Kuliah Sambil Kerja: Antara Mengejar Gelar dan Memenuhi Kebutuhan Hidup

Mahasiswa Aktif Pendidikan Sosiologi Universitas Negeri Jakarta
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Muhammad Fathuramzy tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketika Ruang Kuliah Bertemu Dunia Kerja
Bagi sebagian mahasiswa, hari tidak berakhir setelah perkuliahan selesai. Ada yang harus segera berangkat ke tempat kerja, menghadapi jadwal sif, melayani pelanggan, atau menyelesaikan tanggung jawab pekerjaan sebelum kembali membuka materi kuliah. Di tengah dua kesibukan tersebut, tugas akademik, waktu istirahat, dan kebutuhan sehari-hari tetap harus diatur.
Kuliah sambil bekerja bukan sekadar persoalan membagi waktu. Bagi mahasiswa yang menjalaninya, keputusan tersebut dapat berkaitan dengan kebutuhan ekonomi, keinginan untuk mandiri, maupun upaya mendapatkan pengalaman kerja sebelum lulus. Mereka berusaha menyelesaikan pendidikan sekaligus memenuhi tanggung jawab lain yang tidak selalu bisa ditunda.
Namun, pengalaman mahasiswa pekerja tidak bisa disamaratakan. Ada yang bekerja untuk menambah uang saku, ada yang ingin memperoleh pengalaman profesional, dan ada pula yang memiliki kebutuhan finansial lebih mendesak. Perbedaan alasan ini penting dipahami agar kuliah sambil bekerja tidak hanya dilihat sebagai persoalan kedisiplinan atau kemampuan mengatur jadwal.
Dua Peran dengan Tuntutan Berbeda
Menjadi mahasiswa berarti menghadapi kegiatan akademik seperti mengikuti perkuliahan, mengerjakan tugas, membaca materi, dan mempersiapkan ujian. Sementara itu, pekerjaan memiliki tanggung jawab serta jadwal tersendiri. Ketika keduanya berlangsung bersamaan, mahasiswa perlu menentukan prioritas tanpa mengabaikan salah satu perannya.
Penelitian Rizky Wahyu Wulandari yang diterbitkan dalam jurnal Acta Psychologia pada 2024 melibatkan 313 mahasiswa yang bekerja di Yogyakarta. Penelitian tersebut menemukan bahwa keseimbangan antara kehidupan dan pekerjaan (work-life balance) berpengaruh signifikan terhadap keterikatan mahasiswa pada pekerjaannya (work engagement). Temuan ini menunjukkan adanya hubungan antara kemampuan menjaga keseimbangan peran dan keterlibatan seseorang dalam pekerjaan, meskipun hasilnya tidak otomatis menggambarkan seluruh mahasiswa pekerja di Indonesia.
Penelitian lain oleh Naila El Hamra dan Puti Archianti Widiasih dalam jurnal WACANA pada 2024 secara khusus membahas mahasiswa yang bekerja di sektor makanan dan minuman. Dengan pendekatan kualitatif, penelitian tersebut melibatkan tiga mahasiswa melalui observasi dan wawancara mendalam. Hasilnya mengidentifikasi beragam alasan bekerja, strategi menjaga keseimbangan kuliah dan pekerjaan, serta kesulitan yang dialami ketika tuntutan keduanya muncul bersamaan.
Kedua penelitian itu memperlihatkan bahwa menjalani dua peran membutuhkan penyesuaian. Meski demikian, jumlah dan karakteristik partisipan pada setiap penelitian berbeda. Karena itu, temuan tersebut lebih tepat digunakan untuk memahami pengalaman dan hubungan antarfaktor, bukan untuk menyimpulkan bahwa semua mahasiswa yang bekerja mengalami masalah yang sama.
Bukan Hanya Soal Pandai Mengatur Waktu
Ketika mahasiswa kesulitan menyelesaikan tugas atau merasa kelelahan, persoalannya sering kali disederhanakan menjadi kurangnya kemampuan mengatur waktu. Padahal, jadwal kerja, beban tugas, waktu perjalanan, dan kesempatan beristirahat juga menentukan ruang yang tersedia bagi mahasiswa untuk belajar.
Penelitian Caroline Laviosa, Augustina Sulastri, dan Basilius Oda Sanjaya yang diterbitkan dalam jurnal Proyeksi meneliti 103 mahasiswa di Semarang yang bekerja paruh waktu selama 16–35 jam per minggu. Penelitian tersebut menemukan hubungan positif yang signifikan antara academic burnout atau kelelahan akademik dan prokrastinasi akademik. Artinya, pada kelompok yang diteliti, tingkat kelelahan akademik yang lebih tinggi berkaitan dengan kecenderungan menunda tugas yang lebih tinggi.
Temuan itu tidak membuktikan bahwa bekerja sambil kuliah pasti menyebabkan kelelahan atau membuat prestasi akademik menurun. Namun, hasilnya mengingatkan bahwa kondisi mahasiswa pekerja perlu dipahami secara lebih menyeluruh. Menunda tugas, misalnya, tidak selalu dapat dijelaskan hanya melalui anggapan bahwa mahasiswa kurang disiplin.
Di sisi lain, pekerjaan juga dapat memberikan pengalaman yang bermanfaat. Mahasiswa berkesempatan mengenal lingkungan profesional, belajar berkomunikasi, dan memahami tanggung jawab di luar ruang kelas. Manfaat tersebut tetap perlu dilihat berdasarkan pengalaman masing-masing, bukan dianggap sebagai hasil yang pasti dialami setiap mahasiswa.
Dukungan Lebih Penting daripada Sekadar Tuntutan
Menjalani kuliah sambil bekerja membutuhkan strategi yang realistis. Mahasiswa dapat menyusun jadwal berdasarkan jam kerja dan tenggat tugas, memperkirakan waktu perjalanan, serta menentukan prioritas untuk kegiatan yang paling mendesak. Waktu istirahat juga perlu diperhitungkan, bukan dianggap sebagai bagian yang bisa selalu dikorbankan.
Komunikasi menjadi hal penting berikutnya. Mahasiswa dapat berusaha memahami jadwal kerja sebelum mengambil tambahan sif dan mengomunikasikan benturan jadwal perkuliahan kepada pihak yang berkaitan di tempat kerja. Sebaliknya, lingkungan kerja yang memungkinkan pertukaran jadwal secara wajar dapat membantu mahasiswa mengelola tanggung jawabnya. Cara-cara ini bukan jaminan semua masalah akan selesai, tetapi dapat menjadi pilihan penyesuaian sesuai kondisi masing-masing.
Dalam lingkungan kampus, informasi mengenai layanan konseling, bimbingan akademik, dan pilihan konsultasi jadwal dapat membantu mahasiswa yang mengalami kesulitan. Dukungan keluarga dan teman juga dapat berarti, terutama ketika mahasiswa membutuhkan ruang untuk membicarakan beban yang sedang dihadapi.
Yang tidak kalah penting, pengalaman mahasiswa pekerja perlu didengarkan tanpa buru-buru memberikan penilaian. Tidak semua orang memiliki jadwal, kemampuan finansial, atau dukungan sosial yang sama. Membandingkan satu mahasiswa dengan mahasiswa lain tanpa mempertimbangkan perbedaan keadaan justru dapat mengaburkan persoalan yang sebenarnya.
Mengejar Gelar Tanpa Mengabaikan Kehidupan
Kuliah sambil bekerja memperlihatkan bahwa kehidupan mahasiswa tidak selalu terbatas pada kegiatan akademik. Bagi sebagian orang, pendidikan berjalan berdampingan dengan tanggung jawab pekerjaan dan kebutuhan sehari-hari. Situasi ini membuat pengalaman kuliah menjadi beragam, dengan tantangan dan strategi yang tidak selalu sama.
Penelitian mengenai keseimbangan peran, kelelahan akademik, dan pengalaman mahasiswa pekerja dapat membantu masyarakat memahami persoalan tersebut berdasarkan bukti, bukan sekadar anggapan. Namun, setiap hasil penelitian perlu dibaca sesuai cakupan responden dan metode yang digunakan agar kesimpulannya tidak melampaui data.
Pada akhirnya, mahasiswa yang bekerja tidak semestinya hanya dipuji karena dianggap mandiri, ataupun dinilai kurang fokus ketika menghadapi kesulitan. Mereka perlu memiliki kesempatan untuk belajar, bekerja, dan beristirahat secara seimbang sesuai keadaan yang dihadapi.
Mengejar gelar dan memenuhi kebutuhan hidup memang dapat berjalan bersamaan, tetapi keduanya membutuhkan tenaga, waktu, dan dukungan yang nyata. Sebab, keberhasilan pendidikan bukan hanya tentang seberapa kuat seseorang bertahan menghadapi tuntutan, melainkan juga tentang bagaimana ia dapat terus belajar tanpa harus mengabaikan kebutuhan hidupnya sendiri.
