Konten dari Pengguna

Narasi Soliditas Koalisasi: Antara Janji Kampanye dan Realita Politik

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhamad Fauzan Ikhsan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber : Freepik.com
zoom-in-whitePerbesar
Sumber : Freepik.com

Setelah pemilu usai, perhatian publik kini tertuju pada dinamika internal Koalisi Indonesia Maju (KIM) yang mengusung pasangan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka. Koalisi besar yang terdiri dari Gerindra, Golkar, PAN, Demokrat, hingga PSI ini diharapkan tetap solid dalam mengawal pemerintahan ke depan.

Dalam masa kampanye, narasi yang dibangun adalah tentang persatuan, keberlanjutan, dan kolaborasi antar kekuatan politik. Namun kini, saat pemerintahan akan segera dimulai, tantangan baru muncul: bagaimana menjaga kesatuan koalisi di tengah perbedaan kepentingan, terutama dalam hal penyusunan kabinet dan arah kebijakan.

Presiden terpilih Prabowo beberapa kali menegaskan bahwa semua mitra koalisi akan diajak bekerja sama dalam membentuk pemerintahan yang kuat dan profesional. Hal ini disampaikan dalam berbagai pertemuan politik dan forum publik, dengan pesan utama bahwa stabilitas politik akan menjadi modal besar untuk melanjutkan pembangunan nasional.

Namun realitanya, menjaga kohesi antar partai tidaklah mudah. Setiap partai memiliki basis massa, agenda, dan ekspektasi masing-masing. Oleh karena itu, dibutuhkan komunikasi politik yang terbuka dan konsisten agar semangat kebersamaan dalam kampanye tidak luntur dalam praktik pemerintahan.

Gaya komunikasi Prabowo yang cenderung merangkul dan Gibran yang lebih responsif terhadap isu-isu generasi muda menjadi perpaduan yang cukup menarik. Keduanya tampak berupaya menjaga keseimbangan antara retorika kampanye dan realitas politik, termasuk dalam merespons dinamika jelang pelantikan Oktober 2025 mendatang.

Koalisi ini diharapkan tak hanya kuat secara elektoral, tapi juga mampu menghadirkan stabilitas politik dan kebijakan yang menyentuh kebutuhan rakyat. Narasi yang sempat dibangun selama kampanye seperti “melanjutkan yang baik” kini diuji dalam proses perumusan program kerja yang nyata dan inklusif.

Jika soliditas koalisi dapat dijaga, maka pemerintahan mendatang berpotensi menghadirkan perubahan positif. Namun jika komunikasi internal tersendat, maka bisa saja muncul gesekan yang merugikan kepercayaan publik.

Kini, masyarakat tak hanya menunggu janji ditepati, tapi juga menanti bagaimana koalisi ini mampu menjawab harapan dalam bentuk aksi konkret. Di sinilah narasi politik bukan hanya soal kata, tetapi juga tentang bukti.