Catatan Relawan Indonesia di Tunisia untuk Global Sumud Flotilla

Socio and travel... and part of sumud flotila
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari M rizki fauzi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Global Sumud Flotilla merupakan gabungan dari dua gerakan besar. Pertama, gerakan Sumud Al-Maghribi, yaitu aksi konvoi truk bantuan kemanusiaan yang menempuh jalur darat dari Maroko, Tunisia, Aljazair, Libya, hingga Mesir. Namun sayangnya, gerakan ini tertahan di wilayah utara Kairo oleh pihak intelijen Mesir, bahkan sebelum sampai di perbatasan. Kedua, gerakan Flotilla, yang sejak awal diinisiasi oleh kalangan kiri, termasuk kelompok sekuler, liberal, bahkan komunis. Gerakan ini tidak berasal dari inisiasi gerakan Islam, tetapi justru mampu membangun solidaritas internasional yang cukup kuat—yang dalam hal ini, harus kami akui, lebih masif dari inisiasi kami sendiri.
Dari Indonesia, kami merespons ajakan ini dengan membentuk inisiatif bernama Global Peace Convoy, yang dideklarasikan bersama Ustaz Bahtiar Nasir dan Ustaz Hussein Gaza di daerah AQL. Gagasan awalnya adalah berangkat dari Indonesia menggunakan kapal, menembus jalur Bak El-Mandab di Yaman, dan masuk ke Gaza melalui laut. Namun, tantangan besar muncul, terutama terkait dengan posisi Mesir yang cenderung menghindari konflik langsung dengan Israel.
Di tengah persiapan itu, sebuah undangan datang dari pihak Global Sumud Flotilla di mana terdapat rencana mengadakan pelayaran kemanusiaan terbesar dalam sejarah perjuangan non-kekerasan untuk Palestina. Melalui kerja keras berbagai pihak—terutama oleh Ustaz Hussein Gaza dan Ustaz Bahtiar Nasir—kami berhasil mengajak beberapa lembaga dan jurnalis untuk bergabung.
Kami berangkat pada 29–30 Agustus menuju Tunisia dan dijadwalkan menyambut saudara-saudara kami yang berlayar dari Barcelona pada 4 September. Namun, karena cuaca buruk di Laut Spanyol, kapal-kapal tersebut terpaksa kembali dan jadwal keberangkatan diundur menjadi tanggal 7. Ketika akhirnya tiba, kapal-kapal itu dalam kondisi rusak, sedangkan kapal-kapal yang dibeli Indonesia masih tertahan di Italia dan Yunani karena negara-negara tersebut enggan memberi izin kapalnya untuk digunakan menembus blokade Gaza. Proses administrasi dan perubahan registrasi kapal pun ternyata sangat kompleks dan memakan waktu berbulan-bulan.
Di sisi lain, kami menyadari bahwa panitia lokal di Tunisia tampak kurang siap. Meskipun pemerintah Tunisia terlihat mendukung, pelaksanaan di lapangan tidak menunjukkan koordinasi yang kuat, terutama dari sisi keamanan. Tidak ada pengamanan polisi yang mencolok meski ribuan delegasi asing datang ke kota Tunis—sesuatu yang pasti akan mendapatkan pengamanan penuh jika terjadi di Indonesia.
Hal yang mencurigakan terjadi sekitar tanggal 9–10 September, ketika terjadi ledakan yang diduga berasal dari serangan drone. Saksi mata mengidentifikasi adanya drone yang diluncurkan dari helikopter milik kapal perang AS, USS Lewis B. Puller yang berada di Malta dan mendekati wilayah udara Tunisia. Pemerintah Tunisia menyatakan bahwa insiden itu hanyalah “kesalahan teknis”, tetapi informasi lapangan dan saksi mata menunjukkan sebaliknya.
Ketidakjelasan ini diperparah dengan kondisi kapal yang tidak kunjung siap, bahkan sempat muncul wacana pemindahan titik keberangkatan dari pelabuhan utama di Tunis ke Pelabuhan Bizerte yang memakan waktu sekitar tujuh jam. Hal ini semakin memperkuat dugaan bahwa ada unsur rekayasa atau intervensi untuk menghambat keberangkatan.
Melihat kondisi tersebut, ditambah dengan fakta bahwa banyak peserta dari negara lain datang tanpa kesiapan logistik yang cukup—tanpa uang, tanpa akomodasi yang layak—sementara kota Tunis bukanlah kota yang mudah ditinggali oleh warga asing dalam waktu lama, kami akhirnya memutuskan untuk memberikan kursi dan kuota keberangkatan kami kepada saudara-saudara dari negara lain, khususnya saudara kami dari Eropa.
Hal ini juga didasari oleh pertimbangan bahwa paspor negara-negara Eropa memiliki kekuatan diplomatik yang lebih tinggi, sehingga jika terjadi konflik di lautan, kemungkinan intervensi dari negara mereka akan lebih kuat dibanding Indonesia yang tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel.
Banyak di antara kami merupakan pemimpin lembaga, aktivis, dan influencer yang telah meninggalkan tugas-tugas penting selama lebih dari dua minggu di negara asal. Selama berada di Tunisia, kami melakukan banyak pelatihan terkait dengan keselamatan di atas kapal—bagaimana moment kami di intercept dengan tentara Israel ketika memasuki wilayah Gaza.
Temen-teman Indonesia telah memberikan kursinya kepada delegasi dari Eropa. Kami pun mengetahui bahwa 2/3 delegasi (sekitar 200 dari 500 orang) akhirnya terseleksi dan mengundurkan diri karena sebagian besar orang memberikan kursinya kepada tokoh-tokoh penting, seperti parlemen, senator, dll, yang dianggap bisa memberikan tekanan kepada Israel.
Sebagian relawan merasa sedih dan berat hati jika Indonesia sama sekali tidak terwakili. Wanda Hamidah, misalnya, termasuk di antara orang yang menunggu selama empat hari di pelabuhan untuk melihat dan memastikan apakah ada delegasi yang mengundurkan diri. Namun, hingga berhari-hari menunggu, dia tak kunjung mendapatkan kursi.
Meskipun demikian, Wanda tidak menyerah. Dia langsung menghadap kapten dan mengatakan bahwa dirinya merupakan mantan seorang anggota DPR. Hal itu dia lakukan agar kapten kapal dapat mempertimbangkan dirinya untuk masuk ke dalam kapal. Akhirnya, kapten dengan sigap memasukannya. Dengan masuknya Wanda Hamidah, pada awalnya sebanyak 21 orang hampir dikeluarkan dari kapal. Namun, berkat kebaikan kapten kapal, semua akhirnya tetap berada di dalam kapal.
Di lain sisi, saya pribadi terus menekan Steering Committee agar diberikan satu kursi. Namun, saya bukan seorang "tokoh" yang dipertimbangan oleh para Steering Committee, sehingga keinginan saya untuk berada di dalam kapal dan berlayar bersama kak Wanda Hamidah kandas.
Meskipun hal tersebut menyedihkan, tetapi inilah bentuk pengorbanan yang membuat nama Indonesia begitu harum di sana. Semua memuji sikap bijak indonesia. Tentunya, kapal akan dikawal oleh Husein Gaza sebagai koordinator dan naik ke atas kapal observer yang berisi para Steering Committee untuk memantau seluruh kapal dan mendokumentasikan sesuatu bila terjadi pelanggaran oleh Zionis.
