Akuntansi Tanpa Kalkulator: Masa Depan atau Ancaman?

Dosen Universitas Pamulang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Muhammad Ikhsan Febriyanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dulu, pekerjaan akuntan identik dengan tumpukan dokumen, kalkulator, jurnal, buku besar, dan spreadsheet yang penuh angka. Hari ini, sebagian pekerjaan tersebut perlahan berpindah ke layar. Transaksi dapat tercatat otomatis, rekonsiliasi dapat dilakukan sistem, laporan keuangan dapat dihasilkan dalam hitungan detik, bahkan kecerdasan buatan mulai mampu membantu membaca pola dalam data keuangan.
Lalu muncul pertanyaan yang mungkin terdengar menakutkan bagi sebagian orang: jika teknologi semakin mampu mengerjakan pekerjaan akuntansi, untuk apa kita masih membutuhkan akuntan?
Pertanyaan tersebut justru menunjukkan bahwa kita mungkin selama ini keliru memahami profesi akuntansi. Akuntan bukan sekadar orang yang menghitung angka. Akuntan adalah manusia yang memahami cerita di balik angka.
Teknologi dapat mengetahui bahwa biaya perusahaan meningkat 20 persen. Namun, apakah peningkatan itu disebabkan oleh ekspansi bisnis, inefisiensi, pemborosan, atau keputusan strategis? Sistem dapat mendeteksi transaksi yang tidak biasa, tetapi manusia tetap perlu menilai apakah transaksi tersebut merupakan kesalahan, risiko, atau bahkan indikasi kecurangan.
Di sinilah inovasi teknologi akuntansi seharusnya ditempatkan.
Digitalisasi, cloud accounting, otomatisasi, big data, blockchain, hingga artificial intelligence bukanlah musuh profesi akuntansi. Justru teknologi memberikan kesempatan kepada akuntan untuk meninggalkan pekerjaan yang repetitif dan bergerak menuju pekerjaan yang membutuhkan analisis, pertimbangan, komunikasi, dan pengambilan keputusan.
Masalahnya, pendidikan akuntansi terkadang masih terlalu sibuk mengajarkan cara menghasilkan angka, sementara dunia kerja mulai membutuhkan orang yang mampu menjelaskan mengapa angka tersebut terjadi dan apa yang harus dilakukan setelahnya.
Bayangkan seorang mahasiswa akuntansi yang sangat mahir membuat jurnal secara manual, tetapi tidak mampu membaca dashboard keuangan. Ia mungkin unggul dalam ujian, tetapi belum tentu siap menghadapi perusahaan yang hampir seluruh proses pencatatannya telah terotomatisasi.
Sebaliknya, mahasiswa yang mampu menggunakan teknologi tetapi tidak memahami prinsip akuntansi juga menghadapi persoalan. Ia dapat mengoperasikan sistem, tetapi belum tentu mampu menyadari ketika sistem menghasilkan informasi yang keliru.
Karena itu, masa depan akuntansi bukan tentang manusia versus mesin. Masa depan akuntansi adalah tentang manusia yang mampu bekerja bersama mesin.
Kita perlu mengubah cara memandang inovasi teknologi akuntansi. Jangan hanya bertanya, “Aplikasi apa yang harus dipelajari mahasiswa?” Pertanyaan yang lebih penting adalah, “Kemampuan manusia apa yang harus semakin kuat ketika pekerjaan teknis mulai dilakukan mesin?”
Jawabannya adalah berpikir kritis, etika, analisis data, pemahaman bisnis, komunikasi, dan kemampuan mengambil keputusan.
Teknologi mampu mempercepat proses, tetapi kecepatan tanpa pertimbangan dapat menghasilkan kesalahan yang juga lebih cepat. Artificial intelligence dapat memberikan rekomendasi, tetapi keputusan tetap membutuhkan tanggung jawab manusia. Sistem dapat menyimpan jutaan transaksi, tetapi tidak dapat menggantikan integritas orang yang memiliki kewenangan atas transaksi tersebut.
Karena itu, inovasi teknologi akuntansi seharusnya tidak berhenti pada penciptaan sistem yang lebih cepat, tetapi harus diarahkan pada sistem yang lebih transparan, akurat, aman, dan mampu membantu manusia membuat keputusan yang lebih baik.
Bagi perguruan tinggi, perubahan ini menjadi pekerjaan rumah yang serius. Pendidikan akuntansi tidak cukup hanya mengajarkan debit dan kredit. Mahasiswa perlu diperkenalkan pada analitik data, otomatisasi, kecerdasan buatan, keamanan informasi, sistem informasi akuntansi, sekaligus etika penggunaan teknologi.
Sebab tantangan akuntan masa depan mungkin bukan lagi, “Bisakah kamu membuat laporan keuangan?”
Pertanyaannya akan berubah menjadi:
“Bisakah kamu memahami laporan yang dibuat mesin, menemukan ketika mesin salah, menjelaskan maknanya kepada manusia, dan mengambil keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan?”
Jika jawabannya ya, maka teknologi bukan akhir dari profesi akuntansi.
Teknologi justru menjadi awal dari akuntan yang lebih strategis.
Dan mungkin, ketika mesin mulai mengambil alih pekerjaan menghitung, itulah saatnya akuntan benar-benar kembali pada pekerjaan terpentingnya: berpikir.
