Angin Surya Kencana Membawa Kata yang Tak Pernah Sempat Kuucapkan

Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dari Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia semester 2
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari M Riyan Aditama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gunung Gede berdiri megah di ketinggian 2.958 meter di atas permukaan laut, menjadikannya salah satu gunung paling ikonik di Jawa Barat bahkan di seluruh nusantara. Terletak di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, gunung ini telah menjadi saksi bisu jutaan langkah kaki para pendaki, para pencari, dan para pecinta alam yang datang bukan hanya untuk menaklukkan puncak, tapi untuk menemukan sesuatu yang hilang di dalam diri. Hingga yang paling dinantikan hamparan Surya Kencana:
"Gunung tidak mengajarkan kita untuk menaklukkan. Ia mengajarkan kita untuk menyerah pada keindahan yang lebih besar dari diri sendiri."
Jika ada satu tempat di Indonesia yang bisa membuat seseorang menangis tanpa sebab yang jelas, itu adalah Alun-Alun Surya Kencana. Terletak di ketinggian sekitar 2.750 mdpl, Surya Kencana adalah sebuah dataran luas yang terbentang di antara punggung-punggung gunung, seluas lebih dari 50 hektare, tampak seperti halaman surga yang sengaja dibiarkan liar. Rumput-rumput pendek bergoyang pelan ditiup angin yang dingin dan bersih, sementara langit di atasnya terasa lebih dekat dari biasanya.
Tapi yang membuat Surya Kencana menjadi tempat yang tak terlupakan bukan hanya luasnya, bukan pula dinginnya udara yang bisa menembus jaket paling tebal sekalipun melainkan karena di sana lah edelweis tumbuh dalam keheningan, setia, abadi, dan tidak pernah meminta apa pun.
Anaphalis javanica, itulah nama ilmiahnya. Tapi para pendaki lebih mengenalnya dengan nama yang lebih sederhana dan lebih dalam maknanya bunga abadi. Edelweis tumbuh di ketinggian yang tidak semua tumbuhan sanggup bertahan. Ia tidak memilih tempat yang mudah, tidak memilih tanah yang subur dan nyaman. Ia justru memilih lereng-lereng berbatu, tanah yang kering dan dingin, tempat-tempat di mana yang lain menyerah. Dan di sanalah ia mekar pelan, sunyi, tanpa drama. Bunganya kecil, berwarna putih kekuningan, mengelompok seperti bintang-bintang yang jatuh ke tanah. Saat dipetik meski ini sekarang dilarang demi kelestarian ia tidak layu. Ia tetap seperti semula utuh, kering, abadi.
"Edelweis tidak tumbuh di tempat yang mudah. Ia memilih ketinggian, kesunyian, dan tanah yang keras karena hanya di sanalah ia bisa menjadi abadi. Persis seperti cinta yang paling dalam."
Itulah mengapa edelweis menjadi simbol cinta yang tidak lekang oleh waktu cinta yang tetap berdiri meski angin berubah arah, meski musim berganti, meski jarak memisahkan. Di Surya Kencana, edelweis tumbuh hampir di mana-mana. Mereka tidak minta dipuji, tidak minta difoto, tidak minta dikagumi. Mereka hanya tumbuh, seperti perasaan yang sudah terlanjur ada dan tidak tahu cara untuk pergi.
Kalau siang hari Surya Kencana adalah padang bunga dan angin, malam harinya adalah cerita yang berbeda. Saat matahari terbenam di balik siluet Gunung Pangrango dan langit mulai memerah jingga sebelum akhirnya gelap, Surya Kencana berubah menjadi planetarium terbesar yang pernah ada. Tanpa polusi cahaya, tanpa gedung-gedung yang menghalangi, bintang-bintang muncul satu per satu lalu semuanya sekaligus dalam kerapatan yang membuat nafas tertahan.
Di sana, berbaring di atas sleeping bag dengan aroma rumput dan edelweis di udara, seseorang bisa merasa sangat kecil sekaligus sangat penuh. Kecil karena alam begitu besar. Penuh karena entah kenapa, di tempat seperti ini, semua hal yang dulu terasa rumit menjadi lebih sederhana termasuk perasaan-perasaan yang selama ini disimpan rapat-rapat.
"Di bawah langit Surya Kencana, tidak ada yang bisa berpura-pura. Bintang terlalu banyak, keheningan terlalu dalam, dan hati terlalu lelah untuk menyimpan rahasia."
Maka di sinilah aku menulis ini untukmu. Bukan di café dengan musik yang terlalu keras, bukan di kamar dengan lampu yang terlalu terang tapi di sini, di antara edelweis yang tidak pernah layu dan bintang yang tidak pernah bohong. Aku belajar dari gunung ini bahwa cinta yang baik tidak selalu lantang. Ia diam seperti edelweis yang tumbuh di ketinggian tidak memaksa dilihat, tidak butuh tepuk tangan, tapi ada, selalu ada, bahkan di tempat yang paling sepi sekalipun.
Aku belajar dari Surya Kencana bahwa keindahan yang sesungguhnya butuh perjuangan untuk dicapai. Tidak ada jalan pintas ke sini. Kaki harus melangkah satu per satu, napas harus diatur, dan kadang-kadang kita harus diam hanya diam sebelum akhirnya tiba. Dan ketika tiba, semua lelah itu terbayar dengan satu pandangan yang membuat kita bertanya-tanya:" kenapa tidak dari dulu"
Barangkali begitu juga dengan kamu. Barangkali aku terlambat, atau terlalu diam, atau terlalu banyak menyimpan kata. Tapi di ketinggian ini, dengan edelweis di sebelahku dan bintang di atasku, aku ingin katakan apa yang selama ini menempel di dada dan tidak mau turun. Gunung tidak pernah jauh dari hati mereka yang pernah mendakinya. Dan Surya Kencana dengan segala edelweisnya yang abadi akan selalu ada, menunggu siapa pun yang datang membawa rindu. Termasuk aku, yang datang ke sini membawa namamu.
"Aku tidak membawa banyak bekal ke atas. Hanya cukup untuk bertahan dan namamu, yang ternyata lebih ringan dari apapun, tapi tidak pernah mau kutinggalkan di bawah."
Aku ingin menemuimu di tempat yang paling indah yang pernah kita bayangkan dan bagiku, tempat itu adalah di mana pun kamu ada.
— Ditulis di ketinggian 2.750 mdpl, dengan angin dingin dan nama seseorang di dalam dada.
