Ramai-ramai Proyek Drainase Jalan: Warga Untung atau Justru Merusak Jalan?

Site Engineer perusahaan kontraktor aspal jalan
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari M Khusnul Maroom tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pemandangan di pinggir jalan raya Kabupaten Demak kita belakangan ini hampir seragam galian pinggir jalan untuk saluran drainase jalan. Pemerintah kabupaten (pemkab) di wilayah Demak tampak sangat gencar dan serentak membangun saluran air atau drainase jalan raya. Langkah ini tentu diambil bukan tanpa alasan. Ancaman banjir tahunan yang kerap melumpuhkan aktivitas kota dan merendam pemukiman menjadi dorongan utama di balik proyek-proyek masif ini.Mengingat musim penghujan akan segera datang dibulan-bulan penghujung tahun dan awal tahun. Setidaknya bulan Okteober hingga bulan maret tahun berikutnya.

Secara prinsip, warga tentu menyambut baik adanya persiapan penanggulangan dini banjir oleh pemkab. Siapa yang tidak ingin jalanan bebas dari genangan air saat hujan deras turun? Namun, di balik harapan kota yang bebas banjir, ada keresahan yang dirasakan oleh para pengguna jalan setiap harinya. Debu yang mengepul saat panas, kemacetan panjang akibat penyempitan jalur, serta sisa-sisa galian yang tidak rapi menjadi pemandangan sehari-hari. Selain itu, tidak jarang juga warga harus mengalami penutupan jalan dan pengalihan jalan yang jarak tempuhnya dirasa cukup jauh.
Secara umum, ini merupakan konsekwensi riil dari dampak pembangunan besa-besaran yang dilakukan oleh pemkab untuk perbaikan jalan raya. Dalam setiap keputusan proyek lapangan selalu ada konekwensi yang haru diterima oleh masyarakat setempat. Suka atau tidak suka. Hanya mampu bersabar dan menanti sampai waktu kapan pryek ini akan selesai dan bisa berjalan normal kembali seperti biasanya. Namun apakah betul proyek ini betul-betul memiliki manfaat riil bagi masyarakat pengguna jalan pada umumnya atau ke masyarakat setempat khususnya?
Atas dasar ini, saya ingin memnulis sedikit mengenai: apakah proyek saluran air ini akan benar-benar menguntungkan warga secara utuh, atau justru malah menjadi awal dari rusaknya jalan aspal yang tadinya mulus? Sebab, membangun saluran air dan menjaga kualitas jalan adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan.
Realita di Lapangan: "Jebakan Batman" Pasca-Penggalian
Bagi para pengendara motor maupun mobil yang saban hari melintasi jalur bekas proyek, selesainya penanaman beton saluran air ternyata belum tentu menjadi akhir dari masalah. Sering kali, masalah baru justru baru dimulai setelah alat-alat berat pergi meninggalkan lokasi. Salah satu yang paling sering ditemui adalah penurunan tanah di bekas galian. Area di sekitar pinggiran beton saluran sering kali amblas atau bergelombang, menciptakan "jebakan batman" bagi pengguna jalan. Bagi pengendara sepeda motor, celah atau perbedaan ketinggian antara beton saluran air dan aspal lama sangat berbahaya. Salah sedikit mengambil jalur, ban motor bisa terselip dan memicu kecelakaan fatal, terutama saat malam hari atau ketika hujan deras melanda.
Dampaknya tidak berhenti pada risiko keselamatan fisik semata, tetapi juga merembet ke dompet warga. Banyak pemilik kendaraan yang harus merogoh kocek lebih dalam untuk mengganti spare part kendaraan seperti pelek yang penyok, memperbaiki suspensi yang rusak, atau mengganti ban yang pecah akibat menghantam bekas galian yang tidak rata. Belum lagi para pemilik toko atau usaha kecil di pinggir jalan yang omzetnya merosot drastis karena akses masuk ke tempat usaha mereka tertutup tumpukan tanah atau menjadi curam akibat perbedaan tinggi jalan yang tidak dirapikan kembali.
Pada akhirnya, timbul sebuah fenomena unik: warga mungkin terbebas dari banjir besar, tetapi mereka harus bertaruh keselamatan akibat material-material berceceran tak beraturan dijalan dan menanggung biaya perbaikan kendaraan akibat jalanan yang tidak lagi nyaman pasca-proyek.
Mengapa Air dan Aspal Tidak Pernah "Akur"?
Untuk memahami mengapa jalan sering kali cepat rusak di sekitar proyek saluran air, kita perlu melihat bagaimana hubungan antara air dan material aspal secara sederhana. Bisa dibilang, air adalah musuh utama dari jalan aspal. Bahan perekat pada aspal memiliki sifat yang sensitif terhadap air yang tergenang. Ketika air hujan menggenang di permukaan jalan dan tidak bisa langsung mengalir, air tersebut akan meresap perlahan ke dalam pori-pori aspal. Saat jalan yang basah dan rapuh itu terus-menerus dilindas oleh ban mobil atau truk yang berat, terjadi penekanan air di dalam pori-pori tersebut. Lama-kelamaan, batu-batu kecil pada aspal akan terlepas satu per satu hingga akhirnya membentuk lubang.
Di sinilah peran penting saluran air bagi jalan aspal. Drainase jalan yang dibuat dengan baik berfungsi mengalirkan air selancar mungkin agar tidak sempat "ngetem" atau menggenang di atas permukaan aspal. Jalan yang kering akan membuat umur aspal jauh lebih awet.
Namun, mengapa setelah ada saluran air baru, jalanan di sekitarnya justru sering rusak dan berlubang?
Jawabannya terletak pada proses penutupan kembali galian. Saat tanah digali untuk memasak beton saluran air, struktur tanah di bawahnya telah berubah. Jika proses pengurukan dan pemadatan tanah bekas galian dilakukan secara terburu-buru atau asal jadi, tanah tersebut akan menyusut saat terkena hujan. Akibatnya, lapisan aspal yang ditambal di atasnya ikut turun, retak, dan akhirnya hancur ketika dilewati kendaraan.
Solusi dan Pentingnya Rekondisi Jalan yang Benar
Pembangunan saluran air dan perbaikan jalan aspal seharusnya tidak berjalan sendiri-sendiri. Sangat disayangkan jika anggaran daerah yang begitu besar dikeluarkan untuk membangun saluran air yang canggih, tetapi jalanan di atasnya dibiarkan rusak dan membahayakan warga.
Proses penutupan bekas galian tidak cukup hanya dengan menyiramkan aspal cair dan meratakannya seadanya memakai alat seadanya. Area pinggiran saluran air membutuhkan perlakuan khusus karena mempertemukan dua sifat material yang berbeda: beton yang sangat keras dan rigid, serta aspal yang lebih lentur.
Jika proses penghamparan aspal baru ke aspal lama tidak melekat sempurna, atau pemadatannya tidak maksimal, air hujan akan dengan mudah menyusup kembali ke celah tersebut. Dalam waktu beberapa minggu saja, tambalan aspal pasti akan terkelupas kembali.
Oleh karena itu, pengerjaan pelapisan ulang (overlay) dan perbaikan jalan pasca-penggalian tidak bisa dianggap sebagai pekerjaan sampingan yang sederhana. Kegagalan struktur jalan pasca-pembangunan drainase jalan sebagian besar disebabkan oleh pengerjaan pengaspalan ulang yang terburu-buru dan tidak memenuhi standar densitas. Untuk memastikan jalan raya kembali mulus dan tidak amblas di titik galian, penanganan rekondisi tersebut harus diserahkan kepada jasa pengaspalan yang berpengalaman serta memahami teknik pemadatan dan elevasi aspal di area berstruktur beton.
Selain itu, pihak pemkab dan pengawas proyek harus memperketat standar serah terima pekerjaan. Sebelum proyek dinyatakan selesai 100%, kualitas penutupan aspal di sepanjang jalur galian harus diuji terlebih dahulu. Apakah permukaannya sudah benar-benar rata, apakah kemiringannya sudah pas mengarah ke mulut saluran air, dan apakah jalan tersebut sudah aman untuk dilintasi oleh kendaraan roda dua maupun roda empat.
Kesimpulan
Langkah pemkab yang gencar memperbaiki dan membangun saluran drainase jalan di sepanjang jalan raya patut kita apresiasi sebagai ikhtiar menyelesaikan masalah banjir. Bagaimanapun, infrastruktur penampungan air yang baik adalah investasi jangka panjang bagi kenyamanan sebuah kota.
Namun, ukuran keberhasilan dari proyek infrastruktur jalan tidak boleh hanya berhenti pada tolok ukur "beton saluran air sudah terpasang rapi di dalam tanah". Manfaat yang utuh baru bisa dirasakan oleh warga jika keselamatan dan kenyamanan mereka di atas jalan raya tetap terjamin.
Jangan sampai niat baik mengalirkan air banjir justru mengalirkan masalah baru berupa jalanan berlubang dan kecelakaan lalu lintas. pemkab dan para pelaksana proyek di lapangan harus memiliki komitmen seimbang: saluran airnya lancar dan berfungsi optimal, permukaan jalan aspalnya tetap mulus, rapat, dan aman untuk semua pengguna jalan.
