Konten dari Pengguna

Ketika Nenek Penjual Sayur Lebih Berani Bersuara dari Kita Semua

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari M Riyan Aditama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Seorang Nenek Penjual Sayur. Foto oleh ubay klik19 dari Pexels: https://www.pexels.com/id-id/foto/34766475/
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Seorang Nenek Penjual Sayur. Foto oleh ubay klik19 dari Pexels: https://www.pexels.com/id-id/foto/34766475/

Cerpen "Suara dari Jalanan" karya Nadya Nurul Azkiya hadir dengan cara bercerita yang sederhana namun mencolok. Lewat tokoh Arif, seorang mahasiswa semester lima yang turun ke jalan menuntut penurunan harga sembako, pembaca diajak melihat demonstrasi bukan dari sisi heroisme, melainkan dari sisi kemanusiaan yang paling dasar.

Hal ini sejalan dengan pendapat Burhan Nurgiyantoro (2018) yang menegaskan bahwa, cerpen lazimnya hanya berisi satu tema. Tepatnya, ditafsirkan hanya mengandung satu tema. Hal itu berkaitan dengan keadaan plot yang tunggal dan pelaku yang terbatas. Hal itu sejalan dengan adanya plot utama dan sub-subplot yang menampilkan satu konflik utama dan konflik-konflik pendukung (tambahan). Namun, sebagaimana halnya dengan peran sub-subplot terhadap plot utama, tema-tema tambahan tersebut haruslah berfungsi menopang dan berkaitan dengan tema utama untuk mencapai efek kepaduan.

Cerpen ini juga mampu menyajikan totalitas kehidupan bukan hanya cerita, tapi cerminan realita yang hidup dan bernapas. Ia membawa pembaca masuk ke dalam Jakarta yang pengap dan penuh sesak, lalu mempertemukan kita dengan dua manusia yang paling tidak mungkin berdiri berdampingan namun justru di situlah letak kekuatannya.

Di tengah lautan mahasiswa yang berteriak, berspanduk, dan berorasi, justru seorang nenek tua bernama Mbah Marni yang datang dengan langkah tertatih dan kantong plastik berisi sayur menjadi tokoh yang paling membekas.

Di balik setiap berita kenaikan harga, ada wajah nyata yang menanggung bebannya. Wajah itu adalah Mbah Marni, seorang nenek penjual sayur di ujung gang kosan Arif. Menyuarakan keluhan perempuan tua itu dengan kalimat yang terasa sangat dekat dengan keseharian:

"Sekilo cabai rawit, Le, dulu Mbah bisa jual delapan belas ribu.Sekarang belinya saja sudah hampir tiga puluh ribu. Kalau Mbah naikin harga, pembeli kabur. Kalau enggak dinaikin, ya Mbah rugi. Rasanya sudah serba salah."

Dilema itu bukan fiksi. Jutaan pedagang kecil di seluruh Indonesia menghadapi jepitan yang persis sama setiap kali harga komoditas bergejolak. Dan dari jepitan itulah bara Arif menyala, diperbesar oleh suara sahabatnya, Damar, di sekretariat BEM:

"Ini bukan sekadar masalah angka di tabel ekonomi, Rif. Ini soal perut orang banyak. Soal rakyat kecil yang tak bisa bersuara. Kalau bukan kita yang menyuarakan, siapa lagi?"

Yang membuat cerpen ini berbeda dari kisah demonstrasi pada umumnya adalah sebuah adegan yang tak terduga. Di tengah orasi dan dentuman drum, Arif tiba-tiba melihat sosok kecil menerobos kerumunan Mbah Marni, dengan kerudung pudar dan kantong plastik berisi sayur di tangannya. Ketika Arif mencoba mencegahnya karena situasi yang berbahaya, jawaban nenek itu menjadi pukulan paling pelan sekaligus paling menyentuh hati perasaan kita dalam seluruh cerita:

"Tapi Mbah juga rakyat, Le. Mbah juga ingin bersuara. Kalau harga terus begini, Mbah bisa apa? Dagangan sepi, cucu-cucu Mbah makan apa?"

Nadya merangkum momen itu dalam satu kalimat yang menjadi jantung cerpennya:

"Suara itu kecil, tapi menusuk jantung Arif lebih keras daripada teriakan ribuan mahasiswa."

Ketegangan tak bisa dihindari. Gas air mata ditembakkan, massa panik berhamburan. Di tengah kekacauan itulah Arif menemukan makna sesungguhnya dari kata "berjuang". Tapi di tangan ringkih yang tak mau melepas genggaman. Mbah Marni bertahan, dan matanya berair bukan hanya karena gas, tapi juga karena tekad.

Setelah aksi bubar dan keduanya duduk berdampingan di trotoar, Mbah Marni berkata lirih:

"Makasih, Le". Mbah enggak ngerti orasi-orasi itu, tapi Mbah ngerti rasa lapar. Mbah ngerti harga yang bikin orang kecil enggak bisa hidup. Tadi Mbah merasa suara Mbah enggak sia-sia. Meskipun kecil, tapi ada yang mendengar."

Arif, dengan mata memerah, menjawab:

"Mbah, justru suara Mbah yang paling penting. Suara kami hanya gema. Tapi suara Mbah suara rakyat itulah yang sejatinya harus didengar pemerintah."

Malam harinya, Arif menuliskan sesuatu di kamarnya yang pengap, sebuah kalimat yang seolah bukan hanya ditujukan untuk dirinya sendiri:

"Perjuangan adalah ketika seorang nenek penjual sayur berani berjalan ke tengah lautan massa, membawa suara kecil yang lebih besar dari ribuan teriakan."

Itulah yang coba ditawarkan lewat cerpen ini yang pengingat bahwa gerakan sosial yang bermakna bukan diukur dari seberapa lantang suaranya, melainkan dari seberapa jujur ia mewakili mereka yang paling tak berdaya.

Daftar Pustaka

Azkiya, Nadya Nurul. (2025). Suara dari Jalanan. Bandung: Universitas Terbuka.

Nurgiyantoro, Burhan. ( 2018). Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.