Konten dari Pengguna

Guru "Bangkit dan Jangan Sakit" Harapan Bagi Anak Bangsa

M Lukman Leksono

M Lukman Leksono

Dosen bahasa Indonesia di Telkom University Penggiat Literasi Digital

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari M Lukman Leksono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Guru Harapan Anak Bangsa sedang memberikan salam semangat literasi kepada para siswanya (Dok.Foto Pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Guru Harapan Anak Bangsa sedang memberikan salam semangat literasi kepada para siswanya (Dok.Foto Pribadi)

Bangkit dan Jangan Sakit!. Tanggal 20 Mei selalu mengingatkan bangsa Indonesia pada semangat kebangkitan. Sebuah momentum ketika rakyat mulai sadar bahwa kemajuan bangsa hanya dapat diraih melalui persatuan, pendidikan, dan perjuangan bersama. Namun, di tengah peringatan Hari Kebangkitan Nasional tahun 2026 ini, hati kita justru sering disesakkan oleh berbagai kisah pilu para guru honorer di negeri sendiri yang berdampak pada masa depan anak bangsa.

Ada guru yang tetap mengajar meski gajinya tak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Ada yang menempuh perjalanan jauh melewati jalan rusak demi hadir di kelas tepat waktu. Bahkan tak sedikit guru yang harus bekerja sampingan menjadi buruh, pedagang kecil, hingga ojek daring agar dapur tetap mengepul. Ironisnya, mereka tetap berdiri di depan kelas dengan senyum terbaik untuk anak-anak bangsa.

Di tengah keadaan itu, lahirlah sebuah seruan sederhana namun penuh makna: “Bangkit dan Jangan Sakit.”

Guru Honorer memberikan sambutan di Aula SMA N 1 Dukuhwaru Kabupaten Tegal (Dok:Foto Pribadi)

Kalimat ini bukan sekadar permainan kata. Ia adalah doa, harapan, sekaligus jeritan hati bagi para guru Indonesia. Guru harus bangkit dari keterbatasan, tetapi bangsa ini juga tidak boleh membiarkan guru terus “sakit” — sakit karena lelah, sakit karena tekanan ekonomi, sakit karena kurangnya penghargaan, dan sakit karena sering kali perjuangannya dianggap biasa saja.

Padahal, guru adalah fondasi masa depan bangsa. Dari tangan merekalah lahir dokter, pemimpin, tentara, ilmuwan, ulama, hingga presiden. Tidak ada kemajuan tanpa pendidikan, dan tidak ada pendidikan tanpa pengorbanan guru.

Kita sering mendengar istilah pahlawan tanpa tanda jasa. Namun, jangan sampai kalimat itu justru menjadi alasan untuk membiarkan guru hidup tanpa kesejahteraan. Pengabdian memang mulia, tetapi kesejahteraan juga hak yang harus diperjuangkan. Sebab guru bukan hanya pengajar di sekolah, melainkan manusia yang memiliki keluarga, kebutuhan hidup, dan masa depan.

Hari Kebangkitan Nasional semestinya menjadi momentum kebangkitan kepedulian terhadap dunia pendidikan, terutama nasib guru honorer. Bangkit dalam arti menghadirkan kebijakan yang berpihak. Bangkit dalam arti memberikan penghormatan yang layak. Bangkit dalam arti memastikan bahwa guru tidak lagi dipandang sebagai pelengkap sistem, melainkan pusat dari pembangunan bangsa.

Namun, kebangkitan itu juga harus dimulai dari dalam diri para guru sendiri. Meski diterpa banyak keterbatasan, guru tidak boleh kehilangan harapan. Anak-anak Indonesia masih membutuhkan sosok pendidik yang tulus, kuat, dan menginspirasi. Di tengah derasnya pengaruh teknologi dan krisis moral generasi muda, kehadiran guru bukan tergantikan, melainkan semakin dibutuhkan.

Guru hari ini bukan hanya mengajar membaca dan berhitung, tetapi juga menjadi benteng karakter bangsa. Guru mengajarkan kejujuran di tengah maraknya kebohongan, mengajarkan sopan santun di tengah lunturnya etika, dan mengajarkan semangat perjuangan di tengah budaya instan.

Maka, “Bangkit dan Jangan Sakit” juga berarti menjaga semangat, menjaga hati, dan menjaga kesehatan jiwa dalam menghadapi kerasnya perjuangan pendidikan. Sebab ketika guru menyerah, maka satu generasi bisa kehilangan arah.

Sudah saatnya seluruh elemen bangsa membuka mata. Pemerintah, masyarakat, orang tua, dan peserta didik harus bersama-sama menghormati perjuangan guru, bukan hanya lewat ucapan, tetapi melalui tindakan nyata. Karena bangsa yang besar bukan hanya menghargai pahlawan masa lalu, tetapi juga memuliakan para pendidik yang sedang berjuang hari ini.

Di Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei 2026, mari kita renungkan kembali: jika guru terus terluka, bagaimana masa depan bangsa akan terjaga?

Untuk seluruh guru Indonesia, khususnya para guru honorer yang tetap setia mengabdi dalam keterbatasan — tetaplah kuat. Perjuanganmu mungkin tidak selalu terlihat, tetapi jasamu akan hidup dalam setiap keberhasilan anak bangsa.

Bangkitlah, wahai guru Indonesia.

Dan jangan biarkan pengabdianmu berubah menjadi sakit yang tak pernah didengar negeri ini.