Lengger, Calung, dan Mendoan: Jejak Kearifan Banyumas

Dosen bahasa Indonesia di Telkom University Penggiat Literasi Digital
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari M Lukman Leksono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mendoan Banyumas di Jawa Tengah dikenal sebagai makanan khas dan kearifan lokal yang kaya. Budaya Banyumasan bukan hanya sekadar warisan masa lalu, melainkan juga identitas hidup masyarakat yang tercermin dalam seni, bahasa, tradisi, hingga kuliner. Salah satu warisan budaya yang terkenal adalah Seni Lengger Lanang, tarian khas Banyumas yang dibawakan penari laki-laki dengan dandanan perempuan.
Awalnya, kesenian ini bersifat sakral, berhubungan dengan spiritualitas dan perlindungan masyarakat. Kini, Lengger lebih sering ditampilkan sebagai hiburan, namun tetap memikat karena memadukan gerak luwes, musik, serta makna filosofis.
Selain Lengger, Banyumas juga memiliki Calung, musik tradisional berbahan bambu. Pertunjukan calung bukan sekadar suguhan seni, tetapi juga media kritik sosial dan humor khas Banyumasan. Ciri inilah yang membuat calung menjadi hiburan rakyat yang merakyat dan mengakar. Di samping itu, ada kentongan atau “thek-thek” yang dipukul berirama. Selain menghibur, kentongan dahulu berfungsi sebagai alat komunikasi untuk tanda bahaya atau ronda malam.
Identitas Banyumas juga tercermin melalui bahasa Banyumasan. Dengan logat khas yang lugas, masyarakat Banyumas dikenal dengan filosofi cablaka, yakni sikap terus terang, apa adanya, dan tidak suka berbelit. Filosofi ini berbeda dengan budaya Jawa halus yang penuh tingkatan bahasa, sehingga menampilkan karakter egaliter, terbuka, dan jujur.
Nilai cablaka ini menjadi kebanggaan sekaligus ciri khas yang melekat dalam pergaulan sehari-hari. Dalam kehidupan sosial, masyarakat Banyumas menjunjung tinggi tradisi gotong royong. Hal ini tercermin dalam kerja bakti, pembangunan desa, hingga hajatan keluarga. Tradisi besar lain adalah Sedekah Bumi, yakni ritual syukur atas hasil panen yang diwujudkan melalui doa bersama dan makan hasil bumi secara kolektif. Tradisi ini memperkuat rasa kebersamaan dan menumbuhkan solidaritas warga. Selain itu, masih ada tradisi Nyadran, Tedhak Siten, dan berbagai ritual adat lain yang mengandung nilai spiritual sekaligus mempererat ikatan sosial.
Di bidang kuliner, Banyumas terkenal dengan mendoan, tempe tipis yang digoreng setengah matang dengan tepung berbumbu. Mendoan mencerminkan kesederhanaan sekaligus kreativitas masyarakat dalam mengolah bahan lokal. Selain mendoan, ada gethuk goreng Sokaraja dan soto Sokaraja yang memperkaya identitas kuliner Banyumas.
Hidangan-hidangan ini bukan hanya makanan, tetapi juga bagian dari budaya yang mempererat interaksi sosial, karena biasanya dinikmati bersama-sama. Dengan semua kekayaan budaya dan kearifan lokal tersebut, Banyumas dapat disebut sebagai laboratorium sosial-budaya.
Seni, bahasa, tradisi, dan kulinernya masih hidup dan memberi warna dalam kehidupan masyarakat. Tantangan ke depan adalah bagaimana melestarikan budaya tersebut di tengah arus globalisasi. Perlu ada upaya kreatif seperti festival budaya, promosi melalui media digital, serta pengenalan tradisi kepada generasi muda agar tetap relevan.
Khazanah budaya Banyumas adalah identitas yang harus dijaga. Dari seni Lengger dan Calung, filosofi cablaka, hingga mendoan yang sederhana, semuanya menunjukkan bahwa Banyumas memiliki kekayaan lokal yang membumi, guyub, dan sarat makna. Melestarikannya berarti menjaga jati diri sekaligus warisan berharga untuk masa depan.
