Konten dari Pengguna

Mitos Gaya Belajar Siswa: Antara Keyakinan dan Realitas Kelas

m ferrari firmansyah

m ferrari firmansyah

Mahasiswa S2 Pengembangan Kurikulum Universitas Negeri Semarang dan Guru SMP yang mengkaji praktik pembelajaran dari pengalaman nyata di kelas. Menulis tentang strategi, tantangan literasi siswa, dan kesenjangan antara kurikulum dan realitas belajar.

·waktu baca 2 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari m ferrari firmansyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Siswa belajar sesuai dengan gaya belajar. Foto : Dok. Penulis
zoom-in-whitePerbesar
Siswa belajar sesuai dengan gaya belajar. Foto : Dok. Penulis

Konsep gaya belajar siswa masih menjadi dasar dalam banyak praktik pembelajaran di kelas. Di banyak ruang kelas, keyakinan tentang gaya belajar masih menjadi dasar dalam merancang pembelajaran. Siswa dikategorikan sebagai visual, auditori, atau kinestetik, dan guru berusaha menyesuaikan metode mengajar dengan preferensi tersebut. Bahkan, penelitian menunjukkan bahwa setiap siswa memang memiliki kecenderungan gaya belajar yang berbeda-beda.

Namun, pertanyaan yang lebih penting bukan lagi apakah gaya belajar itu ada, melainkan seberapa besar perannya dalam membantu siswa memahami materi.

Mengapa Gaya Belajar Siswa Tidak Selalu Menentukan Hasil Belajar

Dalam praktiknya, guru sering menghadapi ketidaksesuaian antara metode mengajar dan keberagaman gaya belajar siswa. Penelitian juga menunjukkan bahwa pembelajaran di kelas masih cenderung didominasi metode ceramah dan belum sepenuhnya mengakomodasi variasi gaya belajar . Kondisi ini sering dianggap sebagai penyebab rendahnya pemahaman siswa.

Namun, pengalaman di kelas tidak selalu mendukung asumsi tersebut.

Saya sendiri tidak secara khusus menyesuaikan pembelajaran dengan kategori gaya belajar tertentu. Pendekatan yang saya gunakan lebih bersifat kontekstual dan berbasis praktik langsung. Siswa diajak terlibat aktif melalui diskusi, eksplorasi, dan pengalaman belajar yang konkret.

Menariknya, sebagian besar siswa tetap mampu mengikuti pembelajaran, meskipun secara teori mereka memiliki gaya belajar yang berbeda-beda. Kedekatan emosional memang membuat mereka lebih terlibat, tetapi keterlibatan saja tidak cukup menjelaskan pemahaman. Yang lebih menentukan adalah bagaimana siswa memproses informasi melalui pengalaman, interaksi, dan proses berpikir yang terjadi selama pembelajaran.

Di titik ini, terlihat bahwa gaya belajar bukanlah faktor utama yang menentukan keberhasilan belajar. Siswa yang mengalami kesulitan sering kali bukan karena metode yang tidak sesuai dengan gaya mereka, tetapi karena belum memiliki kemampuan untuk memahami, menghubungkan, dan mengolah informasi secara mendalam.

Artinya, fokus pembelajaran perlu bergeser. Bukan lagi pada upaya menyesuaikan gaya mengajar dengan gaya belajar, tetapi pada bagaimana guru merancang pengalaman belajar yang mendorong siswa berpikir. Pertanyaan yang lebih relevan bukan “apakah metode ini sesuai dengan gaya belajar siswa?”, melainkan “apakah metode ini membantu siswa benar-benar memahami?”

Pada akhirnya, gaya belajar mungkin membantu kita memahami preferensi siswa. Namun, jika dijadikan pusat strategi pembelajaran, kita berisiko mengabaikan hal yang lebih penting: bagaimana siswa benar-benar belajar.