Konten dari Pengguna

Ketika Narasi Mengubah Pahlawan Menjadi Ancaman

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muchammad Galih Fachri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Artikel Berita _ Hasil Karya Pribadi dengan Aplikasi ibisPaint X
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Artikel Berita _ Hasil Karya Pribadi dengan Aplikasi ibisPaint X

Pahlawan merupakan sosok yang dihormati dan dicintai masyarakat. Namun, bagaimana jika citra kepahlawanan itu tidak rusak karena kesalahannya sendiri, melainkan karena narasi baru yang sengaja diciptakan? Cerpen Batman Bajo karya Yuan Jonta memperlihatkan bagaimana tokoh yang disegani masyarakat dapat diubah melalui narasi yang dibangun oleh kelompok penguasa melalui media. Narasi tersebut bertujuan untuk membentuk opini baru pada masyarakat sehingga Batman Bajo dianggap sebagai ancaman.

Dalam cerpen tersebut, Batman Bajo adalah seseorang yang melakukan aksi-aksi heroik untuk mengisi waktu luangnya. Namun, tindakannya membuat banyak orang dari berbagai kota meniru aksinya. Selain itu, aksinya dinilai merusak prinsip sterilitas dan kenyamanan kawasan elite. Oleh karena itu para penguasa mendorong media untuk membangun narasi baru untuk merusak citra Batman Bajo.

Pada cerpen ini pesan yang ingin disampaikan oleh Yuan Jonta yaitu mengenai kritik sosial. Menurut Burhan Nurgiyantoro, sastra yang menyampaikan pesan kritik dapat lahir karena terjadi sesuatu yang tidak beres dalam kehidupan sosial dan masyarakat. Dalam cerpen ini, kondisi yang tidak beres tersebut adalah penyalahgunaan kekuasaan yang memanfaatkan media untuk membentuk opini publik. Narasi yang terus diulang dapat mengubah cara masyarakat memandang Batman Bajo sebagai ancaman dengan perlahan. Seperti yang dilakukan otoritas zona bebas pada cerpen ini:

Otoritas zona bebas juga tidak tinggal diam. Mereka mendorong media menulis bahaya vandalistis bagi citra destinasi wisata, yang kata mereka, adalah ancaman langsung terhadap perekonomian masyarakat.

Kutipan tersebut memperlihatkan media tidak lagi menyampaikan informasi secara objektif. Pemberitaan mengenai aksi Batman Bajo ditulis sebagai ancaman ekonomi sehingga masyarakat teralihkan ke citra negatif yang sengaja dibangun.

Selain mengandung kritik sosial, cerpen ini juga menyampaikan pesan moral secara tidak langsung. Burhan Nurgiyantoro menjelaskan bahwa penyampaian moral secara tidak langsung dilakukan melalui peristiwa, konflik, dan tingkah laku para tokoh sehingga pembaca harus menafsirkan sendiri pesan yang ingin disampaikan pengarang. Dengan demikian, amanat baru dapat dipahami setelah pembaca menafsirkan keseluruhan cerita.

You either die a hero, or you live long enough to see yourself become the villain.”

Dialog tersebut memiliki makna bahwa seseorang akan dikenang sebagai pahlawan jika perjuangannya berakhir sebelum citranya dirusak. Dengan demikian, lebih baik dikenang sebagai pahlawan dibanding hidup cukup lama hingga citranya berubah menjadi ancaman di mata masyarakat.

Cerpen Batman Bajo menunjukkan bahwa ancaman terbesar sebagai pahlawan bukanlah lawan yang semakin kuat, melainkan dari kekuatan narasi. Media di bawah kendali penguasa dapat mengubah persepsi masyarakat melalui pemberitaan yang terus diulang. Melalui cerpen ini, Yuan Jonta mengingatkan bahwa masyarakat perlu bersikap kritis terhadap informasi yang diperoleh agar tidak mudah terpengaruh dengan opini yang sengaja dibangun.

Daftar Pustaka

Jonta, Yuan. (2026, 17 Januari). Batman Bajo. Kompas.id.

Nurgiyantoro, Burhan. (2002). Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.