Konten dari Pengguna

Bulan Suci di Negeri Kiwi

M Iwan Munandar

M Iwan Munandar

Penerjemah, pensyarah

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari M Iwan Munandar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ramadhan adalah bulan yang dirindukan oleh umat Islam, termasuk muslim Indonesia di Wellington, Selandia Baru. Seperti apa berpuasa di sana? Apa saja kegiatan muslim Indonesia menyemarakkan bulan suci? Simak catatan berikut.

Selandia Baru terletak di tenggara Indonesia, terpisah jarak sekitar 7.000 km atau 10 kali jarak Surabaya-Jakarta. Penerbangan dari Bali atau Jakarta, dengan satu kali transit di Australia, bisa menempuh 13-14 jam. Negara ini salah satu yang terdekat dengan Kutub Selatan. Musim semi, panas, gugur, dan dingin datang silih berganti.

Wellington, kota terbesar kedua setelah Auckland, berada di ujung selatan dari Pulau Utara. Dua pulau besar di Selandia Baru lazim disebut Pulau Utara dan Selatan. Kota ini menjadi ibu kota menggantikan Auckland pada 1865. Luas wilayah Wellington sekitar 8.000 km² berpenduduk lebih kurang 500.000 orang. Mungkin terbayang seberapa lengang Wellington. Konon pula Wellington merupakan ibu kota paling selatan dan paling berangin sejagat.

Sekarang musim dingin. Ini berlangsung dari Juni sampai Agustus dengan suhu rata-rata 12 derajat celcius. Di Wellington, udara bisa lebih dingin. Real feel-nya jauh di bawah 10 derajat celcius. Juli bulan terdingin dengan rerata suhu 5-6 derajat celcius.

Di tengah suhu dan terpaan angin dingin inilah kaum muslim di Selandia Baru saat ini berpuasa. Bagi muslim Indonesia yang biasa tinggal di tempat bertemperatur hangat, ini menjadi tantangan tersendiri. Dalam kondisi lapar dan dahaga serta kegiatan yang tidak banyak berubah, mereka dituntut untuk bisa menahan dingin yang kadang menusuk tulang.

Jika di Indonesia selama Ramadhan ada penyesuaian jam kerja atau sekolah, ‘kemewahan’ itu tidak didapatkan di sini. Jam kerja dan sekolah tetap. Secara umum, jam kerja per minggu 30-40 jam. Awal dan akhir jam kerja bergantung bidang pekerjaan. Waktu belajar di primary school (kelas 1-8) antarapukul 09.00 sampai 15.00, sedangkan secondary school (kelas 9-13) sedikit lebih lama, yaitu pukul 08.40 sampai 15.20.

Meski demikian, musim dingin membawa ‘berkah’ tersendiri. Di Selandia Baru, karena jauh dari khatulistiwa, pergeseran waktu salat di musim berbeda bisa mencapai 4 jam. Di musim dingin, misalnya, subuh jatuh pada sekitar pukul 06.00 dan magrib pukul 17.00 sore, sehingga berpuasa hanya 11 jam. Namun, saat musim panas, yakni Desember-Februari, subuh sekitar pukul 04.00 dan magrib pukul 21.00.

Di Selandia Baru, awal dan akhir Ramadhan ditetapkan oleh masyarakat atau dalam hal ini organisasi Islam. Organisasi induk yang menjadi wadah berbagai organisasi dan komunitas Islam se-Selandia Baru adalah Federation of Islamic Associations of New Zealand (FIANZ). Kantor FIANZ berada di lingkungan Masjid Besar Wellington, Kilbirnie. Salah satu tugas FIANZ adalah menetapkan awal dan akhir Ramadhan yang selanjutnya dijadikan rujukan oleh berbagai organisasi, kelompok, atau individu Muslim.

Organisasi yang kegiatannya melibatkan paling banyak muslim Indonesia di Welington, termasuk saat Ramadhan, adalah Umat Islam Indonesia (UMI). UMI tidak berafiliasi dengan kelompok Islam tertentu dan terbuka untuk setiap Muslim, khususnya yang dari atau terkait dengan Indonesia. Tidak ada data resmi tentang jumlah muslim Indonesia, namun diperkirakan terdapat 300-400 orang yang tinggal di Wellington dan sekitarnya.

UMI didirikan oleh diaspora Indonesia pada 2008. Saat ini, UMI terdaftar sebagai organisasi dengan status incorporate charitable trust. “Selama tinggal di Selandia Baru lebih dari lima tahun, saya belum pernah berinteraksi dengan organisasi muslim resmi negara lain. Di sini, jarang ada organisasi yang khusus muslim negara tertentu, resmi terdaftar dan aktif seperti UMI,” tutur Wirasatya Adhikara, ketua UMI. Dalam perkembangannya, kegiatan UMI melibatkan pelajar/mahasiswa Indonesia yang studi di Wellington. Tercatat sejumlah pengurus UMI adalah mahasiswa aktif.

Duta Besar Indonesia untuk Selandia Baru, Tantowi Yahya, berfoto bersama jemaah Buka Puasa Bersama dan Tarawih Keliling di Kedutaan Besar RI, Sabtu (3/6). (Foto: Firdaus Selong)

Program Ramadhan UMI masuk dalam agenda rutin tahunan. Kegiatan cukup intens karena diadakan setiap akhir pekan (Sabtu), yakni buka bersama (bukber) dan tarawih keliling (tarling). Bergantung pada jumlah pekan dalam satu bulan, bukber dan tarling diselenggarakan di empat atau lima lokasi berbeda untuk menjangkau umat yang tinggal di berbagai wilayah (suburb). Tempat yang biasa digunakan adalah pusat kegiatan masyarakat (community centre) di Ngaio, Newlands, Johnsonville, atau Karori.

Kegiatan Ramadan UMI cukup semarak. Jamaah bisa mencapai 300 orang atau lebih. Selain buka bersama dan salat berjamaah, acara diisi oleh ceramah. Dai atau penceramah berasal dari dalam dan luar Selandia Baru. Salah satunya adalah pasangan suami istri dosen di Wellington. Selain bergelar doktor, mereka mengenyam pendidikan di pesantren dan Timur Tengah.

Untuk mendatangkan dai dari tanah air, UMI bekerja sama dengan berbagai pihak, termasuk Himpunan Umat Islam Auckland (HUMIA), Indonesian Islamic Centre (IIC), PCI NU Australia dan Selandia Baru, PP Muhammadiyah, dan Dompet Dhuafa. Mubalig dari Indonesia singgah di sejumlah kota di Selandia Baru dalam kegiatan dakwah khusus Ramadhan dan Idul Fitri.

Jemaah berbincang dengan Dubes (Foto: Firdaus Selong)

Jemaah memanfaatkan acara untuk silaturahmi dan merasakan suasana Ramadhan khas Indonesia. Banyak yang hadir bersama keluarga. Hidangan pun bernuansa nusantara. Sate, rendang, gulai, bakso, siomay, atau pempek kerap tersaji. Acara diadakan swadana dari kas organisasi dan donasi (infak), namun jemaah boleh bring-a-plate alias membawa dan berbagi hidangan, baik makanan berat maupun kudapan. Saat ini, ada penggalangan dana untuk pembangunan ‘Masjid UMI’. Ramadhan mungkin bisa menjadi momen yang tepat untuk itu.

Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Wellington dalam beberapa kesempatan mengadakan bukber dan tarling. Gedung KBRI yang berlokasi di Glen Road, Kelburn bisa menampung sekitar 100 jamaah. Yang datang terkadang bukan hanya umat Islam, non-muslim pun hadir untuk silaturahmi dan menikmati kuliner nusantara.

Beragam sajian khas Indonesia tersedia untuk jemaah Bukber Tarling (Foto: Firdaus Selong)

Perhimpunan Pelajar Indonesia di Wellington (PPIW) juga mentradisikan bukber. Yang agak berbeda, bukber diadakan di salah satu ruang di Victoria University of Wellington atau di kontrakan mahasiswa yang bisa menampung 40-50 orang. Mahasiswa bergotong royong memasak dan siapkan sajian. Kadang ada pula hidangan bring-a-plate dari mahasiwa atau pihak lain.

Melalui kegiatan Ramadhan, umat Islam Indonesia di Wellington berupaya merasakan khidmat dan meraup berkah di bulan suci. Mereka juga mempererat persaudaraan dengan sesama muslim dan saudara sebangsa meski jauh dari tanah air.

*) Penulis studi/riset di Victoria University of Wellington