Bulan Shafar, Perjalanan Kisah Cinta Baginda Rasulullah SAW

Muhammad Irfan Dhiaulhaq
An undergraduate student at the Faculty of Law at the Islamic University of Indonesia, currently write on human life and social culture problems.
Konten dari Pengguna
4 September 2023 11:48 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Muhammad Irfan Dhiaulhaq tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi Kisah Cinta. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Kisah Cinta. Foto: Unsplash
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Berakhirnya bulan Muharram 1444 H menandakan telah sampainya kita kepada bulan yang memiliki makna tersirat sebuah “perjalanan”. Bulan Shafar, adalah bulan kedua dalam kalender Hijriah.
ADVERTISEMENT
Dalam Pengertian Etimologi Bahasa Arab, shafar berasal dari kata ‘”صفر “ yang berarti kosong. Makna ini merujuk kepada kebiasaan Masyarakat Arab dahulu ketika meninggalkan/mengosongkan rumah mereka untuk mengumpulkan makanan ataupun untuk keperluan perang.
Di samping itu, bulan ini juga sangat dipenuhi dengan “perjalanan” selembar kisah cinta Baginda Nabi Muhammad SAW. Berbagai momen-momen yang tercipta pada bulan ini mewarnai kisah hidup beliau. Beberapa kisah tersebut sangat berpengaruh dengan penyebaran Islam secara luas diseluruh Jazirah Arab ke depanya.

Siti Khadijah, Cinta pertama Nabi Muhammad SAW

Ilustrasi cinta pertama Rasulullah SAW. Foto: Unsplash
Beliau adalah Khadijah binti Khuwailid Ibnu Asad Ibnu ‘Abdil ‘Uzza ibnu Qushay. Pada nama Qushay, kakeknya yang keempat, nasabnya Khadijah bertemu dengan Rasulullah SAW.
Ibu Khadijah bernama Fatimah binti Za’idah. Nenek Khadijah dari pihak ibu bernama Halah binti ‘Abdu Manaf. ‘Abdu Manaf adalah kakek ketiga Rasulullah. Jadi dari pihak ayah maupun ibu, Rasulullah dan Khadijah memiliki hubungan kekerabatan yang dekat.
ADVERTISEMENT
Khadijah merupakan seorang gadis yang cantik jelita, dengan akhlak mulia dan independensi diri yang sangat elok. Dimasa jahiliyyah, eliau diberi gelar “Wanita yang suci” (Thahirah). Setelah dua kali menikah, banyak sekali lelaki yang hendak meminangnya. Tetapi Khadijah engga menerima pinangan tersebut lantaran ingin mengasuh anak dan mengelola perdaganganya.
Namun, ketika beliau bertemu dengan Baginda Nabi Muhammad SAW, ketika itu beliau membutuhkan pimpinan rombongan dagang yang kompeten, singkat cerita dipilihlah Muhammad bin Abdillah sebagai pimpinan rombongan yang akan berangkat ke negeri Syam tersebut.
Sejak pertama kali bertemu, Khadijah telah merasakan sebuah “cinta” yang tulus, bukan karena harta atau takhta melainkan karena Ridho Allah SWT semata. Muhammad yang kala itu masih berusia 15 Tahun pun merasakan “Cinta” pertamanya.
ADVERTISEMENT
Akhirnya, dengan persetujuan kedua belah pihak. Khadijah melaksanakan lamarannya kepada Muhammad di kediamannya. Peristiwa ini menjadi momen perjalanan “Kisah Cinta” Baginda Nabi Muhammad SAW bersama Siti Khadijah serta menciptakan sebuah tradisi yang sangat menghormati Wanita yang bermakna bahwa Wanita dapat menentukan seorang pendamping hidupnya.
Peristiwa ini memberikan Warna harmonis dalam Bulan Shafar ini. Oleh karena itu, banyak para calon suami dan istri yang ingin menyelenggarakan pernikahan mereka di bulan ini meneladani peristiwa Rasulullah SAW.

Hijrah Meninggalkan Kota Tercinta, Makkah

Ilustrasi hijrah meninggalkan kota Makkah. Foto: Unsplash
Selain bulan Muharram, Rasulullah SAW melangsungkan hijrahnya melalui bulan Shafar. Pada bulan ini, Rasulullah SAW melangsungkan perjalanan hijrah menuju kota Madinah. Beliau sangat mencintai kota tanah kelahiranya sendiri yaitu kota Makkah. Namun, Allah SWT memerintahkan untuk hijrah ke sebuah kota yang beliau tidak ketahui sebelumnya. Allah SWT berfirman,
ADVERTISEMENT
"Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya: "Dalam keadaan bagaimana kamu ini?".
Mereka menjawab: "Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Makkah)". Para malaikat berkata: "Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?". Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali" (Q.S. An-Nisaa’ [4]:97).
Perjalanan meninggalkan kota tercinta ini haruslah dimulai, meskipun nampaknya sangat berat bagi beliau. Diceritakan pula ketika Rasulullah SAW ketika hendak meninggalkan kota Makkah untuk berhijrah ke Madinah, Nabi menengok ke kota Makkah dan berucap: “Demi Allah, sesungguhnya engkau adalah bumi Allah yang paling aku cintai, seandainya bukan yang bertempat tinggal di sini mengusirku, niscaya aku tidak akan meninggalkanya” . Betapa besar rasa “Cinta” beliau terhadap kota kelahirannya ini yang harus ia tinggalkan demi menegakkan Risalah Islam.
ADVERTISEMENT

Pernikahan Putri Tercinta, Fatimah Az-Zahra

Ilustrasi pernikahan Fatimah Az-Zahra. Foto: Unsplash
Putri tercinta Baginda Rasulullah SAW. Beliau sangat dicintai melebihi putri-putri yang lainnya. Jika ia datang kepada Nabi, beliau segera berdiri dari tempat duduknya. Dan setelah menciumnnya, beliau mempersilakan ia duduk di tempat duduknya.
Hal yang sama juga dilakukan oleh Fatimah kepada beliau. Salah satu fenomena cinta Rasulullah SAW kepada Fatimah yang sangat indah, ialah pernyataan beliau di depan banyak orang bahwa Fatimah adalah bagian dari darah daging beliau, dan potongan dari hidup beliau. Sesungguhnya Rasulullah marah karena Fatimah marah, dan beliau senang karena ia senang.
Di samping itu, terdapat seorang pemuda yang sangat menyukai Putri Rasulullah ini. Ali bin Abi Thalib, ia adalah sepupu dan salah satu sahabat yang istimewa di mata Rasulullah SAW.
ADVERTISEMENT
Selain beliau tinggal langsung bersama Rasulullah, dia juga seorang pemberani yang pernah menggantikan posisi tidur Rasulullah SAW di kala malam pengincaran oleh kaum Quraisy dan juga seorang mujahid yang sangat gagah.
Ia telah menyukai Fatimah sejak lama. Beberapa Ujian sangat dahsyat dilewati. Singkatnya, Seluruh sahabat terkemuka Nabi, Mulai dari Abu Bakar, Umar bin Khattab serta Utsman bin Affan telah mencoba melamar Fatimah.
Namun, semua lamaran itu ditolak oleh Nabi Muhammad SAW. Akhirnya dengan tekad yang kuat, pernikahan putri tercinta Nabi yang penuh “Cinta” di bawah Ridho-Nya pun terselenggarakan di bulan yang penuh warna ini.