Dari Ubi ke Peluang Usaha: Cerita KKN UMY 130 Mengolah Potensi Desa Mojosari

Muhammad Iqbal Gimnastiar merupakan mahasiswa Hubungan Internasional yang berasal dari Kalimantan Barat dan saat ini sedang menempuh studi di Yogyakarta
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Muhammad Iqbal Gimnastiar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

GUNUNGKIDUL — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) tahun 2026 Kelompok 130 menggelar pelatihan pengolahan hasil pangan berbasis ubi bagi ibu-ibu Desa Mojosari pada 20 Februari 2026. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan nilai komoditas lokal melalui pembuatan tepung mocaf (Modified Cassava Flour) dan aneka kue bernilai ekonimis.
Bagi sebagian warga, ubi bukanlah bahan pangan yang istimewa. Selama bertahun-tahun, umbi tersebut biasanya hanya direbus, digoreng, atau langsung dijual kepada pengepul. Namun, melalui kegiatan yang digagas oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Kelompok 130, ubi mulai dilihat dari sudut pandang yang berbeda sebagai potensi ekonomi yang dapat dikembangkan oleh masyarakat desa.
Dalam pelatihan tersebut, peserta diperkenalkan dengan tepung mocaf ( Modified Cassava Flour ), yaitu tepung yang diolah dari singkong dan dapat digunakan sebagai alternatif pengganti tepung terigu dalam berbagai jenis makanan. Selain mendapatkan penjelasan mengenai manfaat dan potensi ekonominya, para peserta juga diajak untuk mengajarkan secara langsung proses pengolahan hingga pembuatan adonan kue berbahan dasar mocaf.
Antusiasme para peserta terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Diskusi kecil sering terjadi di antara ibu-ibu yang mengikuti pelatihan, mulai dari menanyakan teknik pengolahan hingga berdiskusi kemungkinan mengembangkan produk berbahan mocaf sebagai usaha rumahan.
“Selama ini ubi biasanya hanya kami rebus atau goreng untuk dikonsumsi sehari-hari atau langsung dijual ke pengepul. Setelah mengikuti pelatihan ini, kami jadi tahu bahwa ubi bisa diolah menjadi tepung mocaf yang memiliki nilai jual lebih tinggi dan bisa dijadikan berbagai macam kue,” ujar Ibu Sukinah salah satu peserta pelatihan.
Kegiatan ini tidak hanya memberikan pengetahuan baru mengenai pengolahan pangan lokal, tetapi juga membuka ruang bagi masyarakat untuk melihat potensi desa dari sudut pandang yang berbeda. Melalui pemanfaatan bahan pangan yang mudah ditemukan di sekitar mereka, peluang usaha kecil berbasis rumah tangga mulai terlihat.
Program tersebut menjadi bagian dari upaya mahasiswa KKN untuk mendorong pemberdayaan masyarakat melalui pemanfaatan sumber daya lokal. Kehadiran mahasiswa di tengah masyarakat diharapkan tidak hanya menjalankan program kerja semata, tetapi juga membantu menggali potensi desa yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal. Hal ini sejalan dengan peran KKN yang mendorong mahasiswa untuk terlibat langsung dalam pengembangan potensi desa bersama masyarakat.
(Author: Gifatul Hidayah, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta)
