Belajar Ketahanan Keluarga dari Spirit "Dalihan Na Tolu"

Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, fokus mengangkat isu sosial, hukum, pendidikan, dan dinamika generasi muda, serta aktif menulis opini dan gagasan.
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari M Haivan Fikri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketahanan keluarga menjadi salah satu hal yang semakin rentan di tengah perkembangan zaman dan derasnya arus digital. Sekarang, masalah yang sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari termasuk konflik rumah tangga, hubungan yang kurang baik antara anggota keluarga, dan kurangnya komunikasi.
Banyak hubungan keluarga runtuh karena kurangnya saling memahami daripada masalah besar. Hubungan keluarga secara bertahap dirusak oleh kesibukan, keegoisan, dan komunikasi yang buruk. Ironisnya, orang-orang zaman sekarang dapat aktif berbicara di media sosial setiap hari, tetapi sulit meluangkan waktu untuk benar-benar mendengar keluarga mereka sendiri.
Dalihan Na Tolu adalah konsep kekerabatan dalam budaya Batak. Secara sederhana, itu adalah sistem hubungan keluarga yang didasarkan pada keseimbangan, penghormatan, dan kasih sayang antara anggota keluarga. Manat markahanggi, elek marboru, dan somba marmora adalah tiga unsur utama dari Dalihan Na Tolu yang berfungsi sebagai pedoman untuk menjaga hubungan harmonis antara saudara, pasangan, dan keluarga besar.
Manat markahanggi mengajarkan pentingnya mempertahankan hubungan baik dengan saudara dan keluarga dekat melalui berbicara dengan hati-hati dan menghargai satu sama lain. Banyak kali, pertengkaran keluarga berasal dari ucapan kecil yang dianggap tidak penting tetapi akhirnya dipendam hingga menjadi pertengkaran besar.
Sementara itu, elek marboru mengajarkan bagaimana seorang menantu atau pasangan dapat menjaga hubungan keluarga pasangannya tetap harmonis. Nilai-nilai ini mendorong sikap saling menghormati, perhatian, dan menjaga perasaan setiap orang.
Somba marmora mengajarkan betapa pentingnya menghormati orang tua dan mertua sebagai orang yang memiliki pengalaman dan berperan penting dalam menjaga keharmonisan keluarga. Hubungan yang baik dengan orang tua dan keluarga besar dianggap penting dalam masyarakat Batak untuk membangun rumah tangga yang harmonis.
Menariknya, prinsip-prinsip Dalihan Na Tolu sangat relevan dengan masyarakat modern. Banyak masalah keluarga kontemporer disebabkan oleh kurangnya komunikasi yang efektif dan kurangnya perhatian terhadap anggota keluarga lainnya.
Keluarga mulai kehilangan tradisi berbicara dan memberi nasihat satu sama lain. Namun, konsep makkobar, yang dikenal dalam tradisi Batak sebagai kebiasaan berbicara, berbicara, dan saling memberikan nasihat untuk menjaga hubungan baik, dikenal dalam budaya Batak. Tradisi komunikasi ini dapat mencegah konflik berkepanjangan dan mempererat hubungan keluarga.
Keluarga yang kuat tidak hanya dibangun dengan uang yang cukup atau rumah yang mewah; mereka juga terbentuk melalui komunikasi yang kuat, rasa saling menghargai, dan kepedulian satu sama lain.
Spirit Dalihan Na Tolu sangat penting bagi orang Batak, tetapi juga dapat menjadi pelajaran bagi semua orang tentang cara menjaga keluarga tetap kuat di dunia modern yang semakin individualis. Keluarga adalah tempat di mana seseorang merasa didengar, dipahami, dan diterima. Rumah yang paling nyaman mungkin bukan yang paling besar, tetapi yang memiliki banyak percakapan.
