Apakah Generasi Muda Masih Mengutamakan Adab dalam Berdiskusi?

Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, fokus mengangkat isu sosial, hukum, pendidikan, dan dinamika generasi muda, serta aktif menulis opini dan gagasan.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari M Haivan Fikri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

"Perbedaan pendapat bukanlah ancaman bagi ilmu. Yang menjadi ancaman adalah ketika adab dikalahkan oleh ego."
Era digital telah mengubah cara manusia berkomunikasi. Jika dahulu diskusi hanya berlangsung di ruang kelas, forum ilmiah, atau majelis ilmu, kini setiap orang dapat menyampaikan pendapatnya hanya melalui satu sentuhan layar. Kehadiran media sosial memang membawa kemudahan dalam bertukar informasi, tetapi di saat yang sama juga menghadirkan tantangan baru terhadap etika berdiskusi.
Fenomena saling menghina, merendahkan, hingga menyerang pribadi menjadi pemandangan yang hampir setiap hari ditemukan di kolom komentar media sosial. Perbedaan pendapat yang seharusnya memperkaya sudut pandang justru berubah menjadi pertengkaran yang penuh emosi. Tidak sedikit orang lebih sibuk mencari kemenangan daripada mencari kebenaran.
Pertanyaannya, apakah generasi muda masih mengutamakan adab dalam berdiskusi?
Kebebasan Berpendapat Bukan Kebebasan Menyakiti
Indonesia merupakan salah satu negara dengan pengguna internet terbesar di dunia. Menurut Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), lebih dari 220 juta penduduk Indonesia telah terhubung ke internet. Sementara DataReportal 2025 menunjukkan masyarakat Indonesia menghabiskan lebih dari tujuh jam setiap hari di internet. Sebagian besar waktu tersebut dihabiskan melalui media sosial.
Media sosial pada dasarnya merupakan ruang publik digital yang memungkinkan siapa pun menyampaikan gagasan. Namun, kebebasan tersebut sering kali disalahartikan sebagai kebebasan untuk menghina, mencaci, bahkan menyebarkan kebencian.
Padahal, kebebasan berpendapat tidak pernah berarti kebebasan menghilangkan rasa hormat kepada orang lain.
Ketika Tujuan Diskusi Berubah
Dalam dunia akademik, diskusi bertujuan menguji gagasan agar semakin mendekati kebenaran. Perbedaan pendapat justru dianggap sebagai bagian penting dari perkembangan ilmu pengetahuan.
Ironisnya, di media sosial tujuan tersebut perlahan bergeser.
Banyak orang tidak lagi membaca untuk memahami, melainkan membaca untuk mencari celah menyerang lawan. Argumen dibalas dengan ejekan, data dilawan dengan prasangka, bahkan identitas seseorang lebih sering diserang daripada isi pemikirannya (ad hominem).
Akibatnya, kualitas diskusi mengalami penurunan. Yang viral bukan argumen terbaik, melainkan komentar paling pedas.
Islam Mengajarkan Adab Sebelum Berdebat
Islam tidak pernah melarang perbedaan pendapat. Bahkan sejarah para ulama menunjukkan bahwa perbedaan pandangan merupakan sesuatu yang wajar selama dilandasi adab dan kejujuran ilmiah.
Allah SWT berfirman:
"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah, pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang paling baik." (QS. An-Nahl [16]: 125)
Ayat ini menunjukkan bahwa Islam bukan hanya memperhatikan apa yang disampaikan, tetapi juga bagaimana cara menyampaikannya.
Dalam ayat lain Allah berfirman:
"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain..." (QS. Al-Hujurat [49]: 11)
Larangan tersebut terasa sangat relevan dengan kondisi media sosial saat ini. Banyak perdebatan tidak lagi membahas substansi persoalan, melainkan berubah menjadi ajang saling mempermalukan.
Rasulullah SAW juga bersabda:
"Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam." (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini mengajarkan bahwa tidak semua pendapat harus diucapkan, apalagi jika hanya akan melukai orang lain tanpa memberikan manfaat.
Mencari Kebenaran atau Sekadar Mencari Pengakuan?
Salah satu tantangan terbesar generasi muda saat ini adalah budaya validasi di media sosial. Jumlah likes, komentar, dan pengikut sering kali dijadikan ukuran keberhasilan sebuah pendapat.
Akibatnya, sebagian orang lebih memilih membuat komentar yang provokatif daripada argumentatif. Mereka ingin terlihat menang, bukan ingin memahami. Mereka ingin mendapatkan perhatian, bukan menemukan solusi.
Padahal, dalam tradisi keilmuan Islam, mengakui kesalahan bukanlah tanda kelemahan. Sebaliknya, itu merupakan bentuk keberanian intelektual dan kerendahan hati.
Generasi Muda Memegang Peran Penting
Sebagai kelompok yang paling aktif menggunakan media sosial, generasi muda memiliki tanggung jawab besar dalam membangun budaya diskusi yang sehat.
Perubahan tidak harus dimulai dari hal yang besar. Menghargai pendapat orang lain, memeriksa kebenaran informasi sebelum membagikannya (tabayyun), serta menghindari hinaan dan ujaran kebencian merupakan langkah sederhana yang dapat menciptakan ruang digital yang lebih beradab.
Di tengah derasnya arus informasi, generasi muda tidak dituntut untuk selalu sepakat. Perbedaan pendapat adalah sesuatu yang wajar, bahkan menjadi bagian dari tradisi keilmuan Islam. Namun, kebebasan menyampaikan pendapat tidak boleh menghilangkan adab dalam menyampaikannya. Sebab, tujuan diskusi bukanlah mencari siapa yang paling hebat atau paling keras suaranya, melainkan mencari kebenaran dengan cara yang bermartabat. Pada akhirnya, kualitas suatu bangsa tidak hanya diukur dari kecerdasan generasinya, tetapi juga dari bagaimana mereka menghormati orang lain ketika berbeda pendapat.
