Konten dari Pengguna

Tentang Mahasiswa dan Studi di Negeri Kiwi (2)

M Iwan Munandar

M Iwan Munandar

Penerjemah, pensyarah

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari M Iwan Munandar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Belajar dan tinggal di lingkungan baru mengharuskan mahasiswa untuk beradaptasi. Tantangan bisa terkait dengan akomodasi, cuaca atau perkuliahan. Bagaimana mereka mengelola kegiatan akademik? Apa kiat menyeimbangkan kehidupan akademik dan sosial?

Akomodasi adalah salah satu pos yang menguras anggaran. Karena itu, upaya mendapatkan tempat tinggal yang sesuai kebutuhan dan kondisi keuangan perlu mendapat perhatian sejak awal. Beberapa mahasiswa yang penulis kenal terpaksa tinggal di akomodasi sementara dengan kondisi yang kurang ideal. Boleh jadi ini karena minimnya informasi tentang proses mencari dan mendapatkan akomodasi.

Prosedur umum adalah pengiriman aplikasi, penilaian profil peminat serta penandatanganan kontrak. “Kontrak biasanya 1 tahun meski ada juga yang kurang dari itu,” tutur Adinda Tenriangke Muchtar, mahasiswa S3 Studi Pembangunan, VUW. Selain jalur resmi, pemanfaatan jejaring sosial untuk mendapatkan informasi sebaiknya dilakukan bahkan selagi di tanah air. “Rajin mencari informasi bisa memudahkan saat kita tiba, apalagi untuk mahasiswa S3 yang kerap pergi untuk riset,” tambahnya.

Selandia Baru negeri empat musim. Suhu dingin mungkin menjadi tantangan. Temperatur di sejumlah wilayah di pulau Utara dan Selatan bervariasi. Mengutip keterangan di laman National Institute of Water and Atmospheric Research, suhu rata-rata tahunan di pulau Utara 16C dan Pulau Selatan 10C. Real feel bisa lebih dingin. Bukannya pendingin ruang, mahasiswa lebih akrab dengan baju hangat, pemanas ruang atau selimut elektronik. Meski dingin, udara Selandia Baru dikenal bersih dan bebas polusi.

Kecakapan berbahasa Inggris wajib dimiliki. Sertifikat IELTS/TOEFL lazimnya menjadi salah satu syarat penerimaan universitas. Pengelola beasiswa memiliki kebijakan berbeda terkait hal ini. Ada yang menilainya sebagai tanggung jawab pribadi, namun ada pula yang mengadakan pelatihan bahasa dan pengenalan akademik untuk penerima beasiswa sebelum memulai studi.

Anggota PPI Selandia Baru berfoto bersama Duta Besar RI untuk Selandia Baru, Tantowi Yahya, seusai Kongres PPI NZ 2017

“Kemampuan bahasa Inggris, khususnya menulis, mutlak diperlukan. Penting diketahui, tidak ada perlakuan khusus bagi mahasiswa nonpenutur bahasa Inggris,” tandas Rosyid. Namun ia juga mengingatkan, “Kampus umumnya menyediakan konsultasi bahasa berkenaan dengan tugas akademik. Jadi, sangat dianjurkan memanfaatkan layanan ini.”

Proses akademik yang berbeda memerlukan pendekatan yang lain pula. Mahasiswa perlu lebih mandiri dan aktif. “Kita dituntut belajar mandiri dan banyak membaca. Keaktifan di kelas sangat dihargai,” jelas Rosyid. Sependapat dengan Rosyid, Rifqi menambahkan, “Interaksi yang intens dengan dosen atau tutor bisa membantu memahami materi kuliah. Membuat kelompok belajar atau study group juga berguna.”

Kegiatan dan fasilitas pendukung akademik, misalnya pelatihan, seminar, kelompok diskusi, konsultasi, dll, perlu dimanfaatkan secara maksimal. Adinda mengatakan, “Bukan hanya aktivitas dalam skema support system, tetapi fasilitas dan staf juga memadai. Contohnya, staf akademik yang sigap membantu dan jaringan perpustakaan yang luas disertai pelayanan yang baik.”

Di tengah kesibukan kuliah atau riset, sejumlah mahasiswa tetap aktif berorganisasi. Rosyid, misalnya, pernah menjadi ketua Persatuan Pelajar Indonesia Wellington (PPIW) dan Selandia Baru (2016-2017). Dalam kepengurusannya, Rosyid mengadakan Indonesian Week di Wellington untuk pertama kali dan menyelenggarakan kongres PPI Selandia Baru setelah lama vakum.

Adinda Muchtar (duduk, ketiga dari kiri) bersama tim Angklung KAMASI Wellington

Adinda punya cerita berbeda. Ia aktif di PPI Wellington serta kegiatan diplomasi budaya bersama KBRI dan Keluarga Masyarakat Indonesia (KAMASI). Adinda mengikuti berbagai forum dan kegiatan, antara lain Victoria International Leadership Programme (VILP), Social Theory Spatial Praxis Group dan Asia NZ Foundation Leadership Network serta mengelola portal SuaraKebebasan.org. “Saya bisa belajar banyak hal selain topik penelitian. Yang tak kalah penting, saya berkesempatan menjelajahi tempat dan bertemu orang baru, berjejaring dan mengenalkan Indonesia,” pungkasnya.