Konten dari Pengguna

Payung Lukis Ngudi Rahayu : Dari Desa Kliwonan ke Panggung Dunia

M Huda Lil Muttaqin

M Huda Lil Muttaqin

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Prodi Ilmu Komunikasi yang tertarik pada dunia media, seni, dan budaya lokal. Aktif menulis tentang kreativitas, komunikasi publik, serta kisah inspiratif dari berbagai daerah di Indonesia.

·waktu baca 3 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari M Huda Lil Muttaqin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di tengah derasnya arus modernisasi, seni tradisional Indonesia terus menunjukkan daya tahannya. Salah satunya melalui karya indah Payung Lukis Ngudi Rahayu dari Desa Kliwonan, Kecamatan Juwiring, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Karya ini bukan hanya sekadar payung pelindung dari hujan dan panas, tetapi juga simbol harmoni antara manusia, alam, dan spiritualitas Jawa.

Dibuat dari bahan bambu dan kertas dengan sentuhan lukisan tangan yang sarat makna filosofis, setiap payung Ngudi Rahayu menyimpan cerita tentang doa keselamatan, keseimbangan hidup, dan penghormatan terhadap alam. Menurut Dinas Pariwisata Jawa Tengah (2024), keberadaan seni ini menjadi ikon kebangkitan ekonomi kreatif berbasis budaya lokal yang kini mulai dikenal hingga mancanegara.

"Proses melukis payung di Sanggar Ngudi Rahayu, Klaten." Foto : M Huda Lil Muttaqin
zoom-in-whitePerbesar
"Proses melukis payung di Sanggar Ngudi Rahayu, Klaten." Foto : M Huda Lil Muttaqin

Sanggar Ngudi Rahayu, yang berdiri sejak awal 1990-an, menjadi pelopor dalam menjaga tradisi melukis payung khas Klaten. Dalam wawancara eksklusif bersama salah satu seniman senior, Pak Sumarno, terungkap bahwa proses pembuatan satu payung bisa memakan waktu tiga hingga lima hari.

“Setiap motif memiliki makna kehidupan yang mendalam,” ujar Pak Sumarno sambil menunjukkan hasil karyanya yang berwarna cerah dan detail. “Motif Bunga Aster melambangkan ketulusan, kesederhanaan, dan keabadian kasih. Kelopaknya yang berlapis-lapis menggambarkan keindahan yang tumbuh dari hati yang tulus, sementara warnanya yang lembut mencerminkan kedamaian serta harapan akan kebahagiaan yang abadi.”

Para seniman Ngudi Rahayu memilih cat berbahan dasar air agar ramah lingkungan serta mempertahankan tekstur alami dari bahan kertas dan bambu.

Kini, seni payung lukis tidak lagi terbatas pada galeri desa. Berkat media sosial dan platform digital seperti Instagram dan Etsy, karya mereka telah menembus pasar internasional hingga ke Jepang, Belanda, dan Australia.

"Proses pengeringan payung hias di halaman Sanggar Ngudi Rahayu, Klaten." Foto : M Huda Lil Muttaqin

Data dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (2023) menunjukkan bahwa subsektor kriya menyumbang 14,9% dari total nilai ekonomi kreatif nasional. Hal ini memperkuat posisi para pengrajin lokal sebagai bagian penting dalam pertumbuhan ekonomi budaya.

Pemerintah Kabupaten Klaten turut mendukung melalui program “Kampung Wisata Kreatif”, yang memberikan pelatihan pemasaran digital, desain produk, serta kolaborasi kreatif antara pengrajin dan desainer lokal.

Sebagai contoh, kerja sama Ngudi Rahyu dalam Klaten Creative Expo 2024 berhasil meningkatkan permintaan hingga 40%. Fakta ini membuktikan bahwa pelestarian budaya dapat berjalan seiring dengan inovasi ekonomi kreatif.

Dari sisi estetika, seni payung lukis juga semakin populer sebagai elemen dekoratif dan properti fotografi yang memperkaya konten visual di media sosial.

Menurut Dr. Riris K., dosen seni rupa di ISI Surakarta (2023),

“Seni Payung Lukis Ngudi Rahyu adalah contoh sempurna dari adaptasi budaya. Ia tetap mempertahankan akar tradisi, tetapi juga berani bereksperimen dengan bentuk dan warna agar relevan dengan zaman.”

Pandangan ini memperkuat kenyataan bahwa seniman Ngudi Rahayu tidak sekadar mempertahankan warisan, tetapi juga menghadirkan napas baru bagi seni kriya Indonesia di era digital.

Melalui setiap sapuan kuas, para seniman Ngudi Rahayu menuturkan kisah tentang dedikasi, kesabaran, dan cinta terhadap budaya lokal. Mereka adalah penjaga nilai-nilai luhur yang menghadirkan kebanggaan sekaligus peluang ekonomi bagi masyarakat.

Kini saatnya kita turut mendukung mereka. Kunjungi sentra seni Ngudi Rahayu di Klaten, dukung produk lokal, atau miliki sendiri Payung Lukis sebagai simbol apresiasi terhadap seni Indonesia.

Bagi Anda yang ingin menyelami lebih dalam dunia kriya Nusantara, bacalah pula artikel lain tentang inovasi seni tradisional dan perjalanan ekonomi kreatif Indonesia di era digital. Dengan langkah kecil, kita dapat menjadi bagian dari gerakan besar yang menjaga agar warna-warni budaya Indonesia tetap hidup dan berkilau di mata dunia.