangan yang berbeda dari kita.
Perjuangan K.H. Ahmad Dahlan
K.H. Ahmad Dahlan lahir di Kauman, Yogyakarta, pada 1868 dengan nama Muhammad Darwis. Beliau tumbuh dalam keluarga yang dekat dengan kehidupan keagamaan. Setelah memperdalam ilmu agama, beliau mengembangkan gagasan pembaruan dalam pendidikan dan kehidupan sosial masyarakat. Perjuangannya didorong oleh keinginan meningkatkan pengetahuan dan memperbaiki kehidupan umat melalui tindakan nyata (Mu’thi et al., 2015).
Pada masa itu, pendidikan menjadi salah satu jalan penting untuk memperluas pengetahuan masyarakat. Ahmad Dahlan berusaha menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya menekankan pemahaman agama, tetapi juga mendorong kemajuan dan kepedulian terhadap kehidupan sosial. Salah satu langkah pentingnya adalah mendirikan Muhammadiyah pada 18 November 1912 di Yogyakarta. Organisasi ini kemudian mengembangkan berbagai kegiatan pendidikan, kesehatan, dan pelayanan sosial.
Menurut sejarah resmi Muhammadiyah, Ahmad Dahlan terlebih dahulu mendirikan sekolah yang proses belajar-mengajarnya berlangsung di rumahnya sendiri. Langkah ini menunjukkan kesungguhannya memperluas kesempatan pendidikan bagi masyarakat (Pimpinan Pusat Muhammadiyah, n.d.). Perjuangan tersebut menggambarkan bahwa kepedulian tidak hanya disampaikan melalui nasihat, tetapi juga diwujudkan dengan membangun kesempatan agar orang lain memperoleh pengetahuan dan kehidupan yang lebih baik.
Kisah yang sering dikaitkan dengan perjuangan Ahmad Dahlan adalah pengajarannya mengenai Surah Al-Ma’un. Beliau tidak hanya meminta para santrinya membaca dan menghafal surah tersebut, tetapi juga mengajak mereka memahami serta menjalankan pesannya. Para santri didorong mengumpulkan makanan dan membagikannya kepada orang-orang miskin. Kisah ini menjadi salah satu inspirasi bagi gerakan sosial Muhammadiyah yang diwujudkan melalui pelayanan kepada masyarakat (Ilham, 2021).
Dari kisah tersebut terlihat bahwa pemahaman terhadap ajaran agama perlu diikuti tindakan yang bermanfaat. Kepedulian tidak cukup berhenti pada rasa iba atau ucapan belas kasihan, tetapi perlu diteruskan menjadi bantuan yang sesuai dengan kebutuhan orang lain.
Titik Temu Tepa Selira dan Kepedulian Sosial
Pemikiran dan perjuangan Ahmad Dahlan berlandaskan ajaran Islam, sehingga beliau tidak dapat disebut sebagai pencipta filosofi tepa selira. Namun, perjuangannya dapat menjadi contoh bagaimana penghargaan terhadap manusia dan kepedulian sosial diwujudkan melalui pendidikan serta kegiatan pelayanan.
Keduanya memiliki latar yang berbeda, tetapi dapat dipertemukan dalam pembahasan mengenai hubungan antarmanusia. Tepa selira mengajarkan kita memahami perasaan dan keadaan orang lain, sedangkan perjuangan Ahmad Dahlan menunjukkan pentingnya menerjemahkan nilai dan keyakinan menjadi tindakan yang membawa manfaat bagi masyarakat.
Penerapan bagi Generasi Muda
Bagi generasi muda, penerapan nilai tersebut dapat dimulai dari lingkungan terdekat. Kita dapat membiasakan diri untuk tidak mengejek teman, mendengarkan ketika orang lain bercerita, membantu seseorang yang sedang kesulitan, dan menghargai perbedaan pendapat.
Di media sosial, tepa selira dapat diterapkan dengan berpikir sebelum menulis komentar, tidak menyebarkan informasi yang mempermalukan seseorang, serta tidak ikut melakukan perundungan daring. Sementara itu, semangat kepedulian sosial yang dicontohkan Ahmad Dahlan dapat diwujudkan melalui kegiatan berbagi, membantu warga yang membutuhkan, mengikuti kegiatan sosial, atau mendukung teman yang kesulitan belajar. Tindakan sederhana ini dapat menciptakan lingkungan yang lebih aman, ramah, dan saling mendukung.
Budaya Jawa akan tetap bermakna apabila nilai-nilainya diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Melestarikan budaya tidak harus selalu melalui pakaian adat, kesenian, atau upacara tradisional. Menjaga ucapan, menghargai sesama, dan bersedia membantu orang yang membutuhkan juga merupakan cara mempertahankan nilai luhur budaya.
Tepa selira mengingatkan kita agar tidak hanya melihat persoalan dari sudut pandang sendiri, tetapi juga mencoba memahami keadaan orang lain. Apabila nilai ini dipadukan dengan semangat kepedulian yang tampak dalam perjuangan Ahmad Dahlan, masyarakat dapat membangun hubungan yang lebih manusiawi. Dengan demikian, tepa selira bukan sekadar warisan budaya, melainkan pedoman yang dapat membantu generasi muda membangun kepedulian sosial di tengah kehidupan modern.
Penutup
Pada akhirnya, tepa selira dan perjuangan K.H. Ahmad Dahlan memberikan pelajaran bahwa kehidupan bersama membutuhkan rasa hormat sekaligus tindakan nyata. Tenggang rasa membuat seseorang lebih berhati-hati dalam memperlakukan orang lain, sedangkan kepedulian mendorongnya membantu ketika melihat kesulitan.
Keduanya dapat menjadi landasan untuk membangun masyarakat yang lebih rukun, adil, dan peduli. Generasi muda dapat memulainya dari hal-hal sederhana, baik dalam pertemanan, keluarga, lingkungan sekitar, maupun ruang digital. Nilai budaya akan terus hidup apabila tidak hanya dibicarakan, tetapi juga diterapkan secara konsisten dalam perilaku sehari-hari.
