Konten dari Pengguna

Peran Geosaintis dalam Pencairan Air Bersih di Daerah Vulkanik

Pengukuran dengan menggunakan metode Ground Penetrating Radar (GPR) sebagai upaya penemuan air bersih di Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. Foto: Muhammad Rizqy Septyandy (Dokumentasi Pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Pengukuran dengan menggunakan metode Ground Penetrating Radar (GPR) sebagai upaya penemuan air bersih di Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. Foto: Muhammad Rizqy Septyandy (Dokumentasi Pribadi)

Wilayah Kabupaten Bandung Barat khususnya Kecamatan Cisarua berada di kaki Gunung Tangkuban Perahu. Biasanya daerah dengan kondisi tersebut akan dengan mudah mendapatkan air bersih. Namun hal tersebut tidak terjadi di Asrama Bina Siswa SMA Plus Jawa Barat yang berlokasi di Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. Hal ini diketahui berdasarkan informasi Koordinator Asrama, Bapak Abdul Aziz.

Dalam sehari kami setidaknya harus membeli 20 liter air bersih dari tukang air keliling untuk memenuhi kebutuhan air di asrama ini," keluhnya.

Sebagai upaya memberikan solusi terhadap masalah tersebut, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI) melalui Tim Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) yang diketuai oleh Dr. Tito Latif Indra, S.Si., M.Si. mengadakan survei dan pengukuran metode ground penetrating radar (GPR) di Asrama Bina Siswa SMA Plus Cisarua Jawa Barat.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program pengabdian dan pemberdayaan masyarakat (PPM) yang dilakukan oleh akademisi FMIPA UI untuk membantu masyarakat setempat memperoleh air bersih.

Berdasarkan interpretasi hasil metode GPR oleh tim PPM UI 2020, kami memperoleh zona akuifer air tanah berada di sekitar Asrama Bina Siswa SMA Plus Cisarua berada di kedalaman 15-20 meter. Harapannya setelah mendapatkan hasil ini segera dilakukan pemboran sumur sehingga tidak perlu membeli air bersih lagi untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari warga di sekitar asrama,” ujar Tito menyampaikan hasil survei yang dilakukan timnya.

Pada kesempatan yang sama, Iskandarsyah, M.Si., dosen program studi S1 Geofisika UI mengatakan bahwa Kabupaten Bandung Barat khususnya Kecamatan Cisarua secara geologi tersusun atas litologi batuan vulkanik dan tuf pasiran yang tidak terlalu baik sebagai akuifer air tanah sehingga di beberapa lokasi masyarakat kesulitan memperoleh air bersih. Air hujan yang turun ke permukaan sejatinya akan dapat ditampung di dalam reservoir air tanah namun karena litologi batuan penyusunnya didominasi oleh batuan vulkanik sehingga memungkin air tidak tertampung dan langsung masuk ke lapisan batuan yang lebih dalam.

Ada kemungkinan lapisan akuifer air tanah di Cisarua ini merupakan tipikal air tanah dalam sehingga perlu menggunakan metode geofisika dalam menemukan zona akuifer air tanah,” ujar Iskandarsyah.

Tim PPM Universitas Indonesia melakukan foto bersama dengan koordinator asrama bina siswa SMA plus sebelum melakukan pengukuran metode GPR. Foto: Muhammad Rizqy Septyandy (Dokumentasi Pribadi)

GPR merupakan salah satu metode geofisika yang memanfaatkan gelombang radar (gelombang elektromagnetik (EM) dengan frekuensi 10 – 1000 MHz) ke dalam bumi dalam memetakan kondisi di bawah permukaan. Peristiwa pemetaan tersebut terjadi ketika transmitter GPR memancarkan gelombang EM ke dalam bumi dari permukaan. Metode ini banyak digunakan dalam pencarian zona akuifer air tanah di beberapa negara seperti Jepang, Australia, maupun Maroko. Pelaksanaan survei dan pengukuran metode GPR telah berlangsung pada 9-10 Maret 2021.

Kami berharap dengan kehadiran tim kami di lapangan dapat secara langsung menjawab kebutuhan masyarakat setempat, dan turut menciptakan kehidupan yang semakin layak,” ujar Tito.